
{"id":3541,"date":"2016-11-29T07:48:52","date_gmt":"2016-11-29T00:48:52","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/?p=3541"},"modified":"2016-11-29T13:21:07","modified_gmt":"2016-11-29T06:21:07","slug":"bromo-si-jelita-timur-pulau-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/bromo-si-jelita-timur-pulau-jawa\/","title":{"rendered":"Bromo, Si Jelita Timur Pulau Jawa"},"content":{"rendered":"<div class=\"mail-border spacer\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div class=\"mail-border spacer\" style=\"text-align: justify;\">\n<figure id=\"attachment_3542\" aria-describedby=\"caption-attachment-3542\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-3542 size-full\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161128_112825.jpg\" alt=\"Pemandangan dari puncak Gunung Bromo. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)\" width=\"640\" height=\"360\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161128_112825.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161128_112825-300x169.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3542\" class=\"wp-caption-text\">Pemandangan dari puncak Gunung Bromo. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n<div class=\"mail-border spacer\" style=\"text-align: justify;\">BROMO sebuah tempat yang begitu saja terlintas di benak saya saat hendak melakukan perjalanan wilayah timur Pulau Jawa (Jawa Timur). Di musim penghujan seperti ini, awalnya agak riskan memutuskan mengunjungi pegunungan. Namun, keinginan yang begitu menggebu membuat saya rela menanggung resiko apapun untuk sampai ke Puncak Gunung Bromo.<\/div>\n<div id=\"m17\" class=\"mail-message expanded\">\n<div class=\"mail-message-header spacer\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div class=\"mail-message-header spacer\" style=\"text-align: justify;\">\n<p>Untuk menuju gubung berapi yang tergolong aktif tersebut, begitu menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya, saya memutuskan mengambil jalur yang melintadi Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Jalur ini yang paling ramai banyak dilalui para pelancong (wisatawan lokal maupun manca negara) seperti saya, sebaab akses jalannya yang mudah dan paling nyaman. Kenapa nyaman? Karena sudah tersedia berbagai kebutuhan yang akan mendukung perjalanan kita agar semakin menyenangkan, hingga sampai ke Gunung Bromo.Sarana trasnportasi yang banyak dan mudah serta berbagai jenis akomodasi tersedia di sana. Mulai dari home stay sederhana, villa, hingga hotel sekelas resort yang menyuguhkan pemandangan Bromo dengan semburan asap putihnya (pertanda aktif) begitu eksotis dari jendela kamar tidur. Sebenarnya masih ada jalan lain yang dapat diakses menuju Bromo, yakni melalui Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang.<\/p>\n<p>Kebetulan, saya beserta rombongan tiba di Bromo, kondisi alam sudah diselimuti gelapnya malam. Wisatawan akan menikmati suasana pengunungan yang dingin dan hening penuh kedamaian, jauh dari bisingnya aktivitas Kota Metropolitan. Memang tidak banyak yang bisa kita lakukan di Bromo, saat malam hari, selain menikmati keheningan malam dan suasana bersahaja yang sulit dijumpai di kota-kota besar.<\/p>\n<p>Home stay yang kami tempati tepat berada di depan Kantor Desa Wonotoro. Hal yang mengejutkan, ternyata di daerah ini (tempat kami mengingap) pukul 23.00 WIB, listrik yang tiba-tiba padam (sengaja dipadamkan). Listrik di daerah Bromo, akan padam setiap pukul 23.00 WIB hingga pukul 03.00 WIB. Tidak ada pilihan lain selain berstirahat dan bersiap untuk mendaki puncak Bromo, esok pagi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3544\" aria-describedby=\"caption-attachment-3544\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-3544 size-medium\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082141-300x225.jpg\" alt=\"Jeep moda transportasi menuju Bromo (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082141-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082141-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082141-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082141.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3544\" class=\"wp-caption-text\">Jeep moda transportasi menuju Bromo (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Setelah beristirahat selama kurang lebih empat jam, sekitar pukul 03.00 WIB, mobil Jeep (doble gardan) sudah siap untuk mengantar kami ke puncak Bromo. Kami pun bergegas menaiki Jeep dan menuju daerah Penanjakan. Dari home stay ke Penanjakan, berjarak kurang lebih satu jam perjalanan mobil. Kami menembus gelapnya subuh sambil berbincang dengan pak Manto. Pak Manto, sendiri merupakan penyedia jasa home stay sekaligus angkutan Jeep yang sangat berpengalaman, lebih dari tiga puluh tahun mengantar wisatawan ke Bromo.<\/p>\n<p>Bahkan dua dari tiga anaknya juga ikut mengelola usaha penyewaan Jeep dan home stay yang dia miliki. Selama di perjalanan menuju Penanjakan, pak Manto, bercerita banyak hal sambil sesekali memantau anak buahnya yang juga membawa wisatawan ke Bromo. Pria yang mengaku &#8220;hanya&#8221; memiliki 7 buah jeep ini mengungkapkan bahwa tidak semua sopir handal dan mampu mengendarai Jeep menuju Bromo. Bagi mereka yang tidak berpengalaman harus berfikir ulang untuk mengendarai mobil sendiri ke sini mengingat medan yang sempit, menanjak dan berkelok tanpa penerangan jalan sama sekali.