
{"id":32876,"date":"2019-03-28T17:49:57","date_gmt":"2019-03-28T10:49:57","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=32876"},"modified":"2019-03-28T17:49:57","modified_gmt":"2019-03-28T10:49:57","slug":"willem-tell-legenda-setengah-nyata-yang-jadi-motivasi-kemajuan-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/willem-tell-legenda-setengah-nyata-yang-jadi-motivasi-kemajuan-bangsa\/","title":{"rendered":"Willem Tell, Legenda Setengah Nyata yang Jadi Motivasi Kemajuan Bangsa"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Penulis : Arafah Pramasto,S.Pd. (Pemerhati Kesejarahan dan Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah)<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong>NAMA<\/strong> William Tell masih kurang akrab di telinga masyarakat kita. Padahal, menurut John H. Haaren, Tell merupakan satu tokoh termashur pada abad pertengahan di Eropa. Sebagai pahlawan kemerdekaan berselimut legenda, Tell menjadi simbol bagi salah satu negara maju di benua Eropa, bahkan dunia.<\/p>\n<p>Swiss, negeri yang menghormatinya sebagai \u2018Pahlawan Kemerdekaan\u2019, menempati peringkat PISA (Programme for International Student Assessment) \u2013 yakni sistem ujian untuk mengukur seputar pengetahuan dan pengaplikasian ilmu peserta didik \u2013 pada ranking ke-18 dari 73 negara di bidang sains tahun 2015.<\/p>\n<p><strong>Eropa Sekitar Kelahiran Tell<\/strong><\/p>\n<p>Rudolf adalah raja pertama Dinasti Hapsburg (1273), wangsa politik yang kuat dan berbahasa Jerman. Penobatannya dengan gelar \u2018Rudolf I dari German\u2019 secara geopolitik turut mempengaruhi kebijakan Paus, yang awalnya lebih memihak Prancis namun kemudian harus bisa \u2018menempatkan\u2019 diri antara kepentingan orang Prancis dan Jerman. Dalam salah satu peperangan yang banyak dilakukannya, Rudolf berhasil menaklukkan Austria. Dinasti Hapsburg sendiri berasal dari istana yang terletak di Gunung Wulpels di tepi kanan Sungai Aargau, tepatnya di sebuah canton (distrik) di lembah Rhine, moyang mereka sangat kaya dan berkuasa.[1]<\/p>\n<p>Pada tahun 1275, lahirlah William Tell di sebuah desa bernama Burglen, dekat Danau\u00a0Lucerne, Canton Uri, bagian dari Forest Canton. Seperti moyangnya, keluarganya hidup dari lahan pertanian dan perkebunan. Memasuki usia 20 tahun, Tell mendengar wasiat ayahnya saat menjemput ajal. Sang ayah berpesan, agar Tell meneruskan tanggung jawab menghidupi keluarga, serta tak takut berjuang hingga nafas terakhir dalam melayani negara. Permintaan terakhir itu sangat mengena pada hati Tell, dan setelah pemakaman ayahnya, dia segera memimpin para pekerja serta kemudian menghasilkan panen melimpah.[2]<\/p>\n<p><strong>Tell Melawan Austria<\/strong><\/p>\n<p>Kedamaian Forest Canton berubah, ketika Albert I, pengganti Rudolf I memimpin. Albert I mengirim tentara dan mengangkat Albrecht Gessler sebagai gubernur di Swiss. Gessler adalah seorang tiran. Dia menggantung tiruan topi Herzog, kaum bangsawan-militer Austria di pohon Linde yang dihormati orang Swiss. Kemudian dia juga turut memerintahkan penduduk Swiss, untuk memberi penghormatan secara khidmat dengan membuka tutup kepala (topi dsb.), berlutut dan membungkuk, seakan-akan berhadapan dengan seorang Herzog sendiri.[3]<\/p>\n<p>Peraturan Gessler itu dikuti ketetapan, bahwa orang-orang yang tidak menghormati topi, menurut aturan akan dijatuhi hukuman badaniah hingga penyitaan harta. Orang Swiss merasa terhina dengan peraturan itu. Penduduk setempat segera melakukan pertemuan-pertemuan rahasia, mereka saling bersumpah untuk menolong sesama dan berjuang demi kebebasan. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyiapkan senjata tanpa menarik perhatian orang-orang Austria. Diperlukan satu tahun lamanya untuk mendapatkan tombak, pedang dan kapak-perang dan mendistribusikannya di antara mereka.[4]<\/p>\n<p>Tell adalah seorang yang berani menolak penghormatan pada topi Herzog. Saat dia akan digelandang ke penjara, William Tell meneriakkan penolakannya, \u201c&#8230;Aku tidak mau. Tuan-tuan, orang Swiss merdeka !&#8230;\u201d Gessler kemudian mendatangi langsung Tell di depan khalayak ramai. Di hadapan sang gubernur, ia mengungkit kejahatan militer Austria pada Melchtal, petani tua yang dicungkil matanya karena menolak denda pajak tinggi. \u201c&#8230;bukan kami yang menghina kaisar (Austria), tetapi sebaliknya tuanlah (yang menghina kaisar tuan sendiri-Pen)!, Tell meneriaki wajah Gessler.