
{"id":25195,"date":"2018-09-18T21:11:08","date_gmt":"2018-09-18T14:11:08","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/news\/?p=25195"},"modified":"2018-10-01T02:56:46","modified_gmt":"2018-09-30T19:56:46","slug":"karies-palembang-di-atas-nasional-dokter-gigi-serbu-palembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/karies-palembang-di-atas-nasional-dokter-gigi-serbu-palembang\/","title":{"rendered":"Karies Palembang di Atas Nasional, Dokter Gigi Serbu Palembang"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, fornews.co<\/strong> &#8211; Ratusan dokter gigi dan mahasiswa fakultas kedokteran gigi berkumpul di Palembang, Selasa (18\/09). Mereka berpartisipasi dalam pembukaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2018 yang dipusatkan di RS Gigi dan Mulut Provinsi Sumatra Selatan.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kegiatan yang telah memasuki tahun ke-9 ini, diselenggarakan Pepsodent bekerjasama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi (AFDOKGI). Setelah Palembang, BKGN akan digelar juga di 22 Fakultas Kedokteran Gigi dan 40 cabang PDGI di seluruh wilayah Indonesia hingga Desember mendatang. Untuk Palembang, ditargetkan BKGN melayani 1.500 dari 65.000 masyarakat secara nasional yang membutuhkan layanan kesehatan gigi dan mulut secara gratis. Adapun tema yang dipilih tahun ini adalah Lindungi Kesehatan Gigi Keluarga dari Risiko Gula Tersembunyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Dr drg RM Sri Hananto Seno, Sp BM (K) mengatakan, berdasarkan riset kesehatan dasar (Rikesda) bahwa derajat kesehatan gigi di Indonesia sangat rendah. Di tahun 2007, rasio kesehatan gigi Indonesia sangat jelek yaitu gigi berlubang mencapai 5,6. Meski ada penurunan di tahun 2013, namun angka kerusakan gigi masih tinggi yaitu 4,6.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cUntuk Palembang sendiri di atas nasional yaitu 5,3. Artinya setiap orang memiliki kerusakan gigi permanen 4 sampai 5. WHO sangat prihatin atas kondisi ini. Karena itu kita butuh suatu gerakan untuk menekan indeks DMF-T (karies gigi permanen) hingga ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 2,5. Bahkan usia 12-18 tahun tidak boleh ada karies. Maka BKGN memacu kita semua untuk merawat kesehatan gigi dan mulut,\u201d ujar Seno.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Seno menerangkan, BKGN hadir untuk memotivasi masyarakat agar sejak dini makan minum teratur dan mengendalikan gula tersembunyi di dalamnya. Menurutnya, glukosa paling berbahaya bagi gigi karena jika terfermentasi maka sifat asamnya lebih tinggi. Sedangkan gigi paling tidak tahan dengan asam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSumbernya (glukosa) dari yang kita konsumsi sehari-hari. Parahnya terkadang tidak kita sadari konsumsi (glukosa) itu. Oleh karenanya Palembang dipilih tahun ini salah satunya karena masyarakatnya sangat gemar konsumsi pempek. Tepung (bahan baku pempek) saat dimakan lalu terfermentasi akan menjadi gula. Belum lagi cukanya itu yang sudah pasti mengandung asam. Hal itulah yang membuat karies di Palembang cukup tinggi,\u201d tuturnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sementara itu, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes dr Eni Gustina mengatakan, di Indonesia satu dari empat \u00a0orang menderita sakit gigi. Akan tetapi hanya sepertiganya saja yang berobat. Pada kenyataannya, masyarakat bekum terlalu sadar bahwa penyakit gigi merupakan sumber berbagai penyakit lainnya yang lebih parah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cMakanya kami sekarang mulai menerapkan setiap ibu hamil yang periksa kandungannya dianjurkan memeriksakan diri ke dokter gigi. Sebab kalau ibu hamil giginya karies, akan berbahaya buat perkembangan bayinya,\u201d terangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Eni menyebutkan, kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) memang masih rendah jika dibandingkan beberapa negara lainnya. Sebab permasalahan kesehatan sangat tergantung dengan perilaku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cJepang ternyata bisa kariesnya nol. Sebab disana masyarakatnya sudah terbiasa setiap kali selesai makan langsung sikat gigi. Bahkan bekal yanh dibawa dari rumah yaitu sikat gigi dan pasta giginya. Sedangkan kalau di Indonesia sikat gigi yang dianjurkan 2 kali sehari