
{"id":22848,"date":"2018-07-15T17:16:30","date_gmt":"2018-07-15T10:16:30","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=22848"},"modified":"2018-08-01T17:32:39","modified_gmt":"2018-08-01T10:32:39","slug":"jurnalisme-fotografi-melihatmendengarmerasakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/jurnalisme-fotografi-melihatmendengarmerasakan\/","title":{"rendered":"Jurnalisme Fotografi, #MelihatMendengarMerasakan"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Ibrahim Arsyad<\/strong><\/p>\n<p><strong>Tiga<\/strong> suku kata yang terdapat dalam panca indra manusia yakni melihat, mendengar dan merasalan (3M) ini terdengar sangat sederhana. Namun dalam aktivitas jurnalisme fotografi, 3M menjadi hal yang sangat dibutuhkan dan tidak boleh dipisahkan dari dalam diri sang fotografer (jurnalis fotografi).<\/p>\n<p>Mushaful Imam (45) jurnalis foto yang terbilang senior di Sumatra Selatan (Sumsel), memandang tiga unsur dari panca indra manusia ini jika dicerna secara mendalam, maka akan diketahui memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Tak terkecuali dalam aktivitas mengabadikan gambar yang biasa dilakukan oleh seorang pewarta foto.<\/p>\n<p>Menurut Wak Shaful (begitu biasa disapa), ketiga panca indra tersebut menjadi pintu masuk utama untuk bisa menemukan foto-foto yang manarik. Melihat contohnya. Saat melihat seseorang pastilah ingin mengetahui sesuatu melalui indra matanya. Dari proses itu pula indra pengelihatan akan secara otomatis bisa mendeteksi menarik atau tidaknya suatu objek foto.<\/p>\n<p>Begitu halnya juga dengan indra pendengaran dan perasa. Tidak cukup foto-foto yang bernilai saja, tetapi bagaimana karya forografi itu \u201cbernyawa\u201d. Untuk menjadikan foto itu bernilai dan bernyawa, maka pewarta foto harus mau melihat lingkungan sekelilingnya dengan seksama, mau mendengar informasi, dan mau ikut merasakan.<\/p>\n<p>\u201cJika tiga indra ini kita gunakan dalam pengambilan foto, saya yakin banyak foto menarik yang bisa diperoleh,\u201d begitu kata Shaful, kepada <strong>fornews.co<\/strong> bagaimana cara dirinya mendapatkan karya fotografi beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Bahkan teorinya tersebut, telah dibukukan dengan judul \u201cMelihat, Mendengar, Merasakan\u201d dalam jumlah terbatas. Dari judul buku inilah kemudian mendorong penulis menjadikannya judul dari tulisan kali ini.<\/p>\n<p>Karya buku tersebut lahir dari pengalamannya sebagai pewarta foto salah satu media nasional biro Sumsel, yang telah tutup dalam peliputan pesta olahraga Asia Tenggara (SEA Games XXVI) Jakarta &#8211; Palembang 2011 silam.<\/p>\n<p>Menurutnya, dalam acara sekelas SEA Games, banyak sekali peristiwa lain yang tak kalah bernilai dan menarik untuk dibidik. Momen itu di antaranya, peristiawa mengandung daya tarik insani (<em>human interest<\/em>), kehidupan sehari-hari (<em>daily life<\/em>) lingkungan dan seni.<\/p>\n<p>\u201cMeski sederhana, teori (melihat, mendengar dan merasakan) ini begitu nyata bagi saya. Saya bahkan mengujimya pada pesta terbesar di Asia Tenggara (SEA Games) di Palembang pada November 2011 silam. Berbekal tiga kata ini, saya melahirkan banyak foto luar biasa, yang jelas tidak pernah saya dapatkan sebelumnya,\u201d terang bapak dua orang putri tersebut.<\/p>\n<p><strong>Bukan Sekadar Mengabadikan<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_22851\" aria-describedby=\"caption-attachment-22851\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-22851 size-large\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-80x60.jpg 80w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-265x198.jpg 265w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-696x522.jpg 696w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-1068x801.jpg 1068w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/20180713_170950-560x420.jpg 560w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-22851\" class=\"wp-caption-text\">Buku karya Mushaful Imam (foto: fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Dalam tekadnya menggeluti profesi (memotret) ini, bagi Wak Shaful, bukanlah sekadar mengabadikan momen yang terbaik. Tetapi juga tentang mengasah kepekaan untuk menemukan sisi-sisi menarik dari momen yang ada.