
{"id":21400,"date":"2018-05-25T22:19:03","date_gmt":"2018-05-25T15:19:03","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=21400"},"modified":"2018-06-04T21:40:16","modified_gmt":"2018-06-04T14:40:16","slug":"komisi-ix-dpr-minta-bpom-lakukan-hal-ini-terkait-tingginya-peredaran-makanan-berformalin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/komisi-ix-dpr-minta-bpom-lakukan-hal-ini-terkait-tingginya-peredaran-makanan-berformalin\/","title":{"rendered":"Komisi IX DPR Minta BPOM Lakukan Hal Ini Terkait Tingginya Peredaran Makanan Berformalin"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, fornews.co<\/strong> &#8211; Peredaran makanan mengandung zat pengawet berbahaya masih banyak ditemukan di Sumsel, termasuk pasar di Palembang. Karena itu, Komisi IX DPR RI meminta Balai Besar Pangan, Obat dan Makanan (BPOM) untuk meningkatkan kinerja sehingga dapat meminimalisir peredarannya.<\/p>\n<p>\u201cBerdasarkan data dari BPOM peredaran pangan tahu dan mie berformalin tahun ini mencapai 20, 28 persen. Angka itu masih tinggi. Maka dari itu, kami meminta kepada BPOM untuk meningkatkan kinerjanya agar peredaran pangan berformalin diturunkan,\u201d kata Ketua\u00a0Tim Kunker DPR RI Komisi IX, Pius Lustrilanang saat berkunjung ke BPOM) provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat (25\/05).<\/p>\n<p>Lustilanang mengatakan, dari hasil sidak ke Pasar KM 5 Palembang, mereka menemukan banyak pangan yang masih mengandung boraks, formalin, dan rodamin.<\/p>\n<p>\u201cKami ingin tahu pengawasan BPOM Palembang ini seperti apa, karena masih banyak ditemukan pangan mengandung bahan berbahaya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Pun demikian, Lustilanang memaklumi lemahnya pengawasan terhadap zat-zat berbahaya ini. Dia mengakui kalau SDM BPOM Palembang sangat minim.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, pihaknya mengakui masih minimnya pengawasan Balai BPOM Palembang itu dikarenakan SDM yang belum lengkap.<\/p>\n<p>\u201cSDM di sini tidak bisa mengcover semua masalah. Karena kita melihat problemnya ternyata SDM nya tidak mencukupinya karena hanya 72 orang untuk mengcover 17 kabupaten\/kota. Selain itu, 3 pejabat eselon 3 masih kosong. \u00a0Kita berharap BPOM Pusat bisa memberikan solusi SDM yang belum lengkap di sini,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Maka dari itu, pihaknya mengimbau agar BPOM terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau peredaran makanan ini.<\/p>\n<p>\u201cBPOM harus meningkatkan kinerjanya. Jangan bekerja sendiri. \u00a0Bila perlu bentuk tim satgas, gabungan Balai BPOM dengan Dinkes, Dinas Perdagangan dan Polisi. Lakukan pemantauan secara rutin agar masyarakat terhindar dari makanan yang tidak sehat,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Anggota DPR RI Irma Suryani menambahkan, pihaknya mengakui bahwa tahu dan mie berformalin ini tak pernah berhenti beredar sejak dulu.<\/p>\n<p>\u201cSekarang masih banyak juga mie dan tahu berformalin. Semestinya Balai BPOM, Polri, Dinas Kesehatan dan lainnya harus bekerjasama menurunkan persentase peredaran tahu dan mie berformalin. Tahun ini harusnya persentase peredaran tahu dan mie berformalin di bawah 5 persen. Kalau di atas 20 persen itu masih tinggi,&#8221; kata Irma.<\/p>\n<p>Di tempat yang sama, Kepala Balai BPOM Sumsel, Dewi Prawitasari mengatakan, pada bulan Ramadan pihaknya terus melakukan pengawasan pasar beduk dan pasar tradisional.<\/p>\n<p>Menurut Dewi, penggunaan bahan berbahaya di pasar tradisonal masih ditemukan dengan 21,18 persen, angka ini menurun dari tahun lalu 23,21 persen. Untuk pengawasan di pasar beduk penggunaan bahan berbahaya mencapai 37,05 persen 2017 angka ini tinggi melebihi nasional.<\/p>\n<p>&#8220;Tahun 2018 ini kami sudah melakukan penindakan kepada 4 produksi tahu dan mie, \u00a0peredaran tahu dan mie berformalin pada 2018 ini diangka 20, 28 persen. Mungkin karena 4 produsennya sudah digulung. Kami akan terus melakukan penindakan pabrik tahu dan mie,&#8221; paparnya<\/p>\n<p>Untuk menurunkan persentase peredaran pangan berformalin, pihaknya melakukan pembinaan kepada pelaku usaha. Kemudian salah satu cara menurunkan penggunaan formalin pada tahu dan mie adalah dengan menambahkan zat pemahit pada formalin.<\/p>\n<p>&#8220;Bertahun-tahun pengguaan formalin ini masih tinggi. Tahun ini kami dan Dinkes melakukan pembinaan imtek untuk produsen pempek dan kemplang.Pempek tidak ada yang berformalin. Untuk produsen tahu dan mie ini mereka tidak jera. Sudah dihukum dan tidak jera. Setelah keluar mereka buat lagi,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p>&#8220;Ada satu produsen formalin yang memberikan zat pemahit. Sudah kewajiban produsen formalin menambahkan zat pemahit, agar formalin tidak lagi dicampurkan ke makanan,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumsel, Lesty Nurainy mengatakan, tupoksi Dinkes adalah melakukan pembinaan. Pembinaan kepada dinas kesehatan kabupaten\/kota. Kemudian dinkes kabupaten\/kota melakukan pembinaan di puskemas.<\/p>\n<p>&#8220;Kendalanya adalah penganggaran, karena ada dinkes kabupaten\/kota ada yang tidak ada anggaran.Kita berharap formalin dan boraks tidak mudah didapat,&#8221; katanya. (bas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, fornews.co &#8211; Peredaran makanan mengandung zat pengawet berbahaya masih banyak ditemukan di Sumsel, termasuk pasar di Palembang. Karena itu, Komisi IX DPR RI meminta Balai Besar Pangan, Obat dan Makanan (BPOM) untuk meningkatkan kinerja sehingga dapat meminimalisir peredarannya. \u201cBerdasarkan data dari BPOM peredaran pangan tahu dan mie berformalin tahun ini mencapai 20, 28 persen. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":21401,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[16],"tags":[69,97],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/05\/IMG-20180525-WA0014.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-5za","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21400"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21400"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21400\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21403,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21400\/revisions\/21403"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}