
{"id":36291,"date":"2019-06-15T21:17:36","date_gmt":"2019-06-15T14:17:36","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=36291"},"modified":"2019-07-24T03:09:54","modified_gmt":"2019-07-23T20:09:54","slug":"jalur-palembang-lubuklinggau-serta-potensi-edukasi-sejarahnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/jalur-palembang-lubuklinggau-serta-potensi-edukasi-sejarahnya\/","title":{"rendered":"Jalur Palembang-Lubuklinggau serta Potensi Edukasi Sejarahnya"},"content":{"rendered":"<p><b><i>Penulis : Sapta Anugrah, S.Pd (Ketua Studie Club Gerak Gerik Sejarah dan Pramugara Kereta Api)<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kapan moda transportasi kereta api hadir pertama kali di Provinsi Sumatra Selatan? Pernahkah pertanyaan itu terbesit dalam pikiran para penumpang di masa kini? Perkeretaapian di Sumatra Selatan memiliki sejarah penting yang mungkin sekarang telah jarang dibaca lagi oleh generasi kekinian.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kita perlu mengingat bagaimana teknologi ini diperkenalkan ke bumi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Andalas <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Pulau Sumatra). Teknologi transportasi ini dalam kondisi yang getir tatkala perang perlawanan Aceh bahkan masih belum dapat dipadamkan seluruhnya oleh Hindia Belanda. Pada tahun 1874, pasukan kolonial Belanda membawa ke Aceh rel kereta api ukuran sempit, enam belas gerbong kereta api, dan kantin lengkap tenaga uap untuk memberi makan pasukan, tujuannya ialah untuk menghubungkan tempat demarkasi pelabuhan Ulee Lheue dan Kutaraja dengan rel kereta api sepanjang 5 km.[1]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di zaman kolonial, Jawa secara fisik dipersatukan oleh satu jalur kereta api yang tuntas pada tahun 1894. Sebaliknya, pembangunan jalan kereta api di Sumatra bukan dimaksud untuk mempersatukan seluruh pulau.[2] Pembangunan rel kereta api yang dilakukan di Sumatra untuk tujuan non-militer, pertama kali dilaksanakan di Sumatra Utara (1886-1937) dengan panjang 554 km.[3] <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Deli Spoorweg Maatschappij <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(DSM) sebagai perusaahan yang membangun rel kereta pertama di Sumatra Utara, Tan Malaka mencatatkan dalam karyanya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Penjara ke Penjara <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bahwa pada tahun 1920-an di Deli terdapat sekitar 500 perkebunan yang pengangkutannya lancar sekali karena Deli-Spoor menghubungkan ratusan kebun tersebut.[4] <\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, setelah Sumatra Utara, rel kereta api dibangun di kawasan Sumatra Barat (1891-1921) sepanjang 263 km. Tahun 1875 dan 1878 dibuka tambang batu bara di Ombilin sebagai hasil dari penelitian \u00a0ahli geologi asal Belanda bernama W.H. De Greeve pada tahun 1867. Baru tahun 1887 pemerintah menyetujui rencana pembangunan jalur kereta api dengan tujuan Sawahlunto itu. Soematera Staatspoorwegen (SSS) adalah perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang melaksanakan pembangunan jalur kereta api yang nanti pada tahun 1892 telah mencapai Muaro Kalaban. Stasiun Sawahlunto diresmikan bersamaan dengan pembukaan jalur Muaro Kalaban-Sawahlunto pada tanggal 1 Januari 1894. Setelah jalur Pelabuhan Teluk Bayur-Sawahlunto selesai, hasil pertambangan di tempat ini menunjukkan hasil yang memuaskan. Pertambangan Sawahlunto berhasil menghasilkan 508.000 ton batu bara pada tahun 1917 .[5]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Sumatra Selatan pembangunan rel dimulai tahun 1911, lintas pertama adalah sepanjang 12 km dari Pelabuhan Panjang menuju Tanjung Karang. Lintas ini mulai dilalui kereta api pada tanggal 3 Agustus 1914, pada waktu yang bersamaan dilaksanakan juga pembangunan jalan rel dari Kertapati (Palembang) menuju ke arah Prabumulih, di tahun yang sama lintas kereta api itu sudah mencapai 78 km.[6] Berturut-turut kemudian dibangun jalur Tanjung Karang-Kota Bumi (1920), Prabumulih-Baturaja (1923), Muara Enim-Lahat (1924), Baturaja-Martapura (1925), Kotabumi-Negararatu (1926) dan lintas terakhir Negararatu-Martapura (1927). Dengan demikian lintas Palembang-Panjang diselesaikan sepanjang 529 km.[7] Salah satu konsekuensi dari pembangunan jalur kereta api ialah pada tahun 1927 sebagian kopi rakyat daerah dataran tinggi daerah dataran tinggi bagian selatan (Ranau, Baturaja, dan Martapura) diangkut ke Palembang dengan kereta api, tidak lagi menggunakan kapal atau perahu. Jelasnya, moda transportasi kereta api mempersingkat waktu tempuh pergi-pulang yang sebelumnya dengan menggunakan pedati memakan waktu satu minggu antara kota Palembang ke pedalaman.