Halangi Sensor AQMS, Rumah Limas di Simpang Lima DPRD Harus Dipindah

Air Quality Monitoring System (AQMS) di kawasan Taman Palembang Darussalam Simpang Lima DPRD Sumsel. (ist)

PALEMBANG, fornews.co  – Kabid Pengendalian Pencemaran Pengelolaan Sampah B3 dan Limbah B3,  Dany Fachrial mengatakan, rumah limas di kawasan Taman Palembang Darussalam simpang lima DPRD Jalan Kapten A Rivai, menghalangi kerja sensor Air Quality Monitoring System (AQMS). Untuk itu, rumah adat Palembang tersebut harus dipindah.

Menurut Dany Fachrial, kondisi tersebut membuat sensor pada alat AQMS tidak berfungsi secara baik untuk mendeteksi kualitas udara, karena terhalang rumah dan tanaman di sekitar taman tersebut.

“Sehingga, kami berharap Dinas PU Perkim Kota Palembang dapat memindahkan rumah limas tersebut,” kata Dany Fachrial dibincangi, Kamis (13/9).

Dany melanjutkan, pembangunan taman dan rumah limas tersebut sebelumnya tidak dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) selaku operator alat AQMS. Sedangkan penempatan alat sensor sudah terlebih dahulu dilakukan.

“Lokasi itu dipilih karena banyaknya kendaraan bermotor yang beroperasi di kawasan tersebut. Sementara untuk rumah limas, itu baru-baru ini saja dibangun,” terangnya.

Menurutnya, pemindahan rumah ini tidak bakal terlalu rumit, sebab berjenis knock down. Bisa digeser ke samping atau lebih dekat ke taman, yang pastinya tidak mengganggu kinerja sensor AQMS tersebut.

“Alat deteksi kualitas udara tersebut cukup penting. Dan wajib dimiliki kota-kota besar seperti Palembang. Keberadaannya untuk mengontrol kualitas udara di perkotaan. Sehingga, jika kualitasnya tidak baik langsung diantisipasi. Apalagi  Sumsel ini menjadi kawasan rawan Karhutla. Sehingga alat ini sangat penting untuk mengantisipasi segala kondisi yang buruk,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, Edward Chandra mengatakan, pembangunan taman serta rumah limas yang berada di dekat AQMS bertujuan untuk mempercantik kota Palembang. Di samping itu, pembangunan taman tersebut telah menjadi salah satu destinasi wisata di Palembang.

“Namun di sisi lain, pembangunan rumah telah mengganggu kinerja sensor pendeteksi kualitas udara. Sensor ini penting sebagai pantauan kondisi udara yang ada di Palembang,” tandasnya.(bas)