BANDUNG, fornews.co – Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi menyerahkan hasil studi kelayakan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit jadi bahan bakar nabati kepada Bupati Muba Dodi Reza Alex, Selasa (17/12).
Ketua Tim Tenaga Ahli Pembangunan Pabrik Industri Palm Oil dan Crude Palm Oil (IPO-CPO) Muba dari ITB, Dr IGBN Makertihartha mengatakan, proses studi kelayakan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati untuk Muba sudah dilakukannya sejak tiga bulan lalu.
“Hari ini secara resmi hasil studi kelayakan atau feasibility study yang telah kami lakukan sejak tiga bulan ini diserahkan ke pak Bupati Dodi Reza. Kemudian para pihak akan mempersiapkan ke tahap pembangunan pabrik,” ujarnya di sela Rapat Koordinasi dan Diskusi Pemaparan Akhir Penyusunan Studi Kelayakan Pembangunan Pabrik IPO-CPO di The Luxton Hotel Bandung, Selasa (17/12).
Menurut Makertiartha, dari hasil studi kelayakan ini realisasi pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati di Muba sudah sangat tepat.
“Pabrik ini menjadi pilot project di Indonesia dalam mewujudkan kemandirian energi dan meningkatkan taraf kesejahteraan warga khususnya petani sawit,” jelas dia.
Menurutnya, langkah Dodi Reza merealisasikan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati juga solusi dalam mengatasi ketergantungan impor BBM. Langkah ini sangat strategis meningkatkan kesejahteraan petani sawit rakyat.
“Ini proyek yang sangat strategis dan sangat memberikan kontribusi besar untuk masyarakat yang juga berdampak hingga ke tingkat nasional,” tuturnya.
Dijelaskan, secara umum apabila realisasi pembangunan pabrik IPO-CPO di Muba berjalan baik diprediksi nilai investasi mencapai USD14 juta.
“Ada beberapa opsi kajian yang telah kami lakukan yakni salah satunya nanti dalam realisasi pembangunan pabrik tersebut nilai investasinya USD14 juta. Semua proses operasional pabrik akan di-handle oleh Pemkab Muba,” bebernya.
Lanjutnya, terdapat 133.557 hektare lahan perkebunan sawit rakyat yang tersebar di 9 kecamatan yang ada di Kabupaten Musi Banyuasin. Hingga tahun 2019, terdapat 12.000 hektare lahan sawit yang sudah berhasil diremajakan. Sedangkan lahan siap panen pada tahun 2020 mendatang seluas 4.446 hektare. Proses peremajaan perkebunan kelapa sawit rakyat tersebut akan terus berlanjut hingga 2024 dengan proyeksi luas lahan hingga 38.674 hektare.
“Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin melihat potensi besar terhadap perkebunan-perkebunan rakyat tersebut. Ini sejalan dengan keinginan petani sawit yang bisa mengolah kelapa sawit hasil panen mereka sendiri,” tuturnya.
Ketua Program Studi (Prodi) S2 dan S3 Teknik Kimia ITB ini juga menambahkan, apabila pembangunan pabrik IPO-CPO di Muba berjalan, tidak hanya dapat mendongkrak perekonomian petani sawit rakyat tetapi juga akan terserap ribuan tenaga kerja untuk operasional pabrik tersebut.
Untuk lokasi, tim studi kelayakan menilai lahan yang paling cocok dan pas untuk operasional pembangunan pabrik IPO-CPO yakni di Kecamatan Sungai Lilin.
Penyerahan hasil studi kelayakan dari ITB ke Bupati Muba ini disaksikan Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian, Musdhalifah Machmud. Ia mengapresiasi upaya dan langkah strategis yang dilakukan Bupati Muba dalam merealisasikan pembangunan pabrik IPO dan CPO di Muba.
“Atas upaya ini prinsipnya Kemenko Perekonomian siap mendukung dan takjub dengan Muba yang selalu terdepan dalam merealisasikan program peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya bagi kalangan petani,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tidak hanya petani sawit, sebelumnya Muba telah berhasil dalam terobosan inovasi pembangunan jalan aspal karet yang berdampak dalam peningkatan kesejahteraan petani karet.
“Selain itu, Muba juga telah menjadi yang pertama di Indonesia dalam realisasi program peremajaan perkebunan kelapa sawit milik petani dan diapresiasi oleh Presiden RI Joko Widodo. Kami berharap daerah-daerah lain juga dapat mencontoh Pemkab Muba dalam upaya-upaya peningkatan kesejahteraan petani,” harapnya.
Bupati Muba Dodi Reza Alex menyebutkan, setelah hasil studi kelayakan ini diserahkan ini dilakukan Pemkab Muba bersama stakeholder akan menindaklanjuti rencana kedepan.
“Target kita tahun 2021 awal pembangunan pabrik selesai dan operasional pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati selesai,” tuturnya.
Kandidat Doktor Universitas Padjajaran ini menambahkan, dengan berjalannya pabrik nantinya akan menjadi realisasi program nasional untuk menekan ketergantungan impor BBM. Kabupaten Muba akan menjadi pilot project dalam merealisasikan energi baru terbarukan.
“Realisasi ini juga selaras dengan visi dan misi Presiden RI Joko Widodo dan di Indonesia dimulai dari Muba,” tegasnya.
Dodi mengungkapkan, dalam perjalanan pembangunan pabrik IPO-CPO terkait pendanaan Pemkab Muba sendiri sangat siap secara mandiri. Namun dirinya akan melibatkan para pihak pemangku kepentingan agar dapat gotong royong mewujudkan pendirian pabrik tersebut.
“Prinsipnya pabrik ini harus terealisasi dan berada di Muba. Pola pendanaan akan dilakukan dengan bersama-sama gotong royong dengan para pihak terkait,” tukasnya.
Pada kesempatan Rapat Koordinasi dan Diskusi Pemaparan Akhir Penyusunan Studi Kelayakan Pembangunan Pabrik IPO-CPO tersebut Bupati Muba turut didampingi Staf Ahli Bidang Pembangunan Badaruzzaman, Plt Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Yudi Herzandi, Kepala Dinas Perkebunan Iskandar, Kepala Bappeda Zulfakar, Kepala DPMPTSP Erdian Syahri, Kepala DLH Andi Wijaya Busro, Plt Kepala Disdag-Perin Azizah, Perwakilan Dinas PUPR Arwin, Kabag Umum Sefrizal, Plt Kabag Humas Yettria, dan Plt Kabag Protokol Rangga Perdana Putera. (ije)

