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan, kaitan dari momen pesta olahraga dua tahunan itu, dari sisi pengerajin souvenir (cindera mata) yang dilibatkan dalam SEA Games agar menjadi informasi terbaru bagi masyarakat. Begitu juga lainnya dalam suskesi SEA Games.<\/p>\n<p>\u201cTak ubahnya berita, foto juga layak tampil ke khalayak karena mengandung unsur-unsur informasi. Dengan foto-foto ini saya bisa mengajak masyakat ikut berbaur dalam hiruk-pikuk persiapan pesta olahraga level internasional ini,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Shaful menceritakan, banyak pengalaman yang menantang dalam dirinya meliput event olahraga tersebut. Di antaranya lokasi <em>venue<\/em> yang jauh membuatnya tidak boleh terfokus pada satu pertandingan, apalagi jadwal pertandingan kerap berubah yang memaksanya harus ceoat berpindah.<\/p>\n<p>\u201cMemotret olahraga (<em>photo sport<\/em>) buat saya memiliki kesulitan tersendiri. Selain tidak bisa difoto dengan fitur standar, momen terbaik foto olahraga juga tidak bisa diprediksi. Jika tidak fokus maka habislah dia (juru foto). Semuanya memang harus diikuti dengan cermat,\u201d tuturnya seraya mengatakan bahwa di sinilah pentingnya membiasakan diri melihat, mendengar, dan merasakan.<\/p>\n<p>Shaful juga mendapat pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga, saat meliput pertandingan Tenis Lapangan yang tidak akan dapat dilupakannya. Kala itu, dan ketidak tahuannya, dalam pengambilan foto dirinya terus berpindah-pindah untuk mendapatkan spot yang bagus memotret.<\/p>\n<p>\u201cDari kejauhan memang panitia mengisyarakatkan kepada saya untuk tidak berpindah-pindah, namun tidak saya hiraukan. Setelah pertandingan baru saya tahu, kalau meliput pertandingan sekelas ini tidak bileh berpindah-pindah,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Lebih jauh disampaikan, dalam foto jurnalistik (foto berita) harus memiliki keterangan foto yang meliputi atau mengandung unsur 5W+1H yaitu, <em>what<\/em> (apa), <em>where<\/em> (di mana), <em>when<\/em> (kapan), <em>why<\/em> (mengapa), <em>who<\/em> (siapa), dan <em>how<\/em> (bagaimana).<\/p>\n<p>\u201cSeperti halnya dalam menulis berita, foto jurnalistik juga harus memiliki keterangan foto yang memiliki keterangan berdasarkan sudut pandang foto dan hal-hal penting dalam foto itu sendiri,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Nilai-Jenis dan Ciri Foto Jurnalistik<\/strong><\/p>\n<p>Berbeda dengan foto biasa, foto jurnalistik memiliki syarat tersendiri. Atas syarat itu foto jurnalistik layak ditampilkan kepada publik sebagai bahan informasi. Nilai ini meliputi: Aktualitas (kejadian terbaru), luar biasa (perhatian khalayak ramai), menarik (<em>magnitude<\/em>) memikat bagi pembaca untuk melihatnya, penting, ketokohan, human interest, universal dan informatif.<\/p>\n<p>Foto jurnalistik menurut <em>Word Press Foto Foundation<\/em> dibagi berdasarkan karakteristik objek foto berita yakni, spot photo (mendadak, tidak terduga atau tidak terjadwal); foto berita umum (<em>general news photo<\/em>) dihasilkan dari rutinitas atau terjadwal dan biasa; menyangkut orang (<em>people in the news photo<\/em>) karena menarik, ketokohan, unik, popularitas; foto kehidupan sehari-hari (<em>daily life photo<\/em>) mengulas kehidupan sehari-hari di masyarakat dilihat dari daya tarik insasi (<em>human interest<\/em>).<\/p>\n<p>Selanjutnya jenis berupa foto potret (<em>portrait<\/em>) yakni menampilkan wajah seseorang secara detail, untuk memperlihatkan kekhasan wajahnya dari berbagai sisi; foto olahraga (<em>sport photo<\/em>); foto Iptek (<em>sains and technology photo<\/em>) mengambil objek berkaitan ilmu pengetahuan dan teknologi; foto seni dan budaya (<em>art and culture photo<\/em>); serta foto sosial dan lingkungan (<em>social and environment photo<\/em>).<\/p>\n<p>Adapun ciri foto jurnalistik meliputi: independen (tidak memihak dan lebih mengutamakan kepentingan masyarakat umum, bukan pribadi atau golongan); kemampuan teknis; kepekaan; memiliki kekuatan (dapat memengaruhi masyarakat agar peduli dalam hal kebaikan); dan intelektualitas (mencerminkan intelektualitas pewarta foto, beretika, santun dan memiliki sudut pandang objektif yang cerdas.<\/p>\n<p><strong>Teknis atau Cara Memotret<\/strong><\/p>\n<p>Dalam teknik memotret sangat penting untuk memahami tigal hal yaitu, <em>diafragma<\/em> (bukaan), kecepatan rana, dan fokus). Dengan mengenal komponen kecepatan dan diafragma sebagai komponan terpenting dalam pencahayaan, ditambah dengan fokus hal ini dapat menjadi dasar pengoperasian kamera DSLR atau kamera yang memiliki fasilitas fungsi kecepatan, diafragma dan fokus.