
{"id":24011,"date":"2018-08-16T13:14:07","date_gmt":"2018-08-16T06:14:07","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=24011"},"modified":"2018-08-31T00:16:51","modified_gmt":"2018-08-30T17:16:51","slug":"askolani-banyuasin-harus-ciptakan-terobosan-dan-berinovasi-jangan-monoton","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/askolani-banyuasin-harus-ciptakan-terobosan-dan-berinovasi-jangan-monoton\/","title":{"rendered":"Askolani : Banyuasin Harus Ciptakan Terobosan dan Berinovasi, Jangan Monoton"},"content":{"rendered":"<p><strong>PANGKALAN BALAI, fornews.co<\/strong>-Bupati Banyuasin terpilih, H Askolani Jasi SH,MH telah menyiapkan langkah untuk menjalankan amanahnya setelah dilantik sebagai Bupati Banyuasin periode 2018-2023 nanti.<\/p>\n<p>Namun, sebelum melangkah lebih jauh, Askolani yang berpasangan dengan H Slamet Sumosentono itu memohon doa restu dan dukungan penuh dari seluruh masyarakat Banyuasin, untuk bersama-sama membangun Bumi Sedulang Setudung. \u201cKami memohon doa restu dan dukungan masyarakat untuk lupakan masa lalu, karena pilkada sudah selesai. sekarang jangan berfikir yang tentang hal lain lagi. Mari berangkulan tangan dan membangun Banyuasin, karena Banyuasin milik kita,\u201d ujarnya, saat dibincangi fornews.co, di kediaman pribadinya di kawasan Sukajadi, Senin (13\/08).<\/p>\n<p>Askolani menyatakan, untuk mengejar ketertinggalan Kabupaten Banyuasin dari kabupaten\/kota yang ada di Sumsel, tentu pihaknya harus menciptakan terobosan-terobosan baru. Apalagi kondisi geografis Banyuasin yang bersebelahan dengan Palembang dan memiliki swasembada pangan, maka semua potensi yang ada harus dimaksimalkan.<\/p>\n<p>\u201cPendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuasin memang agak kurang. Karena persoalannya banyak potensi alam dan sumber daya manusianya belum tergarap dengan baik dan optimal. Selama ini cenderung monoton dan mengikuti alur yang ada. Artinya, nilai tambah tidak mungkin secepat yang diharapkan kalau hanya monoton. Ya kita lihat sekarang memang seperti itu, makanya Banyuasin harus ciptakan terobosan dan berinovasi, jangan monoton\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Seperti contoh, terangnya, untuk meningkatkan ekonomi daerah, perlu dibuat perusahaan daerah untuk mengelola beras dan jadikan hak paten, hasilnya tentu bisa jadi PAD. Kemudian membangun pabrik pengeringan karet dan membeli karet dari masyarakat, diekspor oleh pemerintah daerah melalui badan usaha milik daerah. \u201cItu ada nilai tambah lain,\u00a0 belum lagi pengelolaan pasar uang sebenarnya juga banyak,\u201d terang mantan Wakil Ketua 1 DPRD Banyuasin itu.<\/p>\n<p>Ketua DPC\u00a0<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Partai_Demokrasi_Indonesia_Perjuangan\">PDI Perjuangan<\/a>\u00a0Banyuasin periode 2015 \u2013 2020 menuturkan, dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Banyuasin yang hanya mencapai Rp1,9 triliun, tentu pemerintah daerah tak akan mampu membangun dengan kekuatan sendiri dengan kondisi wilayah yang sangat luas. Tentu harus ada bantuan dana dari anggaran-anggaran yang tersedia di pemerintah pusat.<\/p>\n<p>\u201cNah target awal kita nanti APBD harus naik hingga Rp2,5 triliun. Kalau kita bisa mencapai angka itu, maja pembangunan Banyuasin akan menggeliat. Tapi kalau yang sekarang ini tidak bisa lagi, paling bisa tahun 2019 nanti peningkatan (APBD) nya diangka Rp2,1 atau 2,2 triliun,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Kemudian, papar Askolani, sebenarnya Banyuasin ini bukan ingin diubah, tapi memperbaiki dan menambah pembangunan yang belum ada. Hal yang paling penting dan pokok itu adalah insfrastruktur jalan dan jembatan.\u00a0Kemudian, berkaitan dengan masalah pendidikan, pertanian, kesehatan dan banyak yang lain.\u00a0Suami dari Hj. Heryati itu melanjutkan, kalau membandingkan antara Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Banyuasin, tentu perbedaannya sangat jelas. Dengan wilayah dan jumlah penduduk Muba yang lebih kecil dari Banyuasin, namun APBD nya lebih besar. Kemudian Muba sudah lama berdiri, sedangkan Banyuasin baru 16 tahun. Tapi pihaknya tak mau semua hal itu menjadi alasan terhadap gerak pembangunan di Banyuasin.