[5]<\/p>\n<p>Setelah sempat ditahan, Gessler menawarkan pembebasan dengan syarat yang tak kalah menyakitkan. Gessler meminta Tell memanah sebuah apel yang diletakkan di atas kepala Walter, anak Tell sendiri. Hal itu adalah awal melegendanya nama William Tell, ia berhasil menuntaskan tantangan gubernur lalim yang berharap agar Tell membunuh putranya sendiri. Meski berhasil, Gessler ingkar dari janjinya dan Tell tetap ditahan.<\/p>\n<p>Malam harinya, ketika Tell dibawa menyeberangi Danau Lucerne menuju penjara, terjadilah badai. Di tengah-tengah badai Tell meloncat dari kapal tersebut ke satu batu yang menggantung dan melarikan diri. Para pendaki gunung, lengkap dengan senjatanya siap bertempur demi kebebasan mereka. Peperangan terjadi dan orang-orang Austria berhasil dihalau dari Altorf. Kemenangan ini diikuti oleh kemenangan-kemenangan lainnya.[6]<\/p>\n<p><strong>Motivasi dari yang Silam<\/strong><\/p>\n<p>Berdasarkan cerita rakyat setempat, Gessler kemudian mati terbunuh oleh panah William Tell yang menyergap pasukannya. Encyclopedia Britannica menjelaskan bahwa William Tell adalah \u201clegenda\u201d yang muncul dalam tulisan Gilg Tschudi berjudul Chronicon Helveticum (1734-1736). Tidak ada bukti sejarah yang membenarkan eksistensinya, meski legendanya menggelorakan semangat orang-orang Swiss melawan otoritas Austria.[7]<\/p>\n<p>Jim Erskine, adalah tokoh yang menentang anggapan bahwa Tell sekadar legenda semata. Jim meyakini, bahwa Tell tewas akibat bencana banjir bandang yang ikut melanda desa Burglen pada tahun 1350.[8]<\/p>\n<p>Mengapa bangsa Swiss bisa menggapai kemajuan, meski tokoh yang dihormatinya \u201csetengah nyata\u201d\/masih berbalut mitos ?. Kisahnya yang digubah menjadi karya sastra berjudul William Tell (1804) oleh sastrawan Jerman Johan Friedrich von Schiller, serta pertunjukan opera dengan judul yang sama tahun 1829 besutan Gioacchino Rossi, ikut menginspirasi revolusi-revolusi lintas Eropa di Prancis, Rusia, dan Spanyol.[9]<\/p>\n<p>Semestinya, Indonesia yang \u2018Raya\u2019 (besar) yang lahir dari tokoh-tokoh nyata dan telah nyata pula karya serta pengorbanannya \u2013 seperti para Bapak Bangsa kita, Sukarno, Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, Sjahrir,dll, memiliki bekal yang agung untuk menggapai kemajuan di segala lini peradaban. Namun bekal itu akan terbuang sia-sia jika hanya (dipakai) untuk menuduh orang lain \u201ctak agamis\u201d dan \u201ctidak nasionalis\u201d. Akhirnya, bangsa ini terus saja tertinggal.*<\/p>\n<p>Sumber :<\/p>\n<p>1.Siradj, Willem Tell : Pahlawan Kemerdekaan Bangsa Swiss, Bandung : NV. Masa Baru, 1978. Hlm. 23.<\/p>\n<p>2.Erskine, Jim, The Story of Willem Tell, Bahan Ajar Digital Homeschooling oleh Jim Erskine, dibagikan oleh HomeschoolFreebieOfTheDay.com, 2010. Hlm. 2.<\/p>\n<p>3.Op.Cit.Hlm.42.<\/p>\n<p>4.Haaren, John H., Tokoh-Tokoh Termasyhur Abad Pertengahan : Dari Alaric sampai\u00a0Warwick Sang Kingmaker, Jakarta : Penerbit Almeta, 2005. Hlm. 16<\/p>\n<p>5. Op.Cit.Hlm.54<\/p>\n<p>6. Op. Cit. Hlm. 166.<\/p>\n<p>7. www.britannica.com tanggal 13 November 2018<\/p>\n<p>8.Erskine, Jim, The Story of Willem Tell, Bahan Ajar Digital Homeschooling oleh Jim Erskine, dibagikan oleh\u00a0HomeschoolFreebieOfTheDay.com, 2010. Hlm. 9.<\/p>\n<p>9. www.robinsonlibrary.com tanggal 9 Juni 2018<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Arafah Pramasto,S.Pd. (Pemerhati Kesejarahan dan Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah) NAMA William Tell masih kurang akrab di telinga masyarakat kita. Padahal, menurut John H. Haaren, Tell merupakan satu tokoh termashur pada abad pertengahan di Eropa. Sebagai pahlawan kemerdekaan berselimut legenda, Tell menjadi simbol bagi salah satu negara maju di benua Eropa, bahkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":32877,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"spay_email":""},"categories":[19],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2019\/03\/Tell-William.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-8yg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32876"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32876"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32876\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32878,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32876\/revisions\/32878"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/32877"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32876"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32876"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32876"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}