
{"id":19201,"date":"2018-03-16T23:25:24","date_gmt":"2018-03-16T16:25:24","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=19201"},"modified":"2018-05-01T13:49:32","modified_gmt":"2018-05-01T06:49:32","slug":"jejak-arsitektur-warisan-nenek-moyang-rumah-ulu-yang-kian-langka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/jejak-arsitektur-warisan-nenek-moyang-rumah-ulu-yang-kian-langka\/","title":{"rendered":"Jejak Arsitektur Warisan Nenek Moyang &#8220;Rumah Ulu&#8221; yang Kian Langka"},"content":{"rendered":"<p><strong>Penulis : Bagus Mihargo<\/strong><\/p>\n<p><strong>Rumah Ulu<\/strong> atau bangunan tempat tinggal dari daerah \u201culuan\u201d atau pedesaan di Sumatera Selatan (Sumsel), tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), merupakan warisan nenek moyang dengan arsitektur tradisional (bangunan bentuk struktur, fungsi, ragam hias, dan cara pembuatannya, diwariskan secara turun-temurun).<\/p>\n<p>Rumah tersebut pertama kali dibangun, atapnya memakai atap ijuk. Pada waktu itu bubungannya ada dua buah, yaitu pada bagian depan dan bagian belakang. Pada bubungan bagian depan terpasang ragam hias \u201ctanduk rusa\u201d yang menandakan bahwa pemiliknya pakai adukan (mempunyai marga). Dapurnya dibuat secara terpisah di belakang rumah yang dihubungkan dengan jembatan kecil.<\/p>\n<p>Sebagaimana rumah-rumah yang Iain di daerah uluan, rumah tersebut dibangun dengan cara gotong-royong baik dengan keluarga maupun dengan tetangga, baik dalam hal pengumpulan bahan maupun dalam hal pembangunannya. Sedangkan pengukirnya adalah pemiliknya sendiri. Sayang sekali keahlian mengukimya tidak diturunkan kepada generasi berikutnya.<\/p>\n<p>Kemudian, pada generasi kedua, ada bagian rumah yang mengalami perubahan. Atap yang dahulunya terbuat dari ijuk diganti dengan genteng. Sedangkan bubungannya diubah (dijadikan satu). Dapur dihilangkan dan sebagai penggantinya dibuat dapur di dalam rumah, satu ruangan dengan ruang makan. Pada sebelah luar dekat dapur dibuat tundan (tempat mencuci piring dan lain-lain).<\/p>\n<p>Rumah ulu\u00a0pada umumnya dibuat di atas tiang (rumah panggung), yaitu sebagai pengaman untuk menjamin keselamatan penghuninya agar tidak diganggu oleh binatang buas dan banjir.<\/p>\n<p>Hamzuri (1978 :1) mengungkapkan, \u201cKehadiran rumah sebagai harta kekayaan, menuntut pula agar bahan-bahan yang digunakan terbuat dari kayu yang menurut pemahaman mereka adalah baik. Salah satu yang umum adalah bentuk rumah panggung, ini dikarenakan keadaan alam dengan banyaknya sungai-sungai dan hutan-hutan yang lebat. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari ganguan binatang dan banjir\u201d.<\/p>\n<p>Sekilas bentuk rumah ulu menunjukkan kesamaan, yang membedakan hanyalah besar kecilnya. Namun, bila dicermati lebih detail, ada beberapa perbedaan.<\/p>\n<p>Ada dua prinsip dalam membangun rumah ulu yang dipakai dan ditaati oleh warganya pada waktu itu yaitu\u00a0rumah siapa\u00a0dan\u00a0rumah untuk apa. Rumah untuk apa maksudnya adalah rumah tersebut akan digunakan untuk rumah tinggal, rumah tumpangan (penginapan) atau yang lain.<\/p>\n<p>Sedangkan rumah siapa maksudnya siapa yang akan menghuni rumah itu, keturunan apa, mempunyai gelar atau tidak dan sebagainya. Itu berarti bahwa status sosial tenyata mempengaruhi bentuk tempat tinggal.<\/p>\n<p>Semakin ke sini, modernisasi yang sudah merasuki masyarakat hingga ke pelosok tanpa terkecuali di Bumi Sebimbing Sekundang, keberadaan rumah ulu sudah semakin langka. Bahkan informasi yang dihimpun fornews.co, setidaknya rumah ulu di OKU, tersisah tidak lebih dari 10 rumah, itupun hanya ada beberapa rumah yang bentuk bangunannya masih menjaga keasliannya.<\/p>\n<p>Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) OKU, H Imron Husni ST MM menceritakan, kebanyakan rumah ulu yang ada di OKU, dibangun antara 1830-1840, dimana saat itu rumah tersebut dihuni oleh pangeran atau Pesirah.