
{"id":14191,"date":"2017-11-25T08:37:03","date_gmt":"2017-11-25T01:37:03","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=14191"},"modified":"2017-11-25T21:36:15","modified_gmt":"2017-11-25T14:36:15","slug":"sanggarbambu-gerakan-kesenian-di-tepian-arus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/sanggarbambu-gerakan-kesenian-di-tepian-arus\/","title":{"rendered":"Sanggarbambu Gerakan Kesenian di Tepian Arus"},"content":{"rendered":"<p><strong>YOGYAKARTA, fornews.co<\/strong> &#8211; Satu kalimat singkat, padat, jelas, diucapkan presiden Indonesia pertama Soekarno, terhadap Sanggarbambu karena memilih untuk tidak berpolitik. \u201cApa yang telah dilakukan Sanggarbambu sudah benar!\u201d.<\/p>\n<p>Sanggarbambu lahir ketika arus besar gerakan budaya secara masif dan liar berkesan membuang makna kesenian yang sesungguhnya. Itulah mengapa pameran kali ini yang akan diselenggarakan Galeri R.J. Katamsi di bawah Institut Seni Indonesia, 30 November 2017 dengan melibatkan sekitar 50 karya rupa terdiri dari lukisan, sketsa, karikatur dan keramik yang dibuat sejak awal berdirinya Sanggarbambu, bertajuk \u201cGerakan Kesenian di Tepian Arus\u201d.<\/p>\n<p>Menurut pihak Katamsi, pameran ini memang digagas sebagai bentuk kearsipan dan dokumentasi Sanggarbambu, sehingga bisa dijadikan rujukan riset terhadap kesenirupaan di Indonesia. Perjalanan Sanggarbambu, tidak lepas dari peran masyarakat meskipun hanya sebatas menyaksikan.<\/p>\n<p>Jejak rekam Sanggarbambu, menemui banyak peristiwa meskipun kadang tidak tercatat dan tidak terdokumentasi dengan baik. Padahal sebuah peristiwa sangat penting direkam walaupun dalam bentuk sebuah karya.<\/p>\n<p>Ketua Sanggarbambu, Totok Buchori menyambut baik gagasan dan ajakan R.J. Katamsi dalam upaya mengarsipkan karya-karya seniman Sanggarbambu dalam pameran. Dalam pameran kali ini, meski pihak penyelenggara telah memilih dan memilah karya-karya sekaligus mencatat nama-nama orang Sanggarbambu, tentu yang tercatat itu karena intens terhadap kesenirupaannya.<\/p>\n<p>Barangkali setelah pameran ini terselenggara, tambah Totok, ke depan pihak penyelenggara bisa kembali melakukan hal yang sama dengan konten berbeda. \u201cMisalnya sejarah perjalanan Sanggarbambu dilihat dari teater, sastra dan musik. Tentu ini menjadi semakin menarik,&#8221; ujar Totok, Jumat (24\/11).<\/p>\n<figure id=\"attachment_14194\" aria-describedby=\"caption-attachment-14194\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-14194 size-full\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/11\/4.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"646\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/11\/4.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/11\/4-300x194.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/11\/4-768x496.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/11\/4-696x450.jpg 696w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/11\/4-650x420.jpg 650w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-14194\" class=\"wp-caption-text\">Proses pembuatan patung Gatot Subroto di Yogyakarta oleh Sanggarbambu. Foto koleksi Hardiono\/Sanggarbambu.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Jika belakangan konsep pemerintah Indonesia menekankan kepada rasa Nasionalisme dan Bhineka Tunggal Ika, justru Sanggarbambu telah lebih dahulu mewujudkannya. Ini tidak lepas dari kesadaran seluruh anggota, kerabat dan simpatisan Sanggarbambu berupaya mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cPameran ini sekaligus mendokumentasikan perjalanan panjang Sanggarbambu dalam format yang berbeda,\u201d lanjut Totok, salah satu tokoh kesenirupaan di Indonesia.<\/p>\n<p>Meski kurator membaca Sanggarbambu sebagai kelompok di tepian arus, tetapi banyak tokoh-tokoh kontemporer seni rupa yang muncul dari sana. Menurut Asisten Kurator Kumbo Adiguno, Sanggarbambu merupakan komunitas kesenian yang unik. \u201cDanarto sendiri menjadi eksponen gerakan seni rupa baru,\u201d kata Kumbo.<\/p>\n<p>Selain lukisan karya-karya lama para angkatan pertama Sanggarbambu, juga akan dipamerkan sejumlah foto keramik koleksi dari Museum Keramik dan Seni Rupa Fatahilah. \u201cOrientasi dari pameran ini adalah perjalanan Sanggarbambu satu-satunya sanggar di Indonesia yang masih ada sampai kini sejak 1959,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Dari pantauan fornews.co selain pameran seni rupa, juga akan diseleggarakan diskusi seni pada tanggal 7 Desember 2017 menghadirkan salah satu tokoh pendiri Sanggarbambu, yakni Danarto, Totok Buchori (Ketua Sanggarbambu), Suwarno Wisetrotomo dan Anusapati (Kurator). Terdapat pula workshop topeng kertas yang bakal diadakan tanggal 12 Desember 2017.<\/p>\n<p>Tokoh-tokoh seni rupa Sanggarbambu menjadi catatan penting dalam perjalanan kesenirupaan di Indonesia, sebab telah banyak membawa pengaruh besar terhadap penerusnya.<\/p>\n<p>Ialah Sunarto Pr bersaudara, Danarto, Syahwil, Mulyadi W, Handogo Sukarno, Wardoyo, Hardiyono, Muryoto Hartoyo, Indros, Mh. Iskan, Isnaini MH, Titis Jabarudin, Y Eka Supriyadi, Sitiadiyati Subangun, Sudarisman, Ivan Sagita, Dadang Christanto, Subandi Gianto, Nasirun, Klowor Waljiono, Galuh Taji Malela, dan masih banyak lagi deretan perupa Sanggarbambu tersebar dan mendunia.<\/p>\n<p>Nama-nama tidak asing seperti FX Sutopo, Putu Wijaya, Kirjomulyo, Linus Suryadi AG, Arifin C Noer, dan Ebit G Ade, meski kerja kesenimanannya memilih tidak dalam kesenirupaan, namun keterlibatannya dalam perjalanan panjang bersama Sanggarbambu tidak dilupakan. (adam)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYAKARTA, fornews.co &#8211; Satu kalimat singkat, padat, jelas, diucapkan presiden Indonesia pertama Soekarno, terhadap Sanggarbambu karena memilih untuk tidak berpolitik. \u201cApa yang telah dilakukan Sanggarbambu sudah benar!\u201d. Sanggarbambu lahir ketika arus besar gerakan budaya secara masif dan liar berkesan membuang makna kesenian yang sesungguhnya. Itulah mengapa pameran kali ini yang akan diselenggarakan Galeri R.J. Katamsi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":14193,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[9],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/11\/1.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-3GT","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14191"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14191"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14191\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14206,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14191\/revisions\/14206"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14193"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14191"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14191"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14191"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}