
{"id":27170,"date":"2018-11-16T18:11:51","date_gmt":"2018-11-16T11:11:51","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=27170"},"modified":"2018-11-16T18:11:51","modified_gmt":"2018-11-16T11:11:51","slug":"awang-3445-celcius-kisah-bentang-alam-rawang-dalam-perspektif-nilai-nilai-seni-silat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/awang-3445-celcius-kisah-bentang-alam-rawang-dalam-perspektif-nilai-nilai-seni-silat\/","title":{"rendered":"&#8220;Awang 3445 Celcius&#8221; Kisah Bentang Alam Rawang dalam Perspektif Nilai-nilai Seni Silat"},"content":{"rendered":"<p><em><strong>Air<\/strong> adalah jiwa, jiwa berpikir bersama. Hutan adalah raga, raga menjaga bersama. Langit adalah sejarah. Kita hidup menari dan bernyanyi sebagai kebahagiaan. Mendayung ketenangan, berbagi harapan bersama sungai dan matahari. Hadirlah musim yang beku melahirkan api di rumah kami. Lalu sungai menenggelamkan dan mengeringkan kedamaian dan harapan. Kami pun tikar purun di langit. Memberi hujan batu api. (Sekilas narasi Awang 3445 Celcius)<\/em><\/p>\n<p>Teater Potlot akan menampilkan karya terbarunya dalam dua tahun terakhir, setelah \u201cMajhi\u201d (Conie Sema), \u201cRawa Gambut\u201d (Conie Sema) dan \u201cPuyang\u201d (T Wijaya). Pementasan terbaru ini berjudul \u201cAwang 3445 Celcius\u201d yang akan ditampilkan dalam Silek Arts Festival (SAF) di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padang Panjang, Sumatera Barat, Selasa (20\/11) malam.<\/p>\n<p>Teater Potlot terlibat dalam rangkaian festival teater SAF yang berlangsung dari 19-22 November 2018, bersama Teater Salembayung (Pekanbaru), Payung Hitam (Bangdung), Teater Satu (Lampung), Studio Taksu (Surakarta), Indonesia Performance Sindydicate (Padang Panjang), dan Teater Nan Tumpah (Padang).<\/p>\n<p>\u201cAwang 3445 Celcius\u201d ditulis T. Wijaya dan disutradarai Conie Sema akan bicara tentang perubahan bentang alam rawang atau rawa gambut di Indonesia dalam perspektif nilai-nilai seni silat atau silek (bahasa Minang).<\/p>\n<p>\u201cSilat atau silek merupakan seni bela diri bangsa ini. Seni ini belajar dari alam Indonesia yang kaya dengan flora dan fauna. Lalu, apa yang terjadi jika bentang alam di Indonesia rusak atau hilang, apakah silat masih bertahan dan berkembang. Silat apa yang muncul dari bentang alam yang sudah rusak itu?\u201d kata T Wijaya, penulis narasi, dalam siaran persnya, Jumat (16\/11).<\/p>\n<p>Sementara, Conie Sema Sutradara &#8220;Awang 3445 Celcius&#8221; berharap, melalui karya seni tersebut mampu membuka ruang diskusi mengenai identitas bangsa ini, yang dibaca melalui seni silat. Membicarakan jurus-jurus terbaru menghadapi musuh yang begitu rakus dan tamak akan sumber daya alam<\/p>\n<p>&#8220;Kita pun berharap SAF ini mendorong teater untuk menjadi fasilitator pencarian narasi menghadapi berbagai persoalan bangsa ini. Teater tidak hanya sibuk dengan persoalan dirinya,&#8221; kata Conie.<\/p>\n<p>Yusril Katil, Direktur Festival Teater SAF 2018, seperti dikutip sumbarsatu.com (http:\/\/www.sumbarsatu.com\/berita\/19746-7-kelompok-teater-di-indonesia-warnai-panggung-saf), tujuh kelompok teater di Indonesia yang akan tampil di iven pertunjukan teater ini merupakan representasi dari perkembangan kekinian visi teater modern Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Kendati tujuh kelompok teater ini belum bisa disebut mewakili untuk peta jalan teater Indonesia secara keseluruhan tapi paling tidak kelompok-kelompok teater yang tampil bisa disebut sebagai gambaran masih eksisnya teater Indonesia, terlepas dari soal artistik dan estetika, serta ideologi yang diembannya,\u201d kata Yusril Katil, yang juga sekaligus salah seorang kurator SAF 2018, Selasa (13\/11).<\/p>\n<p>Dijelaskan Yusril Katil lebih jauh, seni pertunjukan teater pada SAF 2018, tetap konsisten memilih silek atau seni tradisi sejenis ini, sebagai basis dan inspirasi proses kreatif para kreator (sutradara) teater.