
{"id":16336,"date":"2018-01-14T08:44:31","date_gmt":"2018-01-14T01:44:31","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=16336"},"modified":"2018-01-29T19:28:48","modified_gmt":"2018-01-29T12:28:48","slug":"semalam-di-kota-pesta-pattaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/semalam-di-kota-pesta-pattaya\/","title":{"rendered":"Semalam di Kota Pesta Pattaya"},"content":{"rendered":"<p>Oleh \u00a0Arif Ardiansyah<\/p>\n<p>Setelah lebih kurang tiga jam perjalanan Bangkok ke Pattaya bus\u00a0 yang membawa kami merapat juga ke Pattaya menjelang malam. Lampu-lampu mulai dihidupkan untuk menyambut tamu malam karena banyaknya hiburan malam di sepanjang Pantai Pattaya.<\/p>\n<p>Tidak heran \u00a0Pattaya yang jaraknya sekitar \u00a0115 kilometer dari Bangkok, Ibu kota Thailand disebut sebagai kota pesta dan setiap malam Pattaya adalah malam minggu.<\/p>\n<p>Tahun 1960 Pattaya hanya sebuah kampung nelayan kecil,\u00a0 namun daerah ini berkembang setelah tentara Amerika saat perang di Vietnam singgah untuk menunggu jemputan. Sejak itu Pattaya ramai dikunjungi wisatawan asing.<\/p>\n<p>&#8220;Jumlah tentara itu sampai ratusan mareka istirahat setelah\u00a0 perang dan menunggu jemputan untuk pulang ke negaranya,&#8221; kata Pak Cit, salah satu pamandu turis di Pattaya. Saat ini saja,kata Pak Cit tidak kurang dari \u00a0700 bus wisata asing setiap harinya masuk Pattaya,\u00a0 bayangkan betapa padatnya daerah ini.<\/p>\n<p>Pesta di mulai malam hari,\u00a0 saat lampu warna-warni bersaut-sautan dengan dentuman musik yang berirama cepat di bar-bar sepanjang <em>walking street <\/em>ada pula bar yang menyajikan live musik. Semakin malam, pesta makin seru di sisi kiri kanan jalan wanita-wanita berwajah Asia berbaju singkat dan seksi tampak berdiri seperti ada yang ditunggu. Sesekali mereka mengoda turis asing yang lalu lalang ada juga \u00a0 ngobrol dengan sejumlah pelanggan.<\/p>\n<p>Di jalan ini transaksi begitu terbuka jika suka pada salah satu dari mereka langsung negosiasi harga ditempat tanpa perantara. Para wanita muda ini terbagi dua ada yang memang wanita asli ada yang bukan disebut <em>koenthay<\/em> atau waria. Keduanya membaur dan sulit untuk dibedakan kecuali mencoba baru ketahuan.<\/p>\n<p>Biasanya mereka berdiri di depan bar atau cafe yang banyak dikunjungi para turis dengan harapan bisa mendapatkan pelanggan dari bar atau caf\u00e9 tersebut.\u00a0 Atau mereka bergerombol di beberapa titik seperti di jembatan dan \u00a0tugu di sepanjang pantai Pattaya.<\/p>\n<p>Mungkin ini pula yang membedakan Pattaya dengan lokasi wisata lainnya di dunia.\u00a0 Tidak heran jika banyak tulisan traveler\u00a0 yang menyebutkan Pattaya tempatnya wisata untuk kaum laki-laki dengan istilah <em>no money no honey.\u00a0<\/em>Tidak peduli Laki-laki itu jelek, pendek,gemuk dipastikan dia dapat pasangan asal ada <em>bath.<\/em><\/p>\n<p>Tidak hanya disepanjang pantai,\u00a0 beberapa bar di gang-gang sempit Pattaya juga menawarkan\u00a0 sejumlah atraksi hot untuk memuaskan naluri hidung belang di Pattaya. Bar yang menyediakan layanan atraksi hot itu terlihat dari gambar yang terpajang di pintu masuk bar.<\/p>\n<p>Pukul satu dini hari,\u00a0 kaki sudah lelah melangkah di sepanjang jalan menuju banner tulisan <em>Pattaya City<\/em>,\u00a0 sejumlah wanita muda masih berjejer di <em>walking street<\/em> asik bercanda dengan teman lainnya.<\/p>\n<p>Belum juga ada yang memboking mereka,\u00a0 sepertinya malam ini persaingan untuk mendapat pelanggan cukup ketat.\u00a0 Sementara, dipantai sejumlah pasangan terlihat asik berpelukan sambil menikmati deburan ombak.\u00a0 Kian larut Pattaya makin mengila. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh \u00a0Arif Ardiansyah Setelah lebih kurang tiga jam perjalanan Bangkok ke Pattaya bus\u00a0 yang membawa kami merapat juga ke Pattaya menjelang malam. Lampu-lampu mulai dihidupkan untuk menyambut tamu malam karena banyaknya hiburan malam di sepanjang Pantai Pattaya. Tidak heran \u00a0Pattaya yang jaraknya sekitar \u00a0115 kilometer dari Bangkok, Ibu kota Thailand disebut sebagai kota pesta dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":16337,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[638],"tags":[9],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/01\/laki.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-4fu","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16336"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16336"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16336\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17166,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16336\/revisions\/17166"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16337"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16336"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16336"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16336"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}