<\/p>\n<p>Pertama kecepatan (<em>speed<\/em>), di sini dimaksudkan kecepatan menutup jendela kamera guna meloloskan cahaya ke dalam media rekam. Semakin cepat menutupnya, semakin sedikit cahaya yang diloloskan. Ukuran kecepatan rana dihitung dalam pencahayaan detik. Kecepatan antara lain 1, 1\/2, 1\/8, 1\/15, 1\/30, 1\/60, 1\/150, 1\/250, 1\/500, 1\/1000, dan seterusnya.<\/p>\n<p>Selain kecepatan per-satu detik, ada kecepatan khusus yang lambat disebut <em>Bulb<\/em> (B) ini akan terus merekam selama tombol shutter ditekan. Kecepatan ini selain untuk meloloskan cahaya ke media perekam, juga berfungsi untuk menghentikan gerak.<\/p>\n<p><em>Diafragma<\/em> (Bukaan) dimaksudkan lubang bukaan yang memoloskan cahaya ke media rekam kamera. <em>Diafragma<\/em> disimbolkan dengan (f) dan ukuran bukaan dengan angka. Ukuran bukaan yang ditulis dengan angka akan berbanding terbalik dengan nilai nominalnya, sehingga semakin besar angka nominal semakin kecil bukaan diafragmanya.<\/p>\n<p>Adapun bukaan diafragma antara lain, f\/2, f\/4, f\/5, f\/8, f\/11, f\/16, f\/22, f\/33. Sebagai contoh, semakin besar diafragmanya (f\/2) maka semakin banyak cahaya yang masuk ke dalam media reka dibandingkan dengan diafragma kecil (f\/11).<\/p>\n<p>Fokus dimaksudkan di sini yakni objek yang dijadikan sasaran utama dalam membidik foto. Fokus ini sangat penting dalam foto, karena objek utama yang dijadikan fokus menentukan keberhasilan sebuah foto itu sendiri. Kesalahan fokus akan membuat objek utama yang dituju menjadi bergeser.<\/p>\n<p>Selain kecepatan, bukaan dan fokus, ada beberapa fungsi yang berkaitan dengan penjelasan di atas yaitu \u201cruang tajam\u201d (<em>depth of field<\/em>) dan \u201cruang kabur\u201d (<em>blur<\/em>). Ruan tajam adalah area ketajaman objek foto dari objek utama, latar depan dan latar belakang dipengaruhi oleh bukaan (<em>diafragma<\/em>). Semakin kecil bukaan semakin luas ruang tajam, mulai dari objek utama yang menjadi fokus hingga ke latar depan dan latar belakang.<\/p>\n<p>Demikian juga sebaliknya, jika bukaannya semakin besar, ruang tajamnya semakin sempit dimulai dari objek utama yang menjadi fokus hingga ke latar depan dan latar belakang.<\/p>\n<p>Selanjutnya, selain ditentukan oleh bukaan (<em>diafragma<\/em>), ruang tajam juga ditentukan oleh lensa kamera. Semakin panjang lensa, semakin sempit ruang tajamnya. Begitu juga sebaliknya, semakin pendek lensa semakin luas ruang tajamnya.<\/p>\n<p>Hal terakhir yang menentukan ruang tajam dan blur (ruang kabur) adalah jarak kamera dan objek yang dipotret (<em>portreit<\/em>). Semakin dekat kamera dengan objek yang dipotret semakin sempit ruang tajamnya. Begitu juga sebaliknya, semakin jauh jarak kamera dengan objek makin luas ruang tajamnya.<\/p>\n<p>Tidak kalah penting, selain memahami unsur-unsur di atas, tentunya mengerti fungsi yang terdapat pada kamera, apalagi era kamera digital sekarang ini. (*\/selesai)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ibrahim Arsyad Tiga suku kata yang terdapat dalam panca indra manusia yakni melihat, mendengar dan merasalan (3M) ini terdengar sangat sederhana. Namun dalam aktivitas jurnalisme fotografi, 3M menjadi hal yang sangat dibutuhkan dan tidak boleh dipisahkan dari dalam diri sang fotografer (jurnalis fotografi). Mushaful Imam (45) jurnalis foto yang terbilang senior di Sumatra Selatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":22849,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[21],"tags":[9],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/07\/shaful-liputan.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-5Ww","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22848"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22848"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22848\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22852,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22848\/revisions\/22852"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22848"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22848"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22848"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}