
{"id":4490,"date":"2016-12-29T17:49:22","date_gmt":"2016-12-29T10:49:22","guid":{"rendered":"http:\/\/fornews.co\/?p=4490"},"modified":"2016-12-30T11:15:06","modified_gmt":"2016-12-30T04:15:06","slug":"budaya-pariwisata-dan-produk-tradisional-palembang-harus-seimbang-dengan-kemajuan-kota","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/budaya-pariwisata-dan-produk-tradisional-palembang-harus-seimbang-dengan-kemajuan-kota\/","title":{"rendered":"Budaya, Pariwisata dan Produk Tradisional Palembang Harus Seimbang dengan Kemajuan Kota"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_4492\" aria-describedby=\"caption-attachment-4492\" style=\"width: 960px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-4492 size-full\" src=\"http:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/12\/Sarah-Halim.jpg\" alt=\"Sarah Halim (dua dari kanan), saat menerima penghargaan Srikandi Award di Bali pada akhir 2015 lalu, setelah sebelumnya masuk nominasi sebagai pengusaha wanita yang survive. (foto facebook pribadi)\" width=\"960\" height=\"629\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/12\/Sarah-Halim.jpg 960w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/12\/Sarah-Halim-300x197.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/12\/Sarah-Halim-768x503.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4492\" class=\"wp-caption-text\">Sarah Halim (dua dari kanan), saat menerima penghargaan Srikandi Award di Bali pada akhir 2015 lalu, setelah sebelumnya masuk nominasi sebagai pengusaha wanita yang survive. (foto facebook pribadi)<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">SEMRAWUT, macet dan gersang. Kata-kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Sarah Halim, saat diajak bicara tentang Kota Palembang. Memang, jika dilihat banyaknya bangunan fisik, perkembangan Kota Palembang sudah cukup maju dan pantas di sebut kota metropolitan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut pandangan Sarah, meski Palembang sudah tampak maju pesat dibanding 10 tahun lalu, tetap saja masih banyak hal yang harus ditata dan ditingkatkan. Apa itu, kebesaran sejarah, budaya dan produk-produk tradisional Palembang, masih belum mampu diangkat hingga kepermukaan nasional, apalagi internasional. \u201cPerkembangan pembangunan Kota Palembang harus diakui sudah maju. Tapi, bagaimana dengan budaya, seni dan produk tradisionalnya. Ketika orang luar datang ke Palembang, pertama kali yang mereka buru itu semua khas tentang kota ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wanita kelahiran Palembang 14 April 1966 ini memaparkan, sebagai orang asli Palembang dirinya punya hak untuk membuat kota kelahirannya lebih baik dari kota-kota lain. Karena, sangat disayangkan dari semua kemajuan yang sudah dilalui Palembang, tidak diikuti dengan kemajuan semua ke-khas-an Palembang itu sendiri. Sarah mencontohkan Kota Padang dengan Minangkabaunya, yang sudah menjadi milik nasional. \u201cMemang, kalau orang luar melihat Kota Palembang ini sudah maju, hanya sayang sekali orang luar tersebut tidak banyak tahu tentang produk tradiosional Palembang. Kalaupun tahu, itu hanya kalangan terbatas. Jadi sangat disayangkan banyak sekali barang-barang tradisional Palembang, kesenian yang nilainya sangat tinggi, tidak mengikuti kemajuan kotanya,\u201d paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sarah meneruskan, hal yang mudah diingat dan disebut orang luar tentang Palembang itu, secara familiar itu hanya pempek. Padahal, semua berharap kultur atau budaya tradisional Palembang ini bisa menjadi jualan penting. Jika saja produk wisata dan budaya Palembang ini laku, maka akan semakin banyak orang yang berkunjung ke sini dengan beragam pilihan. Sekarang, taman terbuka untuk umum untuk berolahraga bagi masyarakat masih kurang. \u201cPalembang ini gersang, begitu masuk dari bandara, orang-orang luar langsung menilai gersang. Padahal, kawasan bandara itu merupakan <em>first sign <\/em>atau pandangan pertama untuk Palembang,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai seorang pebisnis, Sarah tentu sangat banyak hal yang harus dilakukan untuk Palembang, salah satunya meningkatkan pariwisata. Apalagi, banyak kawan-kawannya yang memberikan ide tentang banyak hal yang harus dibangkitkan untuk Palembang. \u201cSelama ini saya menjalankan bisnis di Jakarta. Setelah dapat masukan dan ide dari kawan-kawan tersebut, saya pikir ada benarnya. Palembang harus punya khas lebih dari kota-kota lain.