[8] <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah masa pembukaan jalur-jalur kereta api dalam rentang waktu 1911-1927, ternyata Lubuklinggau mempunyai posisinya sendiri dalam sejarah perkeretaapian Sumatera Selatan. Jika ditinjau dari pembukaan-pembukaan lintas, maka lintasan penghabisan (akhir) yang dibuka adalah \u2018Lintas Muarasaling-Lubuklinggau\u2019 pada tanggal 30 Juni 1933.[9] Selesainya pembangunan jalur itu, pada tahun yang sama dibukalah Stasiun Lubuklinggau (disingkat Stasiun LLG). Jalur ini diprakarsai oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Namlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(NV NISM), cikal bakal PT Kereta Api (PT KA).[10]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembangunan rel kereta api zaman kolonial di wilayah Pulau Sumatra sendiri, regional Sumatra Selatan (Palembang- Lampung) adalah yang paling akhir dibangun. Berturut-turut pembangunan rel kereta api dilakukan di pulau ini seperti Sumatra Utara (1886-1937) dengan panjang 554 km, Sumatra Barat (1891-1921) sepanjang 263 km, dan Sumatra Selatan (1914-1933) dengan panjang 661 km. Meskipun jalur Sumatra Selatan yang paling panjang, namun terpisahnya ketiga regional perlintasan perkeretaapian yang tidak saling berhubungan tentu membuat moda transportasi ini belum terbilang sempurna. Apalagi panjang jalur kereta api seluruh Sumatra saat itu hanya mencakup 6,9% dari luas pulau ini.[11] <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditinjau dari sisi transportasi, jalur yang menghubungkan Palembang-Lubuklinggau, Stephen Backshall dalam buku panduan pariwisatanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Rough Guide to Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menyebutnya sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">limited but useful passenger rail service <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau \u2018jalur kereta api yang terbatas namun sangat berguna\u2019 sebagai akses transportasi sekitar wilayah ini.[12] Istilah \u2018terbatas\u2019 dalam pendapat Backshall ialah didasarkan pada fakta bahwa belum ada jalur kereta api yang menghubungkan seluruh Pulau Sumatra. Kondisi faktual ini adalah warisan yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda. Penyebab atau prakondisi itu ialah karena pembangunan jalur kereta api di pulau ini bukan dimaksud untuk mempersatukan seluruh pulau \u2013 seperti disebutkan sebelumnya tendensi utama pembangunan ini hanya untuk kebutuhan eksploitasi kolonial \u2013 maka pembangunannya pun dilaksanakan pada tiga daerah terpisah : 1) Sumatra Selatan-Lampung, 2) Sumatra Utara-Aceh, dan 3) Sumatra Barat. Ketiga jalan (rangkaian jalur) kereta api yang terpisah-pisah ini tidak pernah terhubung satu sama lain.[13] <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalur kereta api Palembang-Lubuklinggau (juga sebaliknya) yang telah berumur cukup tua \u2013 bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia \u2013 ternyata menyimpan sumber-sumber kesejarahan yang potensial untuk dipromosikan. Beberapa kota yang dilaluinya memiliki ikon kesejarahan yang penting untuk diabadikan. Selain Kota Palembang yang memang telah banyak dikenal sebagai pusat Sriwijaya, Kota Prabumulih dikenal sebagai salah satu kota yang bernilai ekonomis sejak zaman kolonial Belanda. Pembukaan jalur kereta api yang melewati Kota Prabumulih didasari oleh alasan ekonomi semata dengan dimulainya pengeboran minyak di kota ini, Muara Enim, dan Martapura.[14] Posisi Prabumulih semasa perjuangan sangatlah vital, karena setelah Perang Lima Hari Lima Malam (1945) di Palembang, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Peroesahaan Minjak Repoeblik Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (PERMIRI) \u2013 cikal bakal PT Pertamina \u2013 memindahkan pusat administrasinya ke Prabumulih.[15] Setelah Prabumulih, Muara Enim setidaknya memiliki dua catatan penting dalam kesejarahan Sumatra Selatan yakni dibukanya tambang batu bara (1919), minyak pada 1864 dan yang lebih tua lagi ialah bersama-sama dengan Kabupaten Lahat ialah wilayah yang menjadi persebaran dari kebudayaan Megalitikum.