
{"id":32072,"date":"2019-03-12T16:06:35","date_gmt":"2019-03-12T09:06:35","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=32072"},"modified":"2019-03-12T17:22:43","modified_gmt":"2019-03-12T10:22:43","slug":"sisi-sisi-hidup-che-guevara-untuk-kaum-intelektual","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/sisi-sisi-hidup-che-guevara-untuk-kaum-intelektual\/","title":{"rendered":"Sisi-sisi Hidup Che Guevara untuk Kaum Intelektual"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Penulis : Arafah Pramasto,S.Pd (Pemerhati Sejarah Asal Palembang dan Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah)<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Ia masih sering kita jumpai meski hanya dalam bentuk grafis. Terkadang dalam mode foto hitam putih ataupun siluet <em>treshold <\/em>wajah dengan baret berlogo bintang, kumis dan jenggot yang ikonik kini terpampang di stiker-stiker maupun poster. Figur bernama Ernesto Guevara, atau yang kemudian dikenal sebagai \u201cChe Guevara\u201d tentu tak lepas dari rekan revolusionernya, Fidel Castro.<\/p>\n<p>Kini, Che Guevara sayangnya tak lebih dari \u201cpelengkap\u201d budaya pop atau dekorasi di kamar anak-anak muda. Di sini tidak akan diulas mengenai heroisme ataupun peperangannya seperti yang sudah-sudah. Sisi-sisi hidup Che Guevara sebenarnya sangat luas maknanya untuk dibaca, apalagi untuk para kaum intelektual; bahkan ia mampu meluruskan hal-hal \u201cbengkok\u201d yang sekarang banyak diamini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Dipupuk Tumpukan Buku <\/strong><\/p>\n<p>Ernesto Guevara merupakan putra dari pasangan campuran Irlandia dan Basque (Spanyol). Nama \u201cChe\u201d yang ia sandang kemudian bukanlah nama asli. Ia dilahirkan di kota Rosario, Argentina pada tanggal 14 Juni 1928, dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia de la Serna; dia menjadi anak pertama dari lima bersaudara. Keluarganya berasal dari kelas ekonomi menengah yang liberal. Semenjak kecil Ernesto menderita asma yang menjadi penyakit kambuhan selama hidupnya.[1]<\/p>\n<p>Asal muasal keluarga yang berpunya, setidaknya keluarga Ernesto tidak tergolong miskin, dan bukan malah membuat dirinya berleha-leha. Sejak umur yang masih muda, ia telah menjadi pembaca yang lahap, bahkan literatur-literatur tentang Karl Marx, Engels, dan Sigmund Freud tersedia di ruang makannya. Ia lalu masuk ke sekolah menengah pertama pada 1941 di <em>Colegio Nacional Dean Funes<\/em>. Di sana ia menjadi yang terbaik di bidang sastra dan olah raga.[2]<\/p>\n<p>Kedekatannya dengan buku-buku itu seolah menjadi \u201cpupuk\u201d yang menyuburkan kemampuan intelektual Ernesto sebagai seorang anak. Meski ia senang membaca Karl Marx dan yang lainnya, namun orang tuanya tidak menganut pemikiran kolot yang khawatir anaknya tidak mampu masuk ke jurusan-jurusan bergengsi. Ternyata, kegemarannya membaca filsafat tak menghalanginya untuk diterima di jurusan bergengsi seperti kedokteran.<\/p>\n<p>Sesudah kepindahan keluarganya ke Buenos Aires tahun 1945, ia diterima sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Buenos Aires tahun 1947. Awalnya ia cuma tertarik dengan penyakit asma yang ia derita, tapi kemudian ia terpanggil untuk mempelajari penyakit lepra\/kusta. Ternyata, maknanya bagi para pemuda sekarang ialah bahwa kita tak boleh menyingkirkan disiplin ilmu apapun, meski kita memiliki kecenderungan pada satu bidang.