
{"id":15405,"date":"2017-12-28T18:44:08","date_gmt":"2017-12-28T11:44:08","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=15405"},"modified":"2017-12-28T18:44:08","modified_gmt":"2017-12-28T11:44:08","slug":"defisit-traksaksi-berjalan-masih-akan-terjadi-hingga-2022","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/defisit-traksaksi-berjalan-masih-akan-terjadi-hingga-2022\/","title":{"rendered":"Defisit Traksaksi Berjalan Masih Akan Terjadi Hingga 2022"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, fornews.co<\/strong> &#8211; Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, Indonesia masih akan terus mengalami defisit transaksi berjalan setidaknya hingga 2022.<\/p>\n<p>Guna menghadapi kondisi tersebut, BI terus berupaya menekan dan menjaga defisit neraca transaksi berjalan (current account defisit\/CAD) hingga di bawah 2% dari PDB. \u201cPada tahun 2018 diperkirakan defisitnya di kisaran 2-2,5% dari PDB,\u201d ujar Agus, yang dilansir Anadolu Agency, Kamis (28\/12).<\/p>\n<p>Menurutnya, memang akan terjadi fluktuasi besaran defisit, namun dia\u00a0memperkirakan sampai 2022 jumlah defisit tidak akan lebih dari 2%. Pada triwulan III tahun ini, defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar 1,65% dari PDB atau USD4,3 miliar.<\/p>\n<p>Defisit transaksi berjalan berangsur membaik seiring dengan meningkatnya ekspor Indonesia, dan surplus neraca perdagangan yang hingga November tercatat sebesar USD12,02 miliar. Surplus dagang Indonesia tahun ini lebih besar dari periode yang sama tahun lalu (YoY) sebesar USD8,48 miliar.<\/p>\n<p>\u201cPada tahun 2014, defisit transaksi berjalan pernah mencapai 4,26%,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, transaksi berjalan Indonesia berpotensi surplus selama tetap konsisten menjalankan reformasi struktural di berbagai bidang.<\/p>\n<p>Pengendalian CAD di level 2% menurut dia disebabkan oleh ekspor komoditas yang harganya sedang membaik. Oleh karena itu, Indonesia perlu melakukan kombinasi ekspor dan tidak terus menerus mengandalkan komoditas saja.<\/p>\n<p>\u201cEkspor jasa kita juga terus tumbuh, seperti pariwisata hingga USD11-12 miliar,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Akan tetapi, surplus dari sektor pariwisata hanya sekitar USD3-4 miliar karena jumlah wisatawan Indonesia, yang ke luar negeri juga sangat banyak. \u201cSektor ini harus terus digenjot,\u201d tegas Mirza.<\/p>\n<p>Dalam komponen CAD, terdapat defisit sektor jasa sebesar USD7-8 miliar yang harus dibayarkan untuk berbagai pelayanan di luar negeri seperti asuransi dan pengiriman barang. Selain itu, juga terdapat deviden yang harus dibayarkan kepada investor asing pada akhir tahun.<\/p>\n<p>\u201cFDI [Foriegn Direct Investment] kita harus diusahakan berorientasi ekspor sehingga bisa menghasilkan devisa dan devidennya bisa digunakan untuk investasi kembali,\u201d urai Mirza.<\/p>\n<p>BI, menurut Mirza, telah berupaya menjaga laju inflasi dan juga CAD dengan cara menurunkan suku bunga. Tercatat,\u00a0sejak 2016 hingga 2017, BI telah delapan kali menurunkan suku bunga. Sementara The Fed, bank sentral AS, justru telah berkali-kali menaikkan suku bunga.<\/p>\n<p>\u201cKombinasi BI dan pemerintah telah mengembalikan inflasi ke level 3% setelah sempat mengalami inflasi 8,38% di 2013,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Dari situ lanjut Mirza, laju inflasi harus terus dijaga pada level terendah yang diikuti dengan pengendalian CAD sehingga stabilitas ekonomi bisa terjaga. (AA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, fornews.co &#8211; Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, Indonesia masih akan terus mengalami defisit transaksi berjalan setidaknya hingga 2022. Guna menghadapi kondisi tersebut, BI terus berupaya menekan dan menjaga defisit neraca transaksi berjalan (current account defisit\/CAD) hingga di bawah 2% dari PDB. \u201cPada tahun 2018 diperkirakan defisitnya di kisaran 2-2,5% dari PDB,\u201d ujar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":15412,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[48],"tags":[9],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2017\/12\/BI.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-40t","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15405"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15405"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15405\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15413,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15405\/revisions\/15413"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15412"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15405"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15405"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15405"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}