[16]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalur kereta api ini menjadi salah satu saksi bisu ketika rakyat berjubel meminta Bung Hatta berpidato di stasiun-stasiun kereta yang menjadi ramai karena kunjungan beliau ke Sumatra Selatan pada pertengahan 1947. Bung Hatta menginap di kediaman drg. M. Isa (gubernur muda Sumatra Selatan) di Palembang. Wakil Presiden pertama itu kemudian berkunjung ke Prabumulih, Tanjung Raja, Kayu Agung, Tanjung Enim dan Muara Enim. Bung Hatta menginap semalam di Lahat dan dua malam di Lubuklinggau, lalu beliau terus berangkat ke Surulangun. Perjalanan Bung Hatta saat itu dimaksudkan untuk memperkuat moral perjuangan kemerdekaan rakyat Sumatra melawan Belanda. Drg. M. Isa juga melewati jalur kereta api ini saat ia kembali dari gerilya di luar Kota Palembang sejak akhir 1947 hingga disepakatinya gencatan senjata RI-Belanda tahun 1949.[17]<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya jarang sekali yang memaknai (secara historis) bahwa perjalanan dalam rute Palembang-Lubuklinggau mempunyai keberagaman khazanah sejarah-budaya yang \u201clintas zaman\u201d, apabila dirincikan ialah sebagai berikut : 1) Era Megalitikum (pra-Sriwijaya), 2) Era Sriwijaya, 3) Era Kesultanan Palembang, 4) Masa Kolonial, 5) Sejarah Kontemporer Pasca Kemerdekaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">PT KAI dapat sangat berperan dalam melestarikan masalah kesejarahan bidang perkeretaapian dan dipublikasikan untuk para penumpang di Sumatra Selatan melalui produk publikasi yang lebih menarik dan berkesan dari pada majalah maupun buku. Dalam hemat penulis, hal ini dapat diterapkan melalui tiga cara :<\/span><\/p>\n<p><b>a.\u00a0 Video Promosi Sejarah Budaya <\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Media ini dapat dikembangkan untuk memperkenalkan potensi kesejarahan dan budaya yang dapat menarik perhatian penumpang. Sebagai pengiring dalam kegiatan perjalanan, video promosi tidak ditujukan untuk menguak secara keseluruhan warisan sejarah yang dimiliki oleh Provinsi Sumatra Selatan, namun video tersebut diputar pada para penumpang dengan maksud sebagai pengenalan serta untuk menarik atensi mereka. Kegiatan para penumpang kereta api dalam 15-20 menit pertama perjalanan ialah untuk merespons pemeriksaan tiket, berbincang ringan dengan keluarga maupun penumpang lain, dan ada pula yang langsung tertidur.[18] Pemutaran video pengenalan kesejarahan dan budaya dapat dilakukan pada rentang waktu ini karena setelah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Train Attendant <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(pramugara\/pramugari) membagikan menu kepada para penumpang dan mengambil kembali menu tersebut terdapat selisih waktu hingga lima menit. Video pengenalan sebagai apersepsi pada penumpang diusahakan tidak berbentuk kajian komprehensif kesejarahn yang akan menimbulkan kepenatan dan rasa bosan. Waktu durasi video ini juga tidak terlalu panjang karena sifatnya yang hanya sebagai pengenalan dan mampu memberikan informasi padat, jelas, tepat serta menarik perhatian.<\/span><\/p>\n<p><em><strong>b. Direct Promotion\u00a0<\/strong><\/em><b>oleh <\/b><b><i>Train Attendant<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Promosi langsung atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Direct Promotion <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">oleh para <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Train Attendant <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah sebagai kegiatan inti dari promosi wisata sejarah-budaya di Sumatra Selatan. Optimalisasi peran para pramugari\/pramugara memiliki nilai lebih yakni informasi yang disampaikan kepada para penumpang tidak hanya sebatas dari peralatan elektronik (benda mati), meskipun tidak berarti bahwa peralatan elektronik tidak diperlukan, karena pada penerapannya tetap dibutuhkan teknologi sebagai alat bantu dalam promosi. Pelaksanaan kegiatan promosi langsung bisa dilakukan saat perjalanan dalam rute tersebut telah dilalui selama lima jam. Berdasarkan pengamatan, para penumpang memilih untuk beristirahat setelah empat jam perjalanan dan lama mereka beristirahat ialah selama kurang lebih satu jam.[19] Maka dengan adanya promosi langsung yang dilakukan oleh pramugari\/pramugara kereta api dapat memberi efek optimal bagi para penumpang setelah mereka beristirahat. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan tenaga dua awak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Train Attendants, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dengan itu diharapkan tidak akan mengganggu kinerja pokok dalam melayani penumpang. Dengan meninjau efek potensi gender dalam promosi ini, maka tenaga pramugari yang akan dipakai dalam promosi. Tenaga pramugara dapat dioptimalkan untuk menawarkan produk-produk yang bernilai ekonomis dan edukatif seperti souvenir-souvenir miniatur tempat-tempat bersejarah di Sumatra Selatan, boneka-boneka berpakaian tradisional, hingga buku-buku bertema kesejarahan dan budaya provinsi ini. Guna memperoleh efisiensi pelaksanaan promosi ini maka salah satu cara yang bisa dipilih ialah pengenalan wisata sejarah-budaya dengan dibantu oleh video \u201cbisu\u201d yang dinarasikan secara langsung oleh Pramugari.