
{"id":19531,"date":"2018-03-26T23:30:22","date_gmt":"2018-03-26T16:30:22","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=19531"},"modified":"2018-05-01T13:54:19","modified_gmt":"2018-05-01T06:54:19","slug":"sekolah-lapang-cara-brg-edukasi-petani-di-lahan-gambut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/sekolah-lapang-cara-brg-edukasi-petani-di-lahan-gambut\/","title":{"rendered":"Sekolah Lapang, Cara BRG Edukasi Petani di Lahan Gambut"},"content":{"rendered":"<p><strong>KAYUAGUNG, fornews.co<\/strong> \u2013 Sebagai lembaga yang didirikan untuk mengembangkan pemanfaatan gambut yang berkelanjutan, Badan Restorasi Gambut (BRG) sangat berkepentingan dengan penemukenalian, penyebarluasan dan pengembangan adaptasi inovasi masyarakat atas lahan gambut.<\/p>\n<p>Sekolah Lapang Petani Gambut salah satu langkah untuk membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat dalam mengelola lahan gambut di sekitarnya. Hal yang sangat substansial digelarnya Sekolah Lapang, guna memgedukasi masyarakat agar dalam memanfaatkan atau mengelola lahan gambut dilakukan dengan cara ramah lingkungan (tidak dengan cara membakar).<\/p>\n<p>Kepala Kerja Edukasi dan Sosialisasi Deputi III BRG, Suwignya Utama menjelaskan, langkah-langkah strategis dalam menjaga ekosistem lahan gambut, pihaknya telah merangsang masyarakat dengan membangun demplot (desa ekologis) sebagai salah satu keberlanjutan dari program Desa Peduli Gambut di 67 desa di enam Provinsi (Sumsel, Jambi, Riau, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel) pada akhir tahun 2017.<\/p>\n<p>\u201cAgar demplot di desa gambut ini dapat dioptimalkan keberadaannya, tentu perlu dilakukan berbagai kegiatan yang menunjang pada pengembangan pemanfaatan gambut yang berkelanjutan. Salah satu dilaksanakan Sekolah Lapang Petani Gambut,\u201d ujarnya usai membuka kegiatan Sekolah Lapang Petani Gambut di Balai Pelatihan Desa Bangsal, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ili (OKI), Senin (26\/03).<\/p>\n<p>Menurutnya, Sekolah Lapang yang digelar Sumsel, ini bersamaan dengan di Pontianak, Kalbar, dan merupakan yang pertama kali. Setelah ini, baru dilanjutkan di Jambi, Riau, dan provinsi lain yang menjadi sebaran demplot belajar petani gambut. Di mana, dalam masa depan dapat juga dipergunakan sebagai sarana pengorganisasian kelompok tani dan masyarakat lainnya demi untuk pengembangan potensi desa gambut.<\/p>\n<p>\u201cDalam program ini, di wilayah Sumatra, Sumsel mendapat demplot terbanyak yakni tersebar di 14 desa (Pokmas) dari tiga kabupaten yang meliputi, Kabupaten OKI, Musi Banyuasin (Muba), dan Banyuasin. Sedangkan Riau 11 Pokmas, dan Jambi hanya empat Pokmas,\u201d terangnya, seraya mengatakan besok akan membuka Sekolah Lapang di Jambi.<\/p>\n<p>Lebih lanjut disampan Suwignya, tujuan dari Sekolah Lapang Petani Gambut yaitu meningkatkan kapasitas petani mengolah lahan gambut, menemukenali dan menyebarluaskan kearifan lokal, sarana saling tukar pengetahuan dan praktik baik dalam pengolahan lahan gambut, dan menjadi sarana pengorganisasian petani laham gambut.<\/p>\n<p>\u201cAdapun berbicara tentang capaian, tentu kami sadari butuh proses lama. Tapi satu hal yang kami tanamkan bahwa, jika kesadaran itu tumbuh dari masyarakat tentu tidak akan lama, terutama mengenai penerimaan manfaat kegiatan Sekolah Lapang Petani Gambut ini,\u201d imbuhnya seraya menyebutkan dalam sekolah lapang pihaknya mengikutsertakan 28 orang (dari masing-masing Pokmas dua orang).<\/p>\n<figure id=\"attachment_19533\" aria-describedby=\"caption-attachment-19533\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-19533 size-large\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-80x60.jpg 80w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-265x198.jpg 265w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-696x522.jpg 696w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-1068x801.jpg 1068w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_140253-560x420.