
{"id":14301,"date":"2017-12-01T20:54:44","date_gmt":"2017-12-01T13:54:44","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=14301"},"modified":"2017-12-01T20:59:50","modified_gmt":"2017-12-01T13:59:50","slug":"melihat-penegakan-hukum-negeri-ini-kh-nawawi-dencik-ingat-kisah-sang-guru-tahun-70-an","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/melihat-penegakan-hukum-negeri-ini-kh-nawawi-dencik-ingat-kisah-sang-guru-tahun-70-an\/","title":{"rendered":"Melihat Penegakan Hukum Negeri Ini, KH Nawawi Dencik Ingat Kisah Sang Guru Tahun 70-an"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, fornews.co<\/strong> &#8211; Melihat penegakan hukum di negeri ini, KH Kgs Ahmad Nawawi Dencik Al Hafidz mengingat sebuah kisah yang disampaikan sang guru Kiai Habib Ali Al Kaaf, di tahun 70-an.<\/p>\n<p>\u201cMelihat kondisi penegakan hukum seperti sekarang, saya jadi teringat kata Kiai Habib Ali Al Kaaf. Kata-kata beliau saya dengar tahun 70-an. Katanya, suatu ketika nanti negeri ini akan menjadi negeri kodok,\u201d ujarnya, saat memberi ceramah di Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Badar Palembang, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H, Rabu (29\/11).<\/p>\n<p>Dalam kisah tersebut, KH Nawawi mengulas setiap malam ada seekor ular yang selalu memakan warga kodok. Sadar warganya setiap hari hilang, warga kodok kemudian melakukan istighosah. Dalam doanya, warga kodok memohon kepada Tuhan agar ada di antara warganya bisa menjadi ular. Harapan mereka, dengan hadirnya ular yang mereka ciptakan, akan melawan ular si pemakan warganya.<\/p>\n<p>Alhasil, salah satu kodok menjelma menjadi ular. Dalam dua bulan, suasana warga kodok aman. Tidak ada yang hilang. Tetapi memasuki bulan ketiga, kegaduhan kembali terjadi. Warga kodok kembali kehilangan warganya. \u201cKali itu, tidak lagi satu ekor, tetapi justeru dua ekor dalam setiap malam,\u201d kisah KH Nawawi.<\/p>\n<p>Usut punya usut, ternyata ular pemakan kodok, mengejek ular jelmaan kodok. \u201cKau sudah tiga bulan tidak makan, kito samo-samo lapar, cak mano kalu kito makan samo-samo bae,\u201d selorohnya dengan bahas Palembang.<\/p>\n<p>Ternyata, ular jelmaan dari kodok dan ular asli sudah melakukan kompromi, hingga akhirnya, kodok jelmaan ikut juga memakan warga kodok. \u201cUlar jelmaan kodok yang seharusnya menjaga keamanan warganya, ternyata bersekongkol dengan ular asli dan ikut makan kodok juga,\u201d urainya.<\/p>\n<p>Kisah yang diceritakan KH Nawawi, seiring dengan kenyataan yang terjadi di negeri ini. Aparat keamanan, pejabat negara yang seharusnya ikut menjaga aset negara, tetapi ada saja oknum yang akhirnya terjerumus dan ikut melakukan pelanggaran hukum.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana mungkin hukum dan kebenaran akan ditegakkan kalau ternyata penegak kebenaran juga ikut melanggar, ini sama juga seperti kisah negeri kodok tadi,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, KH Nawawi mengatakan, menghadapi persoalan bangsa yang kian maju, kalangan muda harus dibekali agama, terutama harus pandai membaca Al-quran. Meskipun belum hafal, tetapi bila membiasakan membaca Al-quran paling tidak kesuciannya akan terjaga. \u201cSebab, setiap kali akan membaca Al-quran sudah pasti selalu diawali dengan berwudlu terlebih dahulu, sehingga akan terjaga kesucian fisiknya,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Pada acara itu, dihadiri sejumlah jajaran pengurus Yayasan Al Badar Palembang Darussalaam, diantaranya KH Ahmad Idris Kailani, para ketua Rumah Tahfidz di Palembang, jajaran Pondok Pesantren Al-Fath Palembang, para ustadz\/dzah dan undangan lainnya, seperti Polsek Kemuning, Danramil Palembang dan ratusan santri lainnya. (*\/ibr)<br \/>\n<!--Clip_XXXX_171201_204752_238--><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, fornews.co &#8211; Melihat penegakan hukum di negeri ini, KH Kgs Ahmad Nawawi Dencik Al Hafidz mengingat sebuah kisah yang disampaikan sang guru Kiai Habib Ali Al Kaaf, di tahun 70-an. \u201cMelihat kondisi penegakan hukum seperti sekarang, saya jadi teringat kata Kiai Habib Ali Al Kaaf. Kata-kata beliau saya dengar tahun 70-an. Katanya, suatu ketika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":14302,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[16],"tags":[9,69,97],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/12\/received_1556345554433574.jpeg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-3IF","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14301"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14301"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14301\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14304,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14301\/revisions\/14304"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14302"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14301"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14301"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14301"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}