<\/span><\/p>\n<p><b><i>c. <\/i>Brosur\u00a0<\/b><b>Mini Map <\/b><b>Kesejarahan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk melengkapi optimalisasi peran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Train Attendant <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dalam promosi wisata sejarah-budaya yang pada bagian sebeumnya telah diulas tentang rancangan kinerja operasionalnya, publikasi tertulis tetap harus diusahakan. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, hanya didapati sekitar lima sampai tujuh orang penumpang yang membawa bahan bacaan seperti halnya koran atau tabloid selama perjalanan. Sumber bacaan berupa buku dan majalah sangat jarang ditemukan sebagai sumber bacaan para penumpang selama perjalanan. Adapun brosur yang disebarkan oleh PT. KAI di dalam kereta api ialah berbentuk petunjuk keselamatan.[20] Dengan mempertimbangkan fakta yang ditemukan itu, pembuatan brosur sebagai pelengkap promosi wisata sejarah-budaya dapat turut diusahakan. Contoh desain brosur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mini map <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menurut gagasan penulis ialah sebagai berikut :<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-36292\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2019\/06\/Brosur-KAI-300x197.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"197\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2019\/06\/Brosur-KAI-300x197.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2019\/06\/Brosur-KAI.jpg 498w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><b>Keterangan :<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desain brosur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mini map <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang dirancang ini memang dibuat untuk mempermudah para penumpang memperoleh informasi kesejarahan. Tajuk utama yang bertuliskan \u201cNilai Kesejarahan Rute Kereta Api Palembang-Lubuklinggau &amp; Lubuklinggau-Palembang\u201d secara langsung memberikan keterangan konten yang akan diperoleh oleh pembaca. Jalur peta yang menggambarkan rangkaian perjalanan dalam rute ini dibuat dengan memadukan desain grafis yang sifatnya ialah untuk menunjukkan ikon masing-masing kota seperti Palembang yang diwakili oleh Jembatan Kertapati dan Gedung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Waterleiding<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Prabumulih yang diwakili oleh pemandangan situasi keramaian stasiunnya di masa kolonial, Muara Enim dengan tambang minyaknya, Lahat dengan megalitikumnya, serta Lubuklinggau dengan stasiun yang telah berdiri sejak masa kolonial. Gambar lokomotif uap pada bagian tengah atas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mini map <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ditujukan untuk memberikan kesan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">vintage <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(klasik\/tua) agar para penumpang menyadari bahwa selain dari kesejarahan Sumatra Selatan yang telah eksis sejak dahulu, moda transportasi kereta api juga telah dikenal di wilayah ini sejak masa pra-Kemerdekaan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Informasi yang perlu disampaikan di dalam brosur harus bersifat singkat, padat, dan tepat. Untuk itu dalam rancangan desain brosur ini telah dipilih &#8211; selain dari ikon gambar untuk setiap kota yang dilalui &#8211; informasi terpenting yang bisa menggambarkan kekayaan sejarah setiap kota. Informasi-informasi itu harus dideskripsikan secara naratif dan disisipkan pada brosur yang telah didesain. Berikut ini ialah rincian deskripsi naratif tentang kota-kota yang dilalui rute Palembang-Lubuklinggau tersebut :<\/span><\/p>\n<p><b>&#8211; Palembang<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPalembang adalah kota tua yang telah berdiri sejak 682 M yang ditandai secara otentik dengan adanya prasasti Kedukan Bukit yang sekarang masih dapat dijumpai replikanya di Museum Sriwijaya, Museum Balaputra Dewa dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan Belanda pada tahun 1821, Kesultanan Palembang dihapuskan empat tahun setelahnya (1825). Memasuki abad ke-20, perdagangan Palembang semakin menunjukkan kemajuan terutama dengan dibangunnya jalur kereta api pada rentang tahun 1914-1915 dan dibukanya jalur yang menyambungkan antara Stasiun