<\/p>\n<p>&#8220;Makanya, kita memilih temanya (Respons Teatrikal Terhadap Silek). Pengertian silek kami perluas sesuai dengan pemaknaan dan tafsir pada masing-masing sutradara. Kami meyakini, kita memiliki kekayaan seni tradisi yang kini masih bertahan dengan basis silek itu. Kekayaan itulah yang akan direinterprestasi secara bebas di atas panggung teater,&#8221; jelas Yusril Katil.<\/p>\n<p>Tentang Teater Potlot<\/p>\n<p>Teater Potlot didirikan di kampung kota, kawasan Trikora, Lorok Pakjo Palembang, Sumatera Selatan pada 15 Juli 1985. Diprakarsai anak muda yang awalnya berkumpul dalam wadah karang taruna. Kegiatan dimulai dengan studi naskah drama klasik antara lain, \u201cOedipus di Kolonus\u201d dan \u201cAntigon\u201d, karya Sophokles. Kemudian bersama TVRI Palembang, memproduksi beberapa drama dan musik.<\/p>\n<p>Produksi awal Teater Potlot, mengangkat naskah \u201cWong-Wong\u201d karya Anwar Putra Bayu, dilanjutkan dengan \u201cKursi\u201d, juga karya Anwar Putra Bayu. Tahun 1992-1994 mementaskan beberapa naskah antara lain, \u201cLysistrata\u201d karya Aristophanes (Palembang-Jambi), \u201cJakatarub\u201d karya Akhdiat, \u201cBonseras (Boneka Setengah Waras)\u201d di Jambore Teater, Cibubur Jakarta 1994 karya Conie Sema.<\/p>\n<p>Tahun 1994 hingga tahun 2000, Teater Potlot mulai mengubah bentuk dan orientasi teaternya dengan mementaskan karya-karya sendiri, antara lain \u201cSebungkus Deterjen Hari Ini\u201d karya Conie Sema,\u201dAku Namakan Lysistrata\u201d karya T. Wijaya, \u201cLydia dan Godot Belanja Gula-Gula\u201d karya T. Wijaya, \u201c50 Tahun Ikan Asin\u201d dalam \u201cKaos Kaki\u201d karya T. Wijaya, \u201cSandal Teklek di Muria\u201d karya T. Wijaya, \u201cOrang-Orang Barunta\u201d karya Conie Sema, pentas keliling tujuh kabupaten di Lampung (kolaborasi dengan Teater Satu Lampung), dan \u201cHutan Geribik\u201d karya Conie Sema, pentas keliling 50 desa konflik di Lampung.<\/p>\n<p>Setelah lama vakum, tahun 2016 kembali berproduksi dengan pertunjukan monolog \u201cMajhi\u201d karya Conie Sema. Tahun 2017-2018 memproduksi pentas keliling, roadshow Sumatera, di kota Palembang, Bandar Lampung, Jambi dan Pekanbaru, dengan mengangkat \u201cRawa Gambut\u201d karya Conie Sema. Naskah \u201cRawa Gambut\u201d yang mengusung tema kerusakan lingkungan itu, mendapat anugerah Rawayan Award dari Dewan Kesenian Jakarta (2017).<\/p>\n<p>Kemudian 15 Februari 2018 di Palembang, Teater Potlot bekerjasama dengan The Zoological Society of London (ZSL) mementaskan Puyang karya T. Wijaya. Naskah ini kembali ditampilkan dalam South Sumatra Landcape Festival 2018 di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang, 26 Juli 2018. Selama dua tahun ini Teater Potlot didukung Mongabay Indonesia, media yang focus pada persoalan lingkungan hidup. (ibr\/*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Air adalah jiwa, jiwa berpikir bersama. Hutan adalah raga, raga menjaga bersama. Langit adalah sejarah. Kita hidup menari dan bernyanyi sebagai kebahagiaan. Mendayung ketenangan, berbagi harapan bersama sungai dan matahari. Hadirlah musim yang beku melahirkan api di rumah kami. Lalu sungai menenggelamkan dan mengeringkan kedamaian dan harapan. Kami pun tikar purun di langit. Memberi hujan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":27172,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[9],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2018\/11\/FB_IMG_1542366283316.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-74e","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27170"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27170"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27170\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27173,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27170\/revisions\/27173"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27170"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27170"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27170"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}