JOGJA, fornews.co – Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Daerah Istimewa Jogjakarta periode 2025–2030 resmi dikukuhkan di Kampus Universitas Amikom Jogja, Sabtu, 18 Juli 2026.
Pengukuhan itu menjadi momentum memperkuat peran insan perfilman dalam membangun industri kreatif sekaligus mengangkat potensi pariwisata dan budaya Jogjakarta melalui karya-karya film.
Prosesi pengukuhan dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata DIY, Drs. Imam Pratanadi, MT, berdasarkan hasil Musyawarah Daerah (Musda) PARFI DIY yang digelar pada 2 November 2025 di Puri Artha Jogjakarta.
Dalam sambutannya, Imam Pratanadi menegaskan bahwa PARFI bukan hanya organisasi seni budaya, melainkan organisasi profesi yang berada dalam ekosistem industri perfilman sebagai salah satu subsektor unggulan ekonomi kreatif.
“Di balik sebuah film terdapat rantai ekonomi yang sangat panjang. Ada produser, rumah produksi, aktor, penulis naskah, sutradara, penata artistik, editor, penyedia peralatan, hingga distributor dan platform digital. Industri perfilman bergerak dengan kreativitas termasuk logika bisnis,” ujarnya.
Menurut Imam, keuntungan dalam industri film bukan sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, industri yang sehat akan mampu terus memproduksi karya, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan insan perfilman, dan melahirkan film-film berkualitas.
Ia juga menekankan eratnya hubungan antara perfilman dan sektor pariwisata. Sebuah film yang sukses, kata dia, mampu mengubah sebuah lokasi menjadi destinasi wisata baru karena penonton terdorong mengunjungi tempat yang mereka kenal melalui layar lebar maupun platform digital.
“Jogjakarta memiliki modal yang sangat kuat. Alamnya indah, budayanya hidup, desa wisata, kampung wisata, pantai, pegunungan, kuliner, hingga masyarakatnya yang kreatif. Semua ini layak diangkat melalui karya film,” katanya.
Karena itu, Dinas Pariwisata DIY berharap semakin banyak produksi film menjadikan Jogja sebagai lokasi syuting sekaligus mengangkat kekayaan budaya daerah kepada masyarakat nasional maupun internasional.
Menurut Imam, setiap aktivitas produksi film juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian. Hotel, restoran, transportasi, pelaku UMKM hingga tenaga kerja lokal memperoleh manfaat langsung dari aktivitas tersebut.
Harapan itu sejalan dengan arah pembangunan pariwisata DIY sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah 2026–2045 yang menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar utama pembangunan pariwisata berkualitas, berdaya saing internasional, berkelanjutan, dan tetap berakar pada nilai budaya.
“Kami berharap PARFI mampu memperkuat ekosistem industri perfilman di Jogja, membangun kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, media, dan dunia usaha, sekaligus melahirkan karya yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Wadah Kolaborasi Perfilman
Ketua Panitia Pengukuhan menjelaskan, kepengurusan baru merupakan amanat Musda yang diselenggarakan secara demokratis dengan semangat kebersamaan.
Pengukuhan menjadi langkah awal bagi pengurus periode 2025–2030 untuk menjalankan berbagai program inovatif yang mendukung kemajuan perfilman DIY serta selaras dengan upaya pemerintah memajukan budaya daerah yang bermartabat dan adiluhung.
Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pariwisata DIY yang menjadi pembina organisasi serta Universitas Amikom Jogja yang memfasilitasi pelaksanaan pengukuhan.
Sementara itu, perwakilan pengurus PARFI DIY menegaskan organisasi akan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai komunitas seni, budaya, pendidikan, hingga sektor pariwisata.
“Kami membuka diri kepada seluruh komunitas kreatif untuk bersama-sama membangun perfilman Jogjakarta. Dengan dukungan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, kami ingin PARFI menjadi rumah bersama bagi insan perfilman di DIY,” ujarnya.
Pengalaman Hollywood Jadi Inspirasi
Rektor Universitas Amikom Jogja, Prof. Dr. M. Suyanto, MM, yang turut hadir dalam acara tersebut membagikan pengalaman perjalanannya hingga mampu menembus industri perfilman internasional melalui film animasi Battle of Surabaya.
Ia mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh kegagalan akademik sebelum akhirnya berhasil menjadi profesor dan produser film yang karyanya dikenal di Hollywood.
“Film yang baik selalu lahir dari pengalaman hidup dan menghadirkan nilai kemanusiaan. Semua karya saya berangkat dari semangat memberi manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Menurut Suyanto, pengalaman hidup, termasuk kegagalan, justru dapat menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan karya yang mampu berbicara di tingkat dunia.
Dengan dikukuhkannya kepengurusan baru, PARFI DIY diharapkan mampu memperkuat posisi Jogjakarta tidak hanya sebagai kota budaya dan pariwisata, tetapi juga sebagai pusat produksi film nasional yang didukung ekosistem ekonomi kreatif yang semakin berkembang.
