Kertapati ke Prabumulih. Pemerintah jajahan Belanda menekankan tujuan utama dibukanya jalur kereta api untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>&#8211; Prabumulih<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDikenal sebagai kota penghasil nanas di era modern, sejak masa kekuasaan Hindia Belanda hingga awal abad ke-20, Prabumulih memiliki hasil bumi yang strategis yakni minyak. Sejak dibukanya jalur kereta api beserta stasiunnya pada tahun 1915, Prabumulih menjadi kota yang ramai dikunjungi oleh berbagai penduduk untuk beragam urusan. Keramaian stasiun kereta api Prabumulih bahkan telah dikenal sejak zaman kolonial\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>&#8211; Muara Enim<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMuara Enim adalah kabupaten dengan potensi tambangnya yang begitu besar. Di zaman kolonial Hindia Belanda dilakukanlah eksplorasi batu bara pada tahun 1895 di bawah kongsi dagang Lematang Maatschappij setelah itu pemerintah kolonial mengambil alih hasil eksplorasi dan pengelolaannya hingga akhirnya tahun 1923 beroperasi penambangan di Tambang Air Laya. Penambangan minyak jauh lebih tua dengan dibukanya tambang pada tahun 1864 di bawah Muara Enim Petroleum Maatschappij yang didirikan oleh J.W. Ijzerman. Di samping kekayaan tambang, Muara Enim juga termasuk wilayah persebaran megalitikum, meskipun tidak sebanyak yang ditemukan di kabupaten Lahat\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>&#8211; Lahat<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLahat dikenal sebagai \u201cTanah Seribu Megalit\u201d karena persebaran situs-situs megalitikum yang begitu banyak. Peradaban megalitikum ialah suatu jenis peninggalan kebudayaan dalam sejarah saat manusia telah mengenal penggunaan logam. Zaman megalitikum terjadi jauh sebelum kerajaan Sriwijaya berdiri, maka tak heran peninggalan megalitikum sangat penting untuk diabadikan sebagai peninggalan sejarah pra-Sriwijaya. Kebudayaan ini menjadikan batu-batu besar sebagai objek seni, relijius, ataupun sebagai peralatan sehari-hari. Bentuk-bentuk dari benda-benda megalit dapat berbentuk seperti arca, lesung batu, dolmen, bilik batu, tetralith (batu dengan lukisan) dan batu datar (untuk persembahan)\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>&#8211; Lubuklinggau<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cStasiun Lubuklinggau atau yang disingkat \u2018LLG\u2019 adalah stasiun tua yang telah dibangun sejak 1933. Jalur ini diprakarsai oleh Namlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV NISM), cikal bakal PT Kereta Api (PT KA). Makna kesejarahan yang didapat tentang Lubuklinggau sebagai jalur kereta api terakhir yang dibuka pada zaman kolonial ialah bahwa pada masa itu perkeretaapian merupakan sebuah sarana transportasi yang dibuka untuk mempermudah\/mempercepat pengangkutan komoditas barang hasil eksploitasi penjajahan di Sumatra Selatan\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan sederhana ini mungkin belum mampu mengcover seluruh kesejarahan kereta api di Sumatra Selatan yang cukup panjang. Sedikit gagasan yang diulas di atas mengenai potensi edukasi sejarah, mungkin juga belum tergolong sempurna dan tepat. Setidaknya kajian kecil ini dapat menyegarkan kembali semangat cinta sejarah, khususnya pada bidang perkeretaapian. Semoga sedikit pengetahuan tersebut membuat perjalanan Palembang-Lubuklinggau bukan sekadar proses menuju destinasi tetapi juga sebagai rekreasi untuk menghidupkan serta selalu mengabadikan sejarah.<\/span><\/p>\n<p><b>Sumber :<\/b><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Pramasto, Arafah, dkk., <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 64-65.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Reid, Anthony, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menuju Sejarah Sumatra : Antara Indonesia dan Dunia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2011. Hlm. 29.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Marks, A.J., <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Accounting for Services : The Economic Development of The Indonesian Service Sector ca. 1900-2000<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Amsterdam : Aksant Academic Publisher, 2009. Hlm. 113.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Malaka, Tan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Penjara ke Penjara, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 66.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Pramasto, Arafah, dkk., <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm.166.