<\/p>\n<p>Menurutnya, salah satu kekhasan dari rumah ulu, yakni pet rumah atau bagi warga setempat mengenalnya dengan sebutan pelesungan (alat menumbuk pagi\/beras terbuat dari balok kayu yang dilubangi secara memanjang di sisi atas).<\/p>\n<p>&#8220;Pelesungan ini terletak di depan rumah yang bertujuan untuk tempat muda-mudi melakukan ritual Nutok Khebok (numbuk tepung beras), jika di rumah tersebut akan mengadakan pesta pernikahan,&#8221; terang Imron, kepada fornews.co, Jumat (16\/03\/2018).<\/p>\n<p>Lanjut Imron, pelesungan sendiri dihiasi penyanggah yang dinamakan masyarakat dengan namanya tiang bengkilas. Tiang ini sendiri hitungannya harus ganjil belum jelas informasi apa makna pemasangan tiang harus ganjil tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Kami (Disbudpar) masih menggali informasi terkait tiang bengkilas yang harus ganjil itu,&#8221; kata Imron.<\/p>\n<p>Dari tata letak tangga rumah ulu sendiri dibuat posisi menyamping dari arah tengah rumah. Karena pintu masuk rumah ulu sendiri berada di samping, pembuatan tanggapan harus angka genap dengan perhitungan yaitu, tangga, tunggu, tingkah laku, tangga kembali.<\/p>\n<figure id=\"attachment_19150\" aria-describedby=\"caption-attachment-19150\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-19150 size-large\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-80x60.jpg 80w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-265x198.jpg 265w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-696x522.jpg 696w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-1068x801.jpg 1068w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060-560x420.jpg 560w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180315-WA0060.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19150\" class=\"wp-caption-text\">Salah satu Rumah Ulu atau rumah tardisional masyarakat Kabupaten OKU. (ist)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Berdasarkan kepercayaan orang terdahulu, kenapa harus genap penghitunganya, tangga tersebut jika ujung tangga bertepatan dengan tunggu maka penghuni rumah tersebut tidak ada pekerjaan lain selain menunggu.<\/p>\n<p>&#8220;Bekitupun dengan urutan tingkah laku, pemilik rumah tingkah lakunya sering aneh-aneh, jika ujung tangga genap maka tangga tersebut hanya digunakan untuk perlaluan saja,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Dalam bentuk aslinya, rumah ulu umumnya dilengkapi teras panjang hingga ke bagian belakang rumah yang di tengah-tengahnya dibuat pintu masuk. Teras itu sendiri disebut warga dengan &#8220;longgalongan&#8221; yang berfungsi untuk bersantai atau canda gurau, serta untuk menjamu tamu yang mampir untuk sekedar ngobrol dengan pemilik rumah.<\/p>\n<p>Berkenaan dengan bahan baku (kayu) pembuatan rumah ulu, juga diambil dari kayu dengan kualitas baik seperti, kayu tenam dan kayu merbau (jenis kayu yang sudah langka bahkan dibilang sudah tidak ada lagi).<\/p>\n<p>&#8220;Uniknya dari rumah ulu ini, pembangunannya menggunakan sistem knock down atau sistem pasak sehingga tidak memggunakan paku sama sekali. Sistem pembangunan seperti ini setelah diteliti di Jepang, ternyata bangunan anti gempa,&#8221; bebernya.<\/p>\n<p>Di bagian dalam sendiri, terdapat pagu (plafon) dengan ruang besar (antara genteng dan plafon). Bahkan ada tempat tidur di dalam pagu tersebut yang berfungsi sebagai tempat perlindungan (pada zaman penjajah) juga dipergunakan tempat penyimpanan barang (tidak digunakan lagi).