\u00a0 Itu tadi, mengangkat budaya dan kesenian Palembang agar tidak saja lebih dikenal secara nasional, tapi internasional. Itu keinginan saya,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sarah yang merupakan satu dari putri tokoh Sumsel Kms H Abdul Halim Ali ini menuturkan, sebelum merantau ke sejumlah daerah, masa kecilnya dari SD hingga SMA kelas 2 berada di Palembang. \u201cSaat itu, saya berpikir kalau hanya berada di Palembang, ilmu saya tidak berkembang dan maju. Tujuan saya keluar dari Palembang saat itu, untuk mencari ilmu yang lebih banyak dan kembali ke sini untuk mengaplikasikan ilmu tersebut,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Usai menyelaikan bangku sekolah SMA di Jakarta, Sarah sempat mengenyam pendidikan hukum di UKI dan bisnis manajemen di ASMI. Merasa kurang puas dengan bekal ilmunya, ibu dari Muhammad Djody NPA itu memilih melanjutkan pendidikan di negeri Paman Sam, Amerika dan mengambil jurusan yang sama akademi bisnis manajemen. \u201cDulukan pemikiran orang semua orang tua itu hampir sama. Ketika anak gadisnya dinilai sudah cukup untuk berumah tangga, ya dinikahin dan mengurus suami. Tapi saya justru memilih untuk menunda pernikahan dan memilih untuk terus mendalami ilmu-ilmu, yang saya pikir belum terlalu pintar saat itu,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pasca menimba ilmu di Amerika Serikat selama tiga tahun, Sarah baru menyadari kalau memiliki kemampuan berbisnis. Hanya saja, orang tuanya memanggil kembali ke Palembang untuk menjalani bisnis keluarga. Meski telah mendapatkan ilmu dan pengalaman di luar, namun saat bekerja dengan sang ayah, Sarah tetap di bina dan dididik. Apa benar seorang Sarah ini punya kemampuan bisnis yang bisa menjalankan roda perusahaan. \u00a0\u201cHasilnya, saya justru merasa tidak cocok berada di bawah ketek orang tua. Saya harus berbuat sesuatu atau harus ada wujud yang harus saya keluarkan. Akhirnya saya menuju ke Jakarta dan ada panggilan dari hati bahwa saya harus bikin sesuatu,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bisa ditebak, Sarah langsung berani mengambil sikap dan membuka bisnis sendiri di Jakarta. Bisnis pertama yang digarap Sarah, yakni bisnis kuliner Croissaux de France, yang merupakan franchise dari Francis, join venture bersama orang-orang Bimantara dan BP Migas selama 5-10 tahun. Victoria Caf\u00e9, setelah itu pada tahun 1995-2000 franchise Aveda Body and Spa, produk kecantikan dan kesehatan dari Amerika untuk distributor Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena saat itu terjadi krisis monoter, apalagi membuka gerai di Plaza Indonesia dan bermain dollar, mau tak mau harus tutup dulu sementara waktu. Namun, pada tahun 2000 Sarah kembali <em>move on<\/em> dan dapat tugas dari keluarga untuk mengurus Hotel Bintang 5 Ananda Bungalow and Spa di Bali. Menjalani bisnis hotel ini tiga tahun dan dapat pengalaman lagi untuk memajukan perhotelan. Tidak berhenti sampai disitu, Sarah terus berjalan memulai lagi membuka Rock Caf\u00e9 bersama Ahmad Dhani di Bandung. Sedangkan bisnis yang masih digeluti Sarah saat ini adalah bisnis properti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Semuanya bisnis tersebut mengarah pada kesehatan, pariwisata dan kuliner. Tidak hanya berbisnis, Sarah juga ikut organisasi sosial Lion Club, serta beberapa organisasi lainnya. \u00a0Pada akhirnya, Sarah mendapat penghargaan dari Srikandi Award 2015 di Bali, sebagai pengusaha wanita yang survive dalam menjalankan naik turun usahanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cUsai dari mendapat penghargaan itulah saya berpikir, bahwa semua perjalanan yang telah dilakukan untuk diri sendiri itu dirasa sudah cukup. Sekarang saatnya untuk memberikan dan melakukan untuk kota kelahiran Palembang. Saya juga tak mau membuat sesuatu yang biasa. Jadi, setelah melihat kondisi Palembang seperti ini, saya ingin menjadi pemimpin. Tapi untuk membenahi dan membantu daerah ini agar menjadi lebih baik dan benar,\u201d urainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya tidak mungkin meninggalkan Palembang selamanya, karena orang tua saya di sini dan semua yang saya miliki ada di Palembang. Tapi, sekarang saya bertanya pada diri saya sendiri, apa yang bisa saya lakukan ketika saya kembali lagi ke kota kelahiran ini,\u201d tukasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana caranya, tentu Sarah sudah mengumpulkan data dan bertanya. Karena, selama ini dirinya mengakui belum menemukan orang yang menangkap keinginannya seperti apa.