Anda Caleg dan Masih Bingung Cara Bersosialisasi di Medsos, Cermati 3 Strategi Ini

Pakar Digital Branding Sumsel, Ebhie Febrian. (ist)

PALEMBANG, fornews.co-Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2019, para kandidat dari calon legislatif (caleg) dari berbagai partai politik (parpol) mulai menghiasi beranda media sosial (medsos).

Bentuk dan desain pola alat peraga berupa gambar foto para caleg untuk bersosialisasi, menunjukkan beragam variasi. Bahkan sebagian dari caleg ada yang mendesain khusus agar berbeda dengan yang lain demi menarik simpati viewer.

Lantas, bagaimana agar semua yang dilakukan para caleg dalam mensosialisasikan diri mereka di medsos bisa tepat sasaran. Nah, dalam perspektif digital marketing terutama branding figur atau tokoh politik, adalah bagaimana memoles figur tersebut menjadi sosok fenomenal, sesuai dengan karakter dan potensi pribadi dari sang caleg.

Menonjolkan karakter, latar belakang dan hal terpenting lainnya, menjadi bagian dari bagaimana melakukan penetrasi besar-besaran di media online maupun di medsos, sehingga pada akhirnya terbentuk persepsi caleg pilihan yang tepat.

Menurut Pakar Digital Branding Sumsel, Ebhie Febrian, ada 3 hal strategi penting untuk melakukan digital branding. Seperti, fokus pada selling point (nilai jual) figur itu sendiri, sesuai dengan karakter dan latar belakang. Kemudian membuat konten visual yang interaktif dan mudah dipahami.

“Selanjutnya, melakukan analisa database dan tracking, sesuai dengan lokasi pemilihan. sehingga kontribusi informasi tepat sasaran, serta melakukan push publisher secara masif di media online dan berbagai plaftorm medsos seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube dan WhatsApp,” ujarnya.

Ebhie menjelaskan, caleg yang berhasil memanfaatkan media online dan medsos, akan memperbesar peluang untuk menang. Karena, secara cost digital marketing justru terbilang jauh lebih hemat, ketimbang memilih metode konvensional dengan menggunakan publikasi di media cetak, pembuatan brosur, poster, baliho, leaflet, CD Profile, dan lain sebagainya.

“Tahun 2013 memang metode konvensional masih banyak digunakan, seiring pesatnya informasi digital peralihan branding memang hampir berubah total. Metode konvensional sebenarnya masih sah-sah saja digunakan, hanya saja secara skalanya mulai berkurang,” jelas Internet Marketing di salah satu perusahaan di Sumsel ini.

Menyoroti peluang atau potensi suara, terang Ebhie, baik pendatang baru maupun incumbent memiliki peluang yang sama besar. Perbedaan yang mencolok, biasanya hanya pada  teknik branding dan publikasi, kekuatan Internet Marketing (media online dan medsos), yang punya pengaruh besar terhadap peluang terpilihnya caleg 2019 mendatang.

“Setiap caleg sebaiknya perlu melakukan branding dengan mengoptimalkan personal website, yang didukung metode SEO (Search Engine Optimazation). Sehingga nama calon mudah ditemukan di google dan berada di urutan teratas. Selain itu, juga perlunya tim analisa digital untuk melakukan tracking seberapa besar informasi dan index publikasi calon,” terangnya.

Caleg juga, tambah Ebhie, harus memahami bahwa media online dan medsos adalah kunci untuk melakukan penetrasi branding yang sangat baik. “Makanya, diperlukan influencer (membagikan informasi seperti selebgram, endorsmen) dan early adopter (komunitas atau tokoh yang mampu menyebarluaskan informasi dan ide) untuk menyebarluaskan informasi ke publik,” tandasnya. (tul)