Dituduh Antek Asing dan Dinilai Tidak Pro Islam, Ini Jawaban Jokowi

Presiden Jokowi menyalami peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8) pagi. (foto: anggun/humas)

BOGOR, fornews.co-Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengklarifikasi tuduhan yang berkaitan dengan antek aseng, antek asing dan meluruskan penilaian sejumlah kalangan yang menyebutnya tidak pro Islam.

“Antek asing, bagaimana antek asing? Yang namanya Blok Mahakam, yang dulu dimiliki oleh Perancis dan Jepang, 100 persen sekarang kita berikan ke Pertamina,” katanya, saat memberikan sambutan pada Pembukaan Pendidikan Kader Ulama (PKU) XII, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (08/08) pagi.

Presiden Jokowi menegaskan, bahwa Blok Mahakam yang tadinya dikelola oleh Chevron, telah diambil alih pemerintah 100 persen. Selanjutnya, pengelolaannya diberikan kepada BUMN, yaitu PT Pertamina (Persero). Jokowi mencontohkan,  pengelolaan tambang emas PT. Freeport Indonesia di Papua, yang menurutnya sulit sekali. Selama 40 tahun Indonesia hanya diberikan 9,3 persen, dan semuanya diam saja.

“Saya negosiasi, menteri-menteri 3,5 tahun, alot sekali. Jangan dipikir negosisasi seperti itu mudah, sangat alot sekali. Untuk minta, saya sampaikan jangan mundur minta mayoritas 51%. Saya sudah sampaikan, jangan mundur. Ditawar 30%, enggak. Saya sampaikan 51% mayoritas,” tegasnya, seperti dikutip dari setkab.go.id.

Namun, saat sudah tanda tangan yang namanya head of agreement, kesepakatan, Presiden Jokowi mengkritisi suara yang muncul yang dinilainya malah jelek semuanya. “Saya tidak mengerti gimana kita ini sebetulnya. 40 tahun 9% pada diam. Begitu ada kesepakatan head of agreement 51% tidak didukung penuh,” ujarnya, seraya menambahkan, mestinya seluruh rakyat mendukung penuh, hingga nanti betul-betul bisa dikelola bangsa ini.

Selain itu, Jokowi mengaku tidak mengerti dengan isu yang menyebutnya tidak pro Islam. Mengingat dirinya muslim, tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, dan tahu ke mana-mana dengan KH Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat). Bahkan tiap minggu, dirinya masuk ke pondok-pondok pesantren. “Untuk apa?. Saya ingin melihat secara langsung sebetulnya problem kesulitan yang kita hadapi ini apa,” katanya.

Jokowi menerangkan, pemerintah juga telah membuka 40 bank wakaf mikro di pesantren-pesantren. Masing-masing bank wakaf mikro ini, tambah Presiden, juga diberi modal Rp40 miliar. Pemerintah bertekad akan memperbanyak lagi jumlah bank wakaf mikro itu. “Termasuk yang berkaitan dengan kemitraan, misalnya kayak NU kemarin dengan Garuda Food menanam kacang berapa ratus hektar di Jawa Timur,” terangnya.

Kemitraan-kemitraan seperti ini, urai Jokowi, yang akan memperbaiki perekonomian umat. Tanpa pendekatan-pendekatan ekonomi seperti itu, maka jurang (gap) antara yang kaya dan yang miskin akan semakin lebar.

“Inilah upaya-upaya yang harus kita lakukan. Jangan sampai ada suara-suara seperti Jokowi tidak pro-Islam. Nah yang membuat Peraturan Presiden (Perpres) tentang Hari Santri Nasional itu siapa?, masa sudah kayak gitu tidak pro-Islam,” urainya.

Atas dasar itulah, Presiden Jokowi mengajak masyarakat tidak terjebak pada isu-isu politik. Dia menilai, isu-isu itu sebetulnya penyebabnya urusan politik, urusan pilihan bupati, urusan pilihan gubernur, pilihan wali kota, pilihan presiden. “Ini semua dimulai dari situ. Jangan diteruskan. Setop. Itu semua karena pintarnya orang-orang politik mempengaruhi, dan banyak yang terpengaruh,” tandasnya. (tul)