Peduli Lingkungan, Desainer Indonesia Kampanyekan Melalui High-fashion

39
Desainer Nonita Respati berdiri di samping pakaian yang terbuat dari plastik miliknya saat acara pelelangan di Colony Kemang, Jakarta, Rabu (10/01). Pelelangan yang bertemakan Untuk Indonesia Lebih Hijau tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan sampah plastik di laut indonesia. (foto: Eko Siswono Toyudho/Anadolu Agency)

JAKARTA, fornews.co – Di tangan Nonita Respati, sampah plastik yang tidak enak dipandang bisa menjadi karya high-fashion yang dijual dengan harga tinggi.

Nonita, desainer dengan label pakaian PURANA itu, menjadi satu dari tiga desainer yang melelang sembilan karya mereka Rabu (10/01) malam lalu, di Kemang, Jakarta Selatan. Kesembilan potong pakaian ini terbuat dari bahan bio-plastik yang mudah didaur ulang.

Acara lelang itu digelar oleh produsen bio-plastik asal Indonesia, Avani Eco. Merekalah pelopor pembuatan bahan plastik ramah lingkungan yang berasal dari pati singkong.

Beberapa waktu lalu, video Avani Eco sempat viral di beberapa platform media sosial. Video itu menunjukkan pendirinya, Kevin Kumala, mengaduk sepotong plastik Avani di gelas berisikan air.

Plastik itu tampak perlahan-lahan larut, dan ketika sepenuhnya bersih dari plastik, air itu ditenggak oleh Kevin. Terobosan Avani ini menarik perhatian Nonita, yang memang sudah lama mengkhawatirkan timbunan sampah yang sering dia temukan di mana-mana.

“Saya memang mencoba menggunakan lebih banyak produk-produk yang tidak merusak lingkungan untuk desain pakaian. Manfaatnya, ya lebih sedikit limbah yang dihasilkan,” terang Nonita kepada Anadolu Agency.

Ketika diajak berkolaborasi, Nonita yang mendirikan PURANA pada 2008 silam itu mengatakan langsung tertarik dengan inisiatif Avani. Tantangannya adalah, menggunakan bahan plastik untuk merancang beberapa potong pakaian yang bisa digunakan.

“Sebagai penyelam, saya sangat benci melihat sampah plastik bertebaran di dasar laut. Tapi ini dituntut berpikir, bagaimana cara menjadikan bio-plastik sebagai elemen fashion,” jelasnya.

Bio-plastik yang merupakan bahan teramat halus itu berhasil dijadikan pakaian modis oleh Nonita, setelah proses trial-and-error. Selain Nonita, desainer Kleting Titis Wigati, dengan label KLE juga turut menampilkan keunikan produk fashion yang dibuat dari plastik.

Membawa tiga potong pakaian dengan warna merah menyala, Kleting mengaku menghabiskan lebih dari sebulan untuk menciptakan tiga potong baju plastik itu.

“Detail-detailnya yang banyak memakan waktu. Saya terinspirasi oleh terumbu karang dan keindahan alam bawah laut, khususnya,” ujar Kleting.

Menurut dia, konsumen sekarang tertarik dengan konsep sustainable fashion karena semakin banyak orang yang prihatin dengan kondisi sampah di Indonesia yang dikelola dengan buruk.

Pengelolaan sampah di Indonesia baru-baru ini kembali menjadi sorotan dunia, khususnya setelah pulau Bali mengumumkan keadaan darurat sampah bulan lalu.

Pulau yang menjadi destinasi wisata internasional itu beberapa pantainya menjadi kumuh akibat plastik yang berserakan oleh pengunjung yang tidak membuang sampah mereka di tempatnya.

Acara lelang yang diselenggarakan Avani dan menggandeng desainer-desainer muda Indonesia, itu diharapkan bisa membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan.​ (AA)