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19533\" class=\"wp-caption-text\">Kepala Kerja Edukasi dan Sosialisasi Deputi III BRG Suwignya Utama, memberikan penjelasan terkait Sekolah Lapang, di Desa Bangsal, Kecamatan Pampangan, OKI, Senin (26\/03). (foto: Ibrahim Arsyad\/fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Lebih jauh disamaikan, untuk program peduli desa gambut berdasarkan pemetaan desan yang dilakukan, 2018 akan dilanjutkan untuk mengembangkan di Papua sebagai provinsi ketujuh. Di Papua sambungnya, pihaknya dalam tahap awal pihaknya akan membangun lima demplot latih Pokmas.<\/p>\n<p>\u201cAdapun total keseluruhan demplot nantinya yang akan kita kembangkan mencapai 75 Pokmas tersebar di tujuh provinsi. Kalaupun memungkinkan hingga batas akhir projek BRG (2020), kawasan yang belum akan terus dibangun. Kalaupun tidak, bisa saja nantinya desa yang sudah dilatih membagikan atau membangun di desa sekitarnya,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Ia juga mengatakan, dalam demplot latih setelah masyarakat memahami karakteristik dari lahan gambut, kemudian diarahkan untuk membudidayakan dengan dua metode yakni Agroforestry (perkebunan dan kehutanan), serta Agrosilvofisery (perkebunan, perikanan dan kehutanan).<\/p>\n<p>\u201cMinimal kita tekankan untuk membudidayakan dua jenis pertanian. Tapi dari hasil yang sudah ada, rata-rata lebih, seperti di Bangsal, ada budidaya perkebunan sayur, ternak lele dan hutan rakyat, serta ternak kerbau. Begitu juga di demplot Pokmas di desa lainnya, ada kelapa, jeruk, jelutung dan nanas,\u201d katanya pula.<\/p>\n<p>Sementara, Bambang Eko Wahyudi salah satu Pendamping Desa Petani Gambut BRG menambahkan, dalam membangun kesadaran masyarakat bukan hal mudah. Dari beberapa desa memiliki kultur atau tingkat kesadaran berbeda. Ia mencontohkan, kesadaran dari penduduk lokal dengan penduduk transmigrasi yang memiliki dua kebiasaan berbeda.<\/p>\n<p>\u201cMemang dalam hal ini, kami pendamping desa (petani gambut) tidak serta merta mengintervensi mereka untuk melakukan sesuai ketentuan. Tapi perlu dengan pendekatan secara emosional yang masif. Menghadapi penduduk lokal bukan hal mudah, dengan kencenderungan yang cuek. Berbeda dengan penduduk transmigran yang dalam setiap masukan dapat diterima dengan baik (serius),\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Lanjutnya, dari berbagai merode pendekatan yang dilakukan lambat laun dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan ada desa yang dalam budidaya jeruk, nanas, kelapa dan jelutung terbilang berhasil dalam tahap penanaman.<\/p>\n<p>\u201cSeperti yang kami galakkan di desa Pengguan Duren, Kecamatan Tulung Selapan, OKI. Dari pertumbuhan tanamannya terbilang baik. Namun memang, kita belum bisa memastikan hasil akhirnya apakah seperti tanaman jeruk, apakah berbuah manis itu belum bisa dipastikan. Tapi, kalau memang dirawat sesuai dengan ketentuan, tentu hasilnya akan maksimal,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Mengenai pendanaan sambungnya, untuk membangun demplot, setiap Pokmas mendapat alokasi dana Rp30 juta dan itu diberikan hanya sekali dengan harapan dapat maksimal dan berkembang sehingga bisa menunjang kegiatan ini ke depannya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_19534\" aria-describedby=\"caption-attachment-19534\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-19534 size-large\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-80x60.jpg 80w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-265x198.jpg 265w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-696x522.jpg 696w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-1068x801.jpg 1068w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_152539-560x420.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-19534\" class=\"wp-caption-text\">Hari pertama Sekolah Lapang Petani Gambut di Demplot Bangsal, Kecamatan Pampangan, OKI, Senin (26\/03). (foto: Ibrahim Arsyad\/fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sedangkan Instruktur Sekolah Lapang dari Institut Agroekologi Indonesia, Syahroni menguraikan, banyak sekali dampak positif di sektor ekonomi dalam metode pertanian ramah lingkungan ini. Bahkan dalam kerangkan penyadaran yang kita lakukan terhadap masyarakat, kita mendorong apa yang disebut dengan hutan James (jati, akasia, mahoni, ekaloptus, dan sungkai).