Budaya Pasung Masih Terjadi di OKU

93
Kepala Dinas Kesehatan OKU, H Suharmasto SKM MEpid.

BATURAJA, fornews.co – Fenomena pemasungan terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, seperti tak terhindarkan di sejumlah daerah di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Hal ini dilakukan dengan dalih agar tidak mengkhawatirkan atau mencelakai warga.

Data Dinas Kesehatan OKU, sebanyak 29 orang yang mengidap gangguan jiwa atau gila (orgil) di Bumi Sebimbing Sekundang, harus dipasung oleh keluarganya. Mereka terdapat di 15 puskesmas yang sebarannya terbanyak di wilayah Puskesmas Desa Ulak Pandan, Kecamatan Semidang Aji.

Kepala Dinas Kesehatan OKU, H Suharmasto SKM MEpid melalui Kasi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa (PTM Keswa) Sutaryo SKM kepada jurnalis mengungkapkan,  pada 2017 lalu warga yang mengidap gangguan jiwa di daerah berjuluk Bumi Sebimbing Sekundang, tersebut ada  313 orang yang tersebar di dua puskesmas.

Dari 313 orang ini lanjut dia,  284 orang mengalami gangguan jiwa ringan dan mereka hanya melakukan pengobatan secara rutin di puskesmas. “Mereka sudah sembuh tapi tetap memakan obat dan mereka mengambil obat sendiri ke Puskesmas di dekat tempat tinggalnya dengan ditemani oleh keluarga,” bebernya.

Sedangkan 29 orang yang merupakan penderita gangguan jiwa berat harus dipasung dan dikurung dalam ruangan oleh keluarga mereka, karena takut mencelaki orang di sekitarnya ermasuk juga keluarga mereka sendiri.

“Sebab mereka ini sering mengamuk, makanya dipasung oleh keluarga dan di kurung dalam ruang khusus,” katanya.

Ia merincikan, dari 29 orang yang mengidap  gangguan jiwa berat ini beber dia, 10 orang diantaranya dipasung sedangkan 19 orang lagi dikurung di dalam ruangan khusus. “Memang selama ini kita susah untuk mencari mereka yang dipasung atau yang dikurung oleh keluarga. Tapi setelah kita membentuk tim dan bekerja sama dengan masyarakat, akhirnya kita dapatkan hasil seperti ini,” terangnya.

Menurut dia, susahnya Dinkes OKU medapatkan informasi selama ini karena pihak keluarga sendiri tidak mau melapor dengan petugas.

“Ya mungklin karena malu atau lainnya, makanya setelah kita terjun ke lapangan dengan sistem jemput bola dan mendapatkan jumlah tersebut di atas yakni 313 orang mengidap gangguan jiwa mulai dari yang ringan hingga yang berat. Bahkan terpaksa ada  yang harus dipasung,” tukasnya. (gus)