Gabungan Advokat Kritisi Pernyataan Manajemen PT Sriwijaya Optimis Mandiri

Tim Advokasi Masyarakat Sumsel Peduli Sriwijaya FC menggelar press conference mengkritisi pernyataan manajemen PT Sriwijaya Optimis Mandiri mengenai status kepemilikan Sriwijaya FC di Rumah Tamu Cafe and Resto Palembang, Rabu (12/09). (fornews.co/iwan setiawan)

PALEMBANG, fornews.co – Tim Advokasi Masyarakat Sumsel Peduli Sriwijaya FC yang terdiri dari gabungan 25 advokat mengkritisi pernyataan manajemen PT Sriwijaya Optimis Mandiri perihal status kepemilikan Sriwijaya FC baru-baru ini.

Secara garis besar, para advokat ini mempertanyakan status Sriwijaya FC yang diklaim oleh manajemen PT SOM bukan lagi milik Pemprov Sumsel.

“Selama ini Sriwijaya FC ini telah lekat sebagai milik Wong Kito. Sriwijaya FC ini milik masyarakat Sumsel. Lalu muncul pernyataan bahwa SFC bukan milik Pemprov Sumsel,” ujar Ketua Tim Advokasi, Muhammad Arif Gunawan pada press conference di Rumah Tamu Cafe and Resto Palembang, Rabu (12/09).

Menurut Arif, sejak diambil alih Pemprov Sumsel dari Persijatim Solo FC di tahun 2004 silam, publik mengetahui bahwa pembeliannya menggunakan dana APBD yang artinya klub ini milik masyarakat Sumsel.

“Lalu muncul pernyataan bahwa SFC bukan lagi punya Pemprov tapi punya PT SOM. Kalau memang muncul klub ini punya PT, kalau proses secara benar sesuai hukum kami tidak masalah,” tuturnya.

Oleh karenanya, Tim Advokasi Masyarakat Sumsel Peduli Sriwijaya FC menyatakan sikap, pertama, memprotes keras pernyataan bahwa Sriwijaya FC bukan milik Pemprov Sumsel. Sebab 58% saham masih dimiliki Pemprov Sumsel melalui Yayasan Sekolah Sepak Bola. Kedua, mendorong gubernur terpilih Herman Deru bersama DPRD Sumsel membuat Perda menjadikan SFC sebagai BUMD karena kepemilikan saham tersebut sebesar 58% masih dimiliki oleh Pemprov Sumsel melalui Yayasan Sekolah Sepak Bola. Ketiga, Tim Advokasi akan menemui DPRD Sumsel menanyakan persoalan ini karena bagaimanapun juga ada dana yang dikeluarkan oleh Pemprov Sumsel setidaknya waktu pembelian klub ini yang masih bernama Persijatim Solo FC.

“Alasan kami mendorong pembentukan BUMD agar jangan sampai SFC mengganggu APBD. Sebab kalau BUMD malah menghasilkan. Selain untuk promosi Sumsel, dengan BUMD akan lebih jelas pemasukan dan pengeluaran,” tukas Arif. (ije)