pagi dan malam hari, itupun masih sering tidak dilakukan,\u201d tukasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Spesialis Gizi Klinik dr Diana F Suganda MKes, SpGK menerangkan, dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa dilepaskan dari konsumsi gula. Sebab 50% bahkan sampai 60% energi berasal dari karbohidrat yang artinya gula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cBahkan dalam makanan yang tidak selalu manis pun mengandung gula. Akan tetapi kita masih boleh konsumsi gula selama sesuai dengan kuota tubuh,\u201d ujar Diana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Merujuk standar WHO, lanjut Diana, konsumsi gula yang masih diperbolehkan yaitu untuk dewasa maksimal 50 gram per hari dan anak-anak 30 gram per hari. Namun sayangnya berdasar data Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) Indonesia tahun 2014 menyatakan 29,7% masyarakat Indonesia mengonsumsi gula harian melebihi batas rekomendasi tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSelama ini masyarakat mengetahui jika makanan atau minuman manis yang merusak gigi. Akan tetapi, pada kenyataannya, hampir semua jenis makanan berpotensi menimbulkan gangguan pada kesehatan gigi dan mulut. Bahkan makanan atau minuman yang tidak manis sekalipun seperti capcay, martabak telor, lontong sayur, yogurt dan lainnya ternyata mengandung gula yang cukup tinggi. Banyak penyakit akibat gula berlebihan diabetes, obesitas, gigi dan mulut terutama karies,\u201d paparnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Division Head for Health &amp; Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, drg Ratu Mirah Afifah, GCClinDent, MDSc, menambahkan, pelaksanaan BKGN tahun sebelumnya edukasi perawatan kesehatan gigi dan mulut fokus ke anak-anak. Namun tahun ini sasarannya lebih luas lagi yaitu kepada keluarga. Salah satu bentuk edukasi yang menarik adalah disediakannya area wisata kuliner yang mengangkat hidangan khas Palembang yaitu pempek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cKami ingin mengedukasi bahwa di balik kelezatan hidangan yang kita konsumsi setiap hari, walau tidak manis sekalipun, masyarakat juga perlu mewaspadai risiko karies yang dapat diakibatkan gula tersembunyi,\u201d katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ketua AFDOKGI Dr drg Nina Djustiana MKes menyebutkan, pihaknya sangat mendukung pelaksanaan BKGN. Sebab untuk kesehatan gigi dan mulut ini lebih mengedepankan upaya preventif daripada \u00a0mengobati. Sebab kalau gigi sudah sakit akan lebih sulit pengobatannya dan pasien pasti menderita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u201cBKGN ini juga sangat baik bagi mahasiswa kedokteran gigi untuk menambah pengalaman. Tentunya mahasiswa kedokteran gigi yang dilibatkan dapat pengalaman berharga karena langsung bersinggungan dengan masyarakat. Meski belum pegang (menangani) pasien, tapi minimal mereka bisa memberikan penyuluhan bagaimana merawat gigi dan mulut yang baik dan benar,\u201d tutur Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran ini. (ije)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, fornews.co &#8211; Ratusan dokter gigi dan mahasiswa fakultas kedokteran gigi berkumpul di Palembang, Selasa (18\/09). Mereka berpartisipasi dalam pembukaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2018 yang dipusatkan di RS Gigi dan Mulut Provinsi Sumatra Selatan. Kegiatan yang telah memasuki tahun ke-9 ini, diselenggarakan Pepsodent bekerjasama dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":25196,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"spay_email":""},"categories":[16],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/09\/IMG_20180918_220658.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-6yn","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25195"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25195"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25195\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25199,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25195\/revisions\/25199"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25196"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25195"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25195"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25195"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}