Hilda – Deedee, Wanita Indonesia Pertama Kibarkan Merah Putih di Puncak Everest

Dua pendaki wanita Indonesia yang tergabung dalam Tim Wissemu Goes to Everest, Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda), mengibarkan bendera Merah Putih, setelah menapakkan kaki mereka di Puncak Everest, Kamis (17/05). (foto ist/instagram @natgeoindonesia)

“Mimpi itu tidak menjadi nyata melalui keajaiban, dia diraih melalui keringat, determinasi, dan kerja keras,”

Penggalan kata dari Collin Powel itu, merupakan suatu gambaran singkat dari keseluruhan rangkaian yang dilalui Ekspedisi Tim Wissemu Goes to Everest.

Ya, disaat begitu banyak kejadian yang membuat Tanah Air seolah goyah, namun di belahan bumi lain, masih orang – orang yang tetap memberikan kontribusi untuk mengharumkan nama bangsa. Dua pendaki wanita Indonesia, Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda), yang tergabung dalam ekspedisi Tim Wissemu Goes to Everest, tanpa diketahui banyak pihak ternyata mampu menapakkan kakinya pada titik tertinggi di dunia tepat pada pukul 05.50 waktu setempat atau pukul 07.05WIB, Kamis (17/05).

Seperti dilansir akun Instagram @natgeoindonesia, perjalanan ekstrim dan penuh tantangan yang dilakukan dua srikandi Indonesia ini, dimulai dari Everest Base Camp (EBC) pada 11 Mei 2018 lalu, lokasi dari titik awal pendakian pada ketinggian 5.150 mdpl.

Selanjutnya, pada tanggal 14 Mei 2018, petualangan Hilda dan Deedee harus berjalan melalui tebing tinggi, yang merupakan punggungan sebelum puncak Everest. Saat itu, pada posisi siang hari, mereka berjalan bersama rombongan dari North Col menuju Camp 1 dengan ketinggian mencapai 7.030 mdpl.

Pendakian mereka bukan tanpa kendala, mereka ditemani hujan salju, yang sangat mengganggu pandangan mata. Dari ketinggian dengan kondisi seperti itu, Hilda dan Deedee hanya bisa melihat pemandangan di depan mata menjadi lebih buram dan hanya tampak putih salju. Otomatis, mereka harus lebih berhati – hati saat melangkahkan kakinya. Apalagi, saat itu suhu menunjukkan angka -9° Celsius. Namun suhu terdingin yang pernah mereka alami adalah sekitar -14° Celsius.

Salah satu pendaki wanita Indonesia yang tergabung dalam Tim Wissemu Goes to Everest, saat berjalan di punggung gunung Everest.(foto ist/instagram @natgeoindonesia)

Nah, setelah melakukan perjalanan sekitar 6 jam, kemudian Tim Wissemu beristirahat di tenda, dengan kondisi angin bertiup lebih kencang di area punggungan gunung tersebut. Pada titik ini, rombongan berkurang menjadi tiga, Guide Naho, memilih menemani dua rekan mereka, pendaki dari negara lain yang dalam kondisi kurang sehat. Jadi, mereka memutuskan untuk kembali ke EBC.

Pada tanggal 15 Mei 2018, Hilda dan Deedee melanjutkan perjalanan menuju ketinggian yang belum pernah mereka lalui sebelumnya dalam aklimatisasi, yaitu menuju Camp 2 pada ketinggian 7.800 mdpl.

“Perempuan Indonesia di puncak dunia untuk persatuan bangsa. Bangkit Indonesia,” ungkap Hilda, melalui telepon satelit sesaat tiba di Advance Base Camp (ABC).

Setelah mereka menempuh perjalanan sekitar 20 jam atau tepatnya pukul 23.30 waktu setempat, dari Camp 3 menuju puncak, lalu dari puncak menuju Camp 3, serta mereka tiba di ABC pada pukul 19.30 waktu Kathmandu, Hilda dan Deedee beristirahat di ABC.(tul/natgeoindonesia)