<\/p>\n<p>&#8220;Untuk tiangnya sendiri rumah ulu harus menggunakan kayu gehunggang, kayu besar di tengahnya berlubang dengan ditopang tiga batu besar sehingga kuat untuk menyanggah rumah ulu,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Yang tak luput dari rumah ulu kata Imron, seni ukir berupa gabungan antara bunga matahari, daun kangkung, dan rebung (bambu muda). Kesemuanya (ukiran) itu melambangkan matahari sebagai sifat yang konsisten, rebung bermanfaat dalam kondisi apapun serta kangkung bisa bertahan hidup di mana saja.<\/p>\n<p>Untuk membangun rumah ulu pun harus ada ritual khusus, seperti menyembelih persembahan (ayam, kambing, kerbau) yang kemudian kepalanya ditanam di pindai rumah. Kemudian di tiang atas disiapkan sesajen seperti pisang, kelapa, kendi berisi air serta ranting pohon beringin.<\/p>\n<p>Berikut sedikit gambaran tentang\u00a0rumah ulu salah seorang keturunan pangeran\u00a0koleksi Museum Balaputra Dewa di Palembang, yang\u00a0berasal dari Desa Asem Kelat, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten OKU.<\/p>\n<p>Ada dua buah tangga untuk naik ke garang atau lintut, di sisi kiri dan kanan dengan masing-masing memiliki tangga (tapakan) tujuh buah. Lintut berada di bagian depan, tepatnya di tengah-tengah. Pada sepanjang lintut tersebut, ada tiga buah pintu untuk masuk ke ruang dalam. Pada hari-hari biasa, pintu bagian tengah selalu dibuka untuk keluar masuk rumah.<\/p>\n<p>Lantai ruang dalam terdiri dari tiga tingkatan atau tiga pangrat. Pada bagian tengah pangrat satu terdapat empat buah sake penjuhu (sako guru) yang lebih besar dibandingkan dengan sako yang lainnya. Pada ruang dalam setelah pangrat satu terdapat kamar-kamar (ruangan-ruangan) yang dibatasi dengan papan kayu, yang bagian atasnya diukir yaitu berupa ukir terawangan.<\/p>\n<p>Ruangan paling tengah merupakan gudang, yang di dalamnya terdapat tangga untuk naik ke pagu (tempat penyimpanan barang). Pintu masuk ke ruangan dapur berada di sebelah kiri. Pada dinding dalamnya kiri dan kanan, berada di atas jendela juga dibuat pagu. Pada pagu ruang dalam tersebut tersimpan barang-barang berharga seperti terbangan.<\/p>\n<p>Ukir terawangan tersebut adalah berbentuk sulur-suluran dan kipas yang sedang mengembang. Sulur-saluran merupakan lambang sumber kehidupan manusia, sedangkan kipas dimaksudkan agar penghuninya selalu mengembang dalam berbagai kehidupan keluarga, terutama kehidupan ekonomi.<\/p>\n<p>Risplangnya dibuat berhias sehingga disebut \u201cuncak-uncak putri\u201d. Plafonnya, baik gelemat maupun pemangku kasaunya dibuat permanen dan berkesan mewah, terbuat dari kayu Merbau sehingga nampak mengkilat. Susunan gelemat dibuat rapi, berhadapan antara kanan dan kiri pemangku kasau. Keadaan tersebut di atas berbeda dengan rumah penduduk yang puyang-nya rakyat biasa. (*)<\/p>\n<p><em>Dalam penulisan rumah ulu, penulis mengutip berbagai informasi dalam mesin pencarian di internet.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Bagus Mihargo Rumah Ulu atau bangunan tempat tinggal dari daerah \u201culuan\u201d atau pedesaan di Sumatera Selatan (Sumsel), tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), merupakan warisan nenek moyang dengan arsitektur tradisional (bangunan bentuk struktur, fungsi, ragam hias, dan cara pembuatannya, diwariskan secara turun-temurun). Rumah tersebut pertama kali dibangun, atapnya memakai atap ijuk. Pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":19202,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[9,28,59],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/IMG-20180316-WA0052.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-4ZH","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19201"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19201"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19201\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19204,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19201\/revisions\/19204"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}