<\/p>\n<p>Pagi itu hanya ada sekitar 200 Jeep yang beroperasi mengantar wisatawan. Pada saat peak season biasanya Juli-Agustus, ada sekitar 2.000 Jeep yang berlalu lalang ke Bromo, sehingga jalur ke Penanjakan, menjadi sangat padat. Sesampainya kami di area parkir Penanjakan, pak Manto, memarkir Jeepnya kemudian mengingatkan kepada saya untuk berjalan menuju areal warung-warung kopi yang hanya berjarak 100 meter dari mobil saya.<\/p>\n<p><strong>Riuhnya Ojek dan Pedagang Kopi<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_3545\" aria-describedby=\"caption-attachment-3545\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-3545 size-large\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_080858-1024x768.jpg\" alt=\"Pedagang makanan, minuman hangat dan souvenir. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)\" width=\"1000\" height=\"750\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_080858-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_080858-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_080858-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_080858.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3545\" class=\"wp-caption-text\">Pedagang makanan, minuman hangat dan souvenir. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Begitu turun dari Jeep pak Manto, ternyata warga setempat tidak menyia-nyiakan untuk mengais rezeki dengan menyedikan jasa ojek, bagi mereka yang tidak mau bersusah payah untuk sampai puncak Bromo. Jasa ojek di sini berkisar Rp15.000-Rp20.000 per\/orang. Meski tawaran terus berdatangan dari penyedia jasa ojek, saya bersama rombongan bertekad untuk berjalan kaki saja.<\/p>\n<p>Sebelum meniti langkah ke puncak Bromo, kami pun tertarik seperti pesan pak Manto, untuk menghangatkan tubuh dengan sajian minuman hanya. Di area warung-warung kopi yang menyediakan aneka minuman dan makanan hangat ternyata, sudah banyak wisatawan yang lebih dulu sampai disana. Ada juga Mushala yang disediakan untuk kami Sholat Subuh terlebih dahulu.\u00a0Sambil menunggu matahari terbit, saya memilih segelas teh panas untuk menghangat badan. Suhu di Bromo sendiri, pada kondisi tertentu diperkirakan bisa mencapai 10 derajat. Selain berpakaian tebal, minuman hangat dianjurkan setiba di Gunung Bromo.<\/p>\n<p>Pukul 04.30 WIB kami melanjutkan berjalan kaki menaiki tangga menuju Pura Penanjakan. Pura Penanjakan ini adalah sebuah areal yang didirikan khusus untuk wisatawan menikmati matahari terbit di Pegunungan Tengger. Bentuknya adalah ruang terbuka seperti teater dengan tangga lebar yang dapat dipakai untuk duduk para wisatawan dan pemandangan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah &#8220;layarnya&#8221;.<\/p>\n<p>Bromo merupakan salah satu puncak gunung yang ada di Pengunungan Tengger. Puncak lain yang dapat kita nikmati keindahannya adalah Gunung Batok, dan Gunung Semeru, yang terletak paling jauh. Sekitar pukul 05.00 WIB, matahari mulai terbit, namun sayang semburan warna jingganya yang memesona tidak dapat kami nikmati saat itu karena cuaca mendung. Setelah puas menikmati pemandangan Taman Nasional Bromo, Tenger, dan Semeru dari Pura Penanjakan kami kembali ke Jeep.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3547\" aria-describedby=\"caption-attachment-3547\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignright\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-3547 size-medium\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161126_060707-300x169.jpg\" alt=\"Semburan asap dari kawah Gunung Bromo. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161126_060707-300x169.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161126_060707.jpg 640w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3547\" class=\"wp-caption-text\">Semburan asap dari kawah Gunung Bromo. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pak Manto akan mengantar kami ke Puncak Bromo, areal Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies. Sekitar 15 menit dari Pura Penanjakan kami tiba di areal parkir Jeep untuk menuju puncak Bromo dan sekaligus puncak pendakian kami. Ada moda transportasi kuda yang akan membawa kita mendekati puncak Bromo. Bagi yang enggan menaiki kuda bisa berjalan kaki sejauh kurang lebih 4 kilo meter (km). Dengan demikian perjalanan pulang pergi harus ditempuh sejauh 8 km. Bagi saya yang tidak memiliki jiwa petualang, berjalan kaki sejauh itu terasa terlalu berat dan memilih menaiki kuda saja dengan tarif Rp125.000.<\/p>\n<p><strong>Bunga Abadi Edelweis dan &#8220;Gurun Sahara&#8221;<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_3546\" aria-describedby=\"caption-attachment-3546\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-3546 size-large\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_074014-1024x768.jpg\" alt=\"Hamparan pasir (pasir berisik) di Bromo. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)\" width=\"1000\" height=\"750\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_074014-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_074014-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_074014-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_074014.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3546\" class=\"wp-caption-text\">Hamparan pasir (pasir berisik) di Bromo. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Tiba di areal parkir kuda, saya menemui penjual minuman dan souvenir. Bunga edelweis menjadi salah satu souvenir bromo yang paling banyak dijajakan di sana. Menuju puncak Bromo, saya harus berjalan kaki sekitar 200 meter dan menaiki 250 anak tangga. Hujan semalam membuat tangga ditutupi pasir dan menjadi licin. Sangat diperlukan kehati-hatian agar tidak terjatuh.<\/p>\n<p>Lelah menaiki ratusan anak tangga dengan kemiringan di atas 30 derajat terbayar sudah dengan pemandangan di puncak Bromo, yang luar biasa indah. Gunung Batok terlihat anggun dari sini, Puncak Semeru malu-malu menyembul dari kejauhan. Jarak antara tempat saya berdiri dengan bibir kawah hanya 50 cm dengan aroma belerangnya sehingga harus extra hati-hati agar jangan sampai tergelincir.<\/p>\n<p>Beruntungnya saya, Kawah Bromo pagi itu mengeluarkan asap yang tidak berbahaya, satu bulan lalu adalah terakhir kalinya Bromo mengeluarkan semburan yang membuat wisatawan hanya dapat menikmati keindahannya dari kejauhan. Oh iya&#8230;setiap bulan Agustus, penduduk Hindu Tengger mengadakan upacara persembahan untuk Gunung Bromo. Upacara dilakukan di sebuah Pura yang ada di kaki Gunung Bromo, yang tak jarang menarik perhatian bagi wisatawan untuk menyaksikannya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3548\" aria-describedby=\"caption-attachment-3548\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-3548 size-medium\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161126_060716-300x169.jpg\" alt=\"Tangga untuk menggapai puncak Gunung Bromo. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161126_060716-300x169.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161126_060716.jpg 640w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3548\" class=\"wp-caption-text\">Tangga untuk menggapai puncak Gunung Bromo. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Tidak lama berada di puncak, saya kembali ke parkiran Jeep untuk kemudian menuju areal Pasir Berbisik. Areal ini adalah &#8220;gurun sahara&#8221; bagi Indonesia. Hamparan pasir yang sangat luas dimana saat musim kemarau angin akan meniup pasir ini dan menimbulkan suara seperti berbisik. Tipikal pasir di sini, sangat lembut dengan warna hitam pekat dan berkilauan. Namun, tidak lengket seperti pasir di pantai yang mengandung garam.<\/p>\n<p><strong>Bukit Teletubies<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_3549\" aria-describedby=\"caption-attachment-3549\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignright\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-3549 size-medium\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082042-300x225.jpg\" alt=\"Padang Teletubies. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082042-300x225.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082042-768x576.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082042-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/20161125_082042.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3549\" class=\"wp-caption-text\">Padang Teletubies. (m aris\/citizen jurnalism untuk fornews.co)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Perjalanan dilanjutkan menuju bukit teletubies. Areal ini merupakan padang savana yang cukup luas dengan hamparan rumput yang menyejukan pandangan mata. Jika anda merasa kehausan atau lapar, jangan khawatir karena di sini, ada beberapa tenda penjual makanan dan minuman. Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan, kami kembali diantar menuju homestay sambil menikmati pemandangan perkebunan sayuran milik warga. Sekitar pukul 09.00 WIB perjalanan mengeksplorasi Bromo pun selesai.<\/p>\n<p>Para pedagang, penyewa kuda, penyewa Jeep yang kesemuanya merupakan warga lokal, adalah mereka yang sadar wisata. Bromo memberikan kehidupan bagi mereka, sehingga mereka benar-benar menjaga kawasan ini tetap bersih. Mereka tidak ragu memungut sampah yang terkadang ditinggalkan wisatawan. Indonesia begitu indah, tidak akan ada habisnya untuk dieksplorasi, tinggal bagaimana perilaku kita sebagai wisatawan menjaga dan melestarikannya. Jangan tinggalkan sampah di Gunung yaaa&#8230;(m aris\/citizen jurnalism)<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"mail-message-footer spacer collapsible\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BROMO sebuah tempat yang begitu saja terlintas di benak saya saat hendak melakukan perjalanan wilayah timur Pulau Jawa (Jawa Timur). Di musim penghujan seperti ini, awalnya agak riskan memutuskan mengunjungi pegunungan. Namun, keinginan yang begitu menggebu membuat saya rela menanggung resiko apapun untuk sampai ke Puncak Gunung Bromo. Untuk menuju gubung berapi yang tergolong aktif [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":3542,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[18],"tags":[9,75],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/11\/IMG_20161128_112825.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-V7","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3541"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3541"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3541\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3569,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3541\/revisions\/3569"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}