<\/p>\n<p>Makanya, setelah pelantikan nanti, Askolani menegaskan kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Banyuasin, dan akan meminta kepada perangkat daerah khususnya OPD untuk menetap di Banyuasin. \u201cAgar mereka lebih fokus, termasuk jam kerja yang harus disesuaikan dengan jam kerja ASN. Karena memang, kalau bicara Banyuasin hampir semua ASN atau 80 persen itu ada di Palembang, sehingga tidak begitu efektif. Mereka datang ke Banyuasin jam 09.00 atau jam 10.00, nah ini jadi masalah juga,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Namun, untuk melaksanakan itu, tentu pemerintah daerah harus menyiapkan perumahan. Tak mungkin memaksakan ASN menetap di Pangkalan Balai, namun perumahan tidak ada. Artinya pemerintah harus hadir disitu untuk membuat perumahan. \u201cHal yang paling penting itu, penegasan kepada mereka untuk bekerja maksimal. Karena mereka sudah di gaji oleh negara, kalau tidak mundur dari PNS. Tidak ada gunanya,\u201d tegasnya .<\/p>\n<p>Pria kelahiran Teluk Kijing, 23 April 1974 menuturkan, bahwa Banyuasin ini berbeda dengan kabupaten lain. Karena lebih potensi dan semua sumber daya alam ada di Banyuasin. Namun, yang paling penting itu bagaimana menjadikan Banyuasin ini menjadi lumbung pangan. Bukan hanya itu, dari lumbung pangan itu, Banyuasin harus punya merek beras sendiri, itu yang saat ini belum pernah terjadi.<\/p>\n<p>Kemudian, Banyuasin ini ada juga wilayah laut dan penghasil ikan. Tapi yang menjadi masalah, ikan-ikan itu dibeli dari provinsi lain, hingga ikan itu di ekspor atas nama provinsi lain, padahal sumber daya alamnya dari Banyuasin. Nah, itulah yang harus ditata. Banyuaisn juga punya Taman Nasional Sembilang, yang secara internasional sudah terkenal, tapi justru orang Banyuasin sendiri tak banyak yang tahu.<\/p>\n<p>\u201cMengapa, karena promosi dan infrasruktur menuju ke daerah tersebut bisa dikatakan tidak ada atau sangat minim. Itu yang harus segera kita benahi, agar setiap orang paham tentang Taman Nasional Sembilang itu seperti apa. Karena di taman itu ada fenomena alam, yakni migrasi jutaan burung dari Siberia yang tak ada di wilayah lain. Ini keajaiban dunia, yang bisa dinilai aneh,itu setiap tahun terjadi. Belum lagi panorama alam di taman itu yang bagus,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Berikutnya, jelas Askolani, potensi pertanian di Banyuasin juga luar biasa, punya padi yang memikiki luas tanam dan panen terluas di Sumsel. Ada juga cabai, jagung, dan sektor pertanian lainnya. Termasuk karet, yang hingga kini harganya masih anjlok. Ini perlu ada inovasi baru untuk meningkatkan harga itu. Paling tidak, pihaknya memikirkan bagaimana petani tidak mengekspor karet lagi, tapi bisa dimanfaatkan dengan membuat produk dalam, minimal ada tempat pengelolaan pengeringan karet.\u00a0Kalau untuk olahraga, di Banyuasin tentu tak lepas dari peran pemuda. Tentu dari visi dan misi mereka, akan mendorong dan menggalakkan itu, terutama sepakbola, volly dan yang lainnya.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau untuk jadi Superman, rasanya saya tidak mungkin. Tapi setidak-tidaknya kita bisa memberikan warna baru sebagai kepala daerah di Sumsel, dengan terobosan-terobosan dan inovasi baru untuk masyarakat untuk berkembang lebih cepat. Kalau tidak, ya kita sama dengan kabupaten lain,\u201d tandasnya.(tul)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PANGKALAN BALAI, fornews.co-Bupati Banyuasin terpilih, H Askolani Jasi SH,MH telah menyiapkan langkah untuk menjalankan amanahnya setelah dilantik sebagai Bupati Banyuasin periode 2018-2023 nanti. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, Askolani yang berpasangan dengan H Slamet Sumosentono itu memohon doa restu dan dukungan penuh dari seluruh masyarakat Banyuasin, untuk bersama-sama membangun Bumi Sedulang Setudung. \u201cKami memohon doa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":24012,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[15],"tags":[9,2541,24,59],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/08\/askol.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-6fh","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24011"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24011"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24011\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24013,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24011\/revisions\/24013"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24012"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24011"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24011"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24011"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}