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Tim Telaga Bakti Nusantara &amp; Asosiasi Perkeretaapian Indonesia, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sejarah Perkeretaapian Indonesia Volume I<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Bandung : Angkasa, 1997. Hlm. 82.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Departemen Penerangan Indonesia, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kereta Api Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jakarta : Departemen Penerangan Indonesia, 1978. Hlm. 43.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Zed, Mestika, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kepialangan Politik dan Revolusi Palembang 1900-1950<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jakarta : Pustaka LP3Es, 2003. Hlm. 111.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Kota Palembang, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Buku Peringatan Lima Puluh Tahun Kota Pradja Palembang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Palembang : Firma Rhama &amp; Co., 1965. Hlm. 18.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Amhir, Ary, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">30 Hari Keliling Sumatra<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jakarta : Dolphin, 2013. Hlm. 270.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Pramasto, Arafah, dkk., <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 67.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Backshall, Steve, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Rough Guide to Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, London : Rough Guides, 2003. Hlm. 471.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Reid, Anthony, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menuju Sejarah Sumatra : Antara Indonesia dan Dunia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2011. Hlm. \u00a029.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\">Tim Penerbit Kompas, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspedisi Anjer-Panaroekan : Laporan Jurnalistik KOMPAS<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jakarta : Kompas Media Nusantara, 2008. Hlm. 90.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Tim Sejarah 40 Tahun Perminyakan Indonesia, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">40 Tahun Usaha Pertambangan Minyak dan Gas Bumi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jakarta : Biro Humas &amp; HLN Pertamina, 1985. Hlm. 31.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Sukendar, Haris, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Album Tradisi Megalitik di Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996. Hlm. 14.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Pramasto, Arafah, dkk., <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Makna Sejarah Bumi Emas (Kumpulan Artikel Sumatera Selatan dan Tema-tema Lainnya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Bandung : Ellunar Publisher, 2018. Hlm. 68.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400;\"> Pengamatan \/ observasi pribadi penulis selama bertugas.<\/span><\/li>\n<li><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ibid<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/li>\n<li><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ibid<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Sapta Anugrah, S.Pd (Ketua Studie Club Gerak Gerik Sejarah dan Pramugara Kereta Api) Kapan moda transportasi kereta api hadir pertama kali di Provinsi Sumatra Selatan? Pernahkah pertanyaan itu terbesit dalam pikiran para penumpang di masa kini? Perkeretaapian di Sumatra Selatan memiliki sejarah penting yang mungkin sekarang telah jarang dibaca lagi oleh generasi kekinian. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":36293,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[19],"tags":[11030],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2019\/06\/Screenshot_2019-06-15-00-11-19_1560553585383.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-9rl","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36291"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36291"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36291\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38232,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36291\/revisions\/38232"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36293"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36291"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36291"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36291"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}