\u00a0 Walaupun sudah bertemu beberapa tokoh, tapi belum juga mengena di hati. Intinya, Sarah menemukan jalan dengan cara sendiri tanpa bantuan dari keluarga ya ini memberikan untuk Palembang. \u201cSekarang saya memulai dengan menyiapkan diri dulu, apa yang diinginkan, serta visi dan misi. Itu juga terkait tentang pariwisata, budaya, pendidikan, kesehatan. Sekarang Palembang sudah maju, tapi tetap saja ada yang perlu dan harus ditata lagi. Perlu orang-orang kuat dan bekerja ikhlas, bukan bekerja memikirkan untuk diri sendiri. Itu yang lagi saya cari,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sarah menilai, bicara tata kota, tak perlu bicara yang jauh-jauh. Mulai dari bandara hingga masuk ke pusat kota, apa yang sebaiknya ditata, agar orang-orang luar yang datang ke Palembang merasa nyaman dan ingin berada lebih lama. \u201cYa, salah satunya tempat-tempat\u00a0 yang menyediakan produk-produk tradisional, kuliner di sepanjang kawasan tersebut. Karena, budaya dan produk tradisional Palembang ini sangat tinggi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian, hal yang tak kalah penting yakni mengubah pola pikir masyarakat Palembang yang masih <em>money talk<\/em>. Ada duit baru berteman. Sepertinya sebagian orang Palembang sudah kehilangan pribadi masing-masing. Lebih memikirkan diri sendri dan bukan untuk orang banyak. \u00a0\u201cItu tugas yang harus saya ubah dan memunculkan semangat dan jiwa sosial. Jadi, kalau ini adalah kesempatan maka saya turun, tapi oke kita semua maju bersama untuk Palembang,\u201d terang wanita \u00a0selalu menyoroti dunia pendidikan ini..<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian, tambahnya, bagaimana membangun mental <em>Wong<\/em> Palembang yang lebih baik lagi. Jangan bicara hal-hal yang berat dulu, soal kebiasaan membuang sampah pada tempatnya pun masih sangat kurang. Lihat kondisi anak-anak sungai dan Sungai Musi kita. \u201cBagaimana sungai kebanggaan kita akan bagus dan menawan, kalau anak-anak kecil tidak diberikan pendidikan dengan baik. Paling tidak sosialisasi tentang kebersihan itu harus lebih mengakar, bukan hanya sebatas seremony. Sebanyak apapun uang, tidak akan dibawa mati. Tapi kenangan nama, itu bisa seumur hidup. Saya ingin memberikan sesuatu untuk Palembang dan dikenang orang,\u201d tutupnya. (tul)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SEMRAWUT, macet dan gersang. Kata-kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Sarah Halim, saat diajak bicara tentang Kota Palembang. Memang, jika dilihat banyaknya bangunan fisik, perkembangan Kota Palembang sudah cukup maju dan pantas di sebut kota metropolitan. Menurut pandangan Sarah, meski Palembang sudah tampak maju pesat dibanding 10 tahun lalu, tetap saja masih banyak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4492,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[21],"tags":[9,69,97,59],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2016\/12\/Sarah-Halim.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-1aq","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4490"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4490"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4490\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4504,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4490\/revisions\/4504"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4492"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4490"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4490"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4490"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}