<\/p>\n<p>\u201cBukan hanya itu, dalam luasan lahan tertentu masyarakat juga bisa menerapkan sistem pertanian sederhana mulai dari sayuran serta budi daya ikan. Seperti rule mode yang kami lakukan di Desa Bangsal ini, bahkan sistem perkebunan mini demplot ini bisa mengefisiensi setiap minggu Rp70.000 dari uang belanja rutin kebutuhan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Masih kata Roni, untuk membangun sebuah pertanian terutama di lahan gambut dengan kadar asam yang tinggi tidaklah instan. Semua harus melalui proses yang panjang. \u201cKami melakukan pendampingan untuk membentuk kesadaran masyarakat itu sejak 2002, dan Alhamdulillah infrastruktur sudah dibangun baru setahun ini,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Kades Bangsal, M Hasan menyampaikan, dari pengetahuan yang diberikan hasil pendampingan dirasakan banyak sekali kemajuan. Bukan hanya kemampuan dalam berbudidaya pertanian. Tetapi keadaran masyarakat juga terpacu untuk melakukan membangun perekonomian sesuai dengan kearifan lokal atau potensi yang dimiliki.<\/p>\n<p>\u201cKe depan, kami bahkan punya rencana untuk membangun sebuah agrowisata. Di mana pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai kegiatan budidaya pertanian dan peternakan, dalam hal ini ternak ikan dan kerbau,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Bahkan, untuk mewujudkan kawasan yang ramah lingkungan, pihaknya telah memiliki Perdes tentang Ekosistem Gambut. Ia memaparkan, semangat dibentuknya Perdes dari rasa keprihatinan tergerusnya kawasan pengembangan biota air (ikan) dampak dari beralih fungsinya lahan yang dikenal Lebak Lebung menjadi perkebunan sawit.<\/p>\n<p>\u201cDengan beralih menjadi lahan perkebunan, otomatis air terkontaminasi dari pestisida sehingga ikan tidak lagi memiliki tempat untuk memijah (pengembang biakan) secara alami,\u201d eluhnya.<\/p>\n<p>Adapun garis besar dari ini Perdes yang dibuat untuk melindungi ekosistem gambut yakni, mengatur tentang kawasan pemukiman (50 meter dari kaki jalan yang boleh membangun rumah), pertanian sawah, perikanan, dan ternak kerbau dengan menyediakan lahan khusus cadangan untuk pakan.<\/p>\n<p>\u201cKami akui, sejak infrastruktur masuk (terhubungnya jalan) ada semangat untuk pertanian. Tentu ada juga kekhawatiran, karena pengusaha kebun terus mengembangkan usahanya yang berdampak pada kerusakan lingkungan tergerusnya kawasan pengembang biayakan ikan secara alami dan sulitnya pakan ternak kerbau di desanya,\u201d tukasnya.<\/p>\n<p>Jumlah penduduk Desa Bangsal, saat ini terhitung 869 jiwa dengan 210 kepala keluarga (KK). Untuk luas wilayah yang berada di kawasan lahan gambut tersebut, mencapai 320 hekatare. Mata pencaharian warga Desa Bangsal, yakni budidaya ikan air tawar (toman, patin dan lele), ternak kerbau, petani padi dan kebun karet. (ibr)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KAYUAGUNG, fornews.co \u2013 Sebagai lembaga yang didirikan untuk mengembangkan pemanfaatan gambut yang berkelanjutan, Badan Restorasi Gambut (BRG) sangat berkepentingan dengan penemukenalian, penyebarluasan dan pengembangan adaptasi inovasi masyarakat atas lahan gambut. Sekolah Lapang Petani Gambut salah satu langkah untuk membuka wawasan dan pengetahuan masyarakat dalam mengelola lahan gambut di sekitarnya. Hal yang sangat substansial digelarnya Sekolah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":19532,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[15],"tags":[9,67,59],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/03\/20180326_151708.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-551","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19531"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19531"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19531\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19545,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19531\/revisions\/19545"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}