
{"id":15852,"date":"2018-01-06T10:51:35","date_gmt":"2018-01-06T03:51:35","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=15852"},"modified":"2018-01-06T12:22:08","modified_gmt":"2018-01-06T05:22:08","slug":"akulturasi-budaya-dan-agama-di-daratan-sungai-musi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/akulturasi-budaya-dan-agama-di-daratan-sungai-musi\/","title":{"rendered":"Akulturasi Budaya dan Agama di Daratan Sungai Musi"},"content":{"rendered":"<p><strong>Museum<\/strong> Sultan Mahmud Baharudin II (SMB) II, tampak berdiri kokoh menatap sungai Musi yang jaraknya hanya kurang lebih 100 meter dari bibir sungai yang membelah ibu kota Sumatera Selatan (Sumsel), tersebut.<\/p>\n<p>Bangunan megah berlapis cat warna putih yang berarsitektur eropa tersebut, merupakan peninggalan kolonial Belanda. Di masa penjajahan negeri kincir angin (Belanda), bangunan berukuran panjang 32 meter, lebar 22 meter dan tinggi 17 meter ini, merupakan rumah dinas Residen Belanda di Palembang, yang didirikan pada 1823 hingga 1825.<\/p>\n<p>Kabid Cagar Budaya dan Permuseuman Kota Palembang, Abdul Gani Kamis (04\/01) menjelaskan, Museum SMB II merupakan salah satu aset cagar budaya yang merupakan akulturasi dari budaya dan agama yang ada sejak lama. &#8220;Museum terdapat tujuh ruang yang berisiskan 212 penemuan. Arkeologi, etnografi, seni rupa, numistik, biologi, keramik yang tertata rapi dan terawat,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil penelitian dari Tim Arkeologi Nasional tahun 1988, pada lokasi ditemukan fondasi batu bata dari bangunan Kuto Lamo, di atas tumpukan balok-balok kayu yang terbakar. Menurut catatan, bangunan Benteng Kuto Lamo di masa Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo, 1724-1758) yang resmi ditempati pada hari Senin, 29 September 1737.<\/p>\n<p>Benteng Kuto Lamo yang sering juga di sebut Kuto Tengkuruk atau Kuto Batu, merupakan benteng yang bagian dalamnya pernah berdiri\u00a0Istana\u00a0Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikromo atau Sultan Mahmud Badaruddin I.<\/p>\n<p>Pada era kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, tahun\u00a01821\u00a0istana\u00a0ini mendapat serangan dari Pemerintah Hindia Belanda. Setelah SMB II dan keluarganya berhasil ditangkap Belanda, istana\u00a0tersebut dikuasai\u00a0Belanda.<\/p>\n<p>Kemudian 7 Oktober 1823 atas perintah Reguring Commissaris\u00a0Belanda, J. L. Van Seven Hoven,\u00a0istana\u00a0tersebut dihancurkan untuk menghilangkan monumental Kesultanan Palembang. Diharapkan kesan monumental dari ikatan emosional antara pemimpin yang diasingkan dengan rakyatnya terputus.<\/p>\n<p>Atas pendudukan Kuta Besak dan penghancuran Kuta Lama, maka konsentrasi kota berada di wilayah ini. Pasar dan kantor-kantor berdiri di lingkungan Kuta Besak, bahkan perahu-perahu pun menjadikannya tempat berlabuh yang ideal.<\/p>\n<p>Seiring berjalannya waktu dan dinamika sejarah yang terjadi di Kota Palembang, fungsi bangunan ini telah silih berganti, mulai markas jepang pada masa pendudukan, Teritorial II Kodam Sriwijaya di awal kemerdekaan, beralih pengelola ke Pemkot Palembang, sampai akhirnya menjadi Museum.<\/p>\n<figure id=\"attachment_15854\" aria-describedby=\"caption-attachment-15854\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-15854 size-large\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-80x60.jpg 80w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-265x198.jpg 265w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-696x522.jpg 696w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-1068x801.jpg 1068w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50-560x420.jpg 560w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/2018-01-04-14.19.50.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-15854\" class=\"wp-caption-text\">Kabid Cagar Budaya dan Permuseuman Kota Palembang, Abdul Gani. (foto: menik khotimah\/fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Kurang Diminati<\/strong><\/p>\n<p>Abisofyan pemandu Museum SMB II Palembang menuturkan, minat masyarakat untuk berkunjung ke museum terbilang rendah. Padahal menurutnya, museum merupakan tempat yang tepat untuk menggali dan mengenal peradaban masa lampau.<\/p>\n<p>&#8220;Museum merupakan tempat pendidikan sejarah non formal. Bukti fisik sejarah dapat ditemui di sana. Berbeda dengan pendidikan formal, mengenal sejarah melalui buku hasil analisis dari museum (salah satunya),&#8221; kata Abisofyan kepada fornews.co beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Ia menyebutkan, di tahun 2017 jumlah kunjungan wisatawan lokal maupun manca negara mencapai 2.000 orang. Diakui, setengah dari angka tersebut merupakan pelajar dan mahasiswa. Uniknya, kekaguman terhadap keunikan dari peninggalan bersejarah di museum lebihlah pada sebagai latar untuk berfoto.<\/p>\n<p>Abisofyan juga menceritakan rencana pemerintah untuk merubah konsep, dengan membuka ruang bawah yang selama ini hanya tertutup rapat. Semua benda bersejarah akan diletakan di bangunan bawah. Pengunjung juga diberikan buku panduan yang mengulas sejarah kesultanan Palembang dan kerajaan Sriwijaya.<\/p>\n<p>&#8220;Untuk bagian atas, nantinya didesain sebagaimana rumah pada umumnya. Harapannya agar masyarakat lebih tertarik, dan merasa nyaman ketika berkunjung ke museum,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p>Di sini Abdul Gani menaruh harapan kepada generasi muda, khususnya warga Kota Palembang, agar kirananya mengenali dan mencintai budaya. Untuk bisa mengenali dan mencintai, menurutnya haruslah mencari dan mendatangi lokasi menyimpan atau tempat bersejarah salah satunya museum. (Menik Khotimah)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Museum Sultan Mahmud Baharudin II (SMB) II, tampak berdiri kokoh menatap sungai Musi yang jaraknya hanya kurang lebih 100 meter dari bibir sungai yang membelah ibu kota Sumatera Selatan (Sumsel), tersebut. Bangunan megah berlapis cat warna putih yang berarsitektur eropa tersebut, merupakan peninggalan kolonial Belanda. Di masa penjajahan negeri kincir angin (Belanda), bangunan berukuran panjang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":15853,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[9,69,97],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/20170106_112659-696x392.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-47G","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15852"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15852"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15852\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15856,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15852\/revisions\/15856"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15853"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15852"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15852"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15852"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}