<\/p>\n<p>Apalagi menolak suatu subjek, seumpama filsafat, karena alasan \u201ctakut sesat\u201d. Setiap individu, institusi, dan bangsa wajib memperkaya khazanah literaturnya, sehingga tidak terjebak pada kepicikan, seumpama menganggap seorang mahasiswa bahasa asing yang mengusung gagasan \u201cbuku Pop-Up\u201d, tanpa mempertimbangkan substansi apa yang akan disampaikan dalam bukunya yang sudah pasti \u201cberprestasi.\u201d Seperti dalam sebuah surat, yang ia tuliskan untuk orang tuanya tahun 1965 berisi permohonan maaf karena menjadi dokter tak lagi menarik baginya.[3]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Dokter ke Gerilyawan : Demi Rakyat ! <\/strong><\/p>\n<p>Ernesto memperoleh panggilan \u201cChe\u201d (panggilan khas Argentina) sejak bertemu dengan Fidel Castro tahun 1955, tokoh revolusioner yang sedang diasingkan karena gagal menjatuhkan rezim diktator Kuba, Fulgencio Batista. Tanggal 25 November sebanyak 82 pejuang termasuk Che berlayar ke Kuba dari Pelabuhan Tuxpan, Mexico.[4]<\/p>\n<p>Mereka kemudian memilih untuk bergerilya di pegunungan Sierra Maestra. Saat dihadapkan pada pilihan sulit apakah tetap di bagian medis atau ikut berperang, ia menulis : \u201c&#8230;<em>Aku meliha ransel obat-obatan serta sekotak amunisi di depanku namun kedua barang tersebut terlalu berat untuk kupanggul bersama. Aku kemudian mengambil amunisi dan meninggalkan obat-obatan&#8230;<\/em>\u201d[5]<\/p>\n<p>Benarkah pilihan itu muncul seketika, karena putus asa atau benci pada pasukan pemerintah diktator Batista? Nampaknya tidak. Di rumahnya (Argentina), saat Che Guevara masih kecil, ia tergerak hatinya oleh para pengungsi Perang Saudara Spanyol (1936-1939), juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina. Krisis ini memuncak di bawah pemerintahan diktator fasis Kiri, Juan Peron (sejak 1946; saat Ernesto hampir masuk kuliah), seorang yang ditentang Guevara.[6]<\/p>\n<p>Ia mengingat fase yang dialami oleh rakyat jelata. Apa yang dapat dipelajari oleh para akademisi\/intelektual sekarang, adalah kesadaran bahwa kontribusinya harus mampu menjawab kebutuhan khalayak ramai. Seumpama, saat kaum intelektual menyadari bahwa sebuah negeri sedang terancam radikalisme, maka mereka perlu membuat formulasi pemikiran penangkalnya. Bukan malah sibuk menggembar-gemborkan ide \u201cCerita Rakyat (Dongeng) di Instagram\u201d (Citragram), sekadar demi mengejar label \u201ckemajuan teknologi\u201d semata.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Penutup : Kaum Intelektual yang Ideal <\/strong><\/p>\n<p>Saat Che Guevara menghadiri Majelis Umum PBB tahun 1964, ia menyampaikan masalah imperialisme Barat, contohnya di Kongo (Afrika) sebagai contoh bencana akibat intervensi bangsa Barat. Ia bahkan dengan lantang berkata,\u201c&#8230;<em>Imperialisme ingin mengubah pertemuan ini menjadi sebuah turnamen orasi yang tak bermakna daripada menyelesaikan masalah yang serius di dunia<\/em>.\u201d [7]<\/p>\n<p>Che bukan orang yang ingin menjadi \u201cbadut intelektual\u201d, yang ulung mencari panggung, namun sekadar menjadi alat kepentingan. Sejak masa kuliah pun, ia telah antipati pada lakon \u201cpantomim demokrasi\u201d, politisi militer, kaum kapitalis, dan \u201cdolar Amerika\u201d sebagai lambang kapitalisme sendiri. Namun Che enggan ikut gerakan pelajar revolusioner dan era itu ia menunjukkan sedikit minat pada politik.[8]<\/p>\n<p>Pada sebuah artikel yang dikirimkannya pada majalah mingguan <em>Marcha<\/em> di Uruguay, dan terbit tanggal 12 Maret 1965 (dua tahun sebelum kematiannya), Che menulis pandangannya mengenai idealisme kaum intelektual : \u201c&#8230;<em>Kita tidak hendak menciptakan hamba-hamba pikiran resmi yang dungu, atau \u201csiswa-siwa beasiswa\u201d yang hidup atas biaya negara \u2013(namun hanya) mempraktikkan kebebasan yang mengekor saja<\/em>&#8230;\u201d[9]<\/p>\n<p>Hal ini penting untuk diperhatikan di saat meluasnya kemajuan teknologi yang mempermudah kita mencari literatur\/referensi. Sayangnya perkembangan tersebut malah menjadikan banyak para akademisi cenderung mengikuti trend-trend yang sudah ada. Di saat ada media yang katanya mampu meningkatkan hasil belajar, maka gagasan segera ditiru dan hanya sedikit merubah variabel saja.<\/p>\n<p>Sebut saja ide untuk \u201cmengurangi pemakaian kertas demi kelestarian hutan\u201d sehingga dibuatlah aplikasi untuk membantu pengerjaan skripsi mahasiswa secara online (<em>sriline<\/em>); orisinalitas karya ini diragukan mengingat bahwa gagasan pustaka digital telah dirintis sejak 1969 dengan berdirinya ERIC (<em>Education Resources Information Center<\/em>). Seolah-olah kegiatan intelektual tak jauh beda dengan \u201cdance\u201d atau \u201cchallenge\u201d viral di media sosial yang segera ditiru berbondong-bondong oleh para remaja !<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber :<\/p>\n<p>1.Tim Narasi, <em>Heroes of Freedom and Humanity : Kisah Para Pahlawan Kebebasan dan Kemanusiaan<\/em>, Yogyakarta : Narasi, 2006. Hlm.7.<\/p>\n<p>2.Krisnamurti, Affan, <em>Berguru Sukses Menjadi Pemimpin Kharismatis &amp; Fenomenal<\/em>, Yogyakarta : Araska, 2014. Hlm.38.<\/p>\n<p>3.Tim Narasi, <em>Che\u2019s File : Riwayat, Pidato, Pemikiran, dan Kumpulan Surat Pribadi Che Guevara<\/em>, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm.133.<\/p>\n<p>4.<em>Ibid<\/em> hlm. 25.<\/p>\n<p>5.Tim Narasi, <em>Heroes of Freedom and Humanity : Kisah Para Pahlawan Kebebasan dan Kemanusiaan<\/em>, Yogyakarta : Narasi, 2006. Hlm.9.<\/p>\n<p>6.Krisnamurti, Affan, <em>Berguru Sukses Menjadi Pemimpin Kharismatis &amp; Fenomenal<\/em>, Yogyakarta : Araska, 2014. Hlm.38.<\/p>\n<p>7.<em>Op.Cit. <\/em>hlm.15.<\/p>\n<p><em>8.Op.Cit.<\/em><\/p>\n<p>9.Tim Narasi, <em>Che\u2019s File : Riwayat, Pidato, Pemikiran, dan Kumpulan Surat Pribadi Che Guevara<\/em>, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 120.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Arafah Pramasto,S.Pd (Pemerhati Sejarah Asal Palembang dan Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah) Ia masih sering kita jumpai meski hanya dalam bentuk grafis. Terkadang dalam mode foto hitam putih ataupun siluet treshold wajah dengan baret berlogo bintang, kumis dan jenggot yang ikonik kini terpampang di stiker-stiker maupun poster. Figur bernama Ernesto Guevara, atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32073,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[19],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2019\/03\/che.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-8li","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32072"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32072"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32072\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32081,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32072\/revisions\/32081"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32073"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}