
{"id":52419,"date":"2020-06-09T18:37:48","date_gmt":"2020-06-09T11:37:48","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=52419"},"modified":"2020-07-14T03:53:44","modified_gmt":"2020-07-13T20:53:44","slug":"empat-rekomendasi-epidemiolog-sebelum-terapkan-normal-baru-di-sumsel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/empat-rekomendasi-epidemiolog-sebelum-terapkan-normal-baru-di-sumsel\/","title":{"rendered":"Empat Rekomendasi Epidemiolog Sebelum Terapkan Normal Baru di Sumsel"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG<\/strong>, <strong>fornews.co<\/strong> &#8211; Pemerintah Provinsi Sumsel dinilai masih harus berbenah sebelum menerapkan Normal Baru di wilayah Sumsel. Hal ini dikarenakan effective reproduction number (Rt) atau tingkat penularan masih di atas angka 1.<\/p>\n<p>Hal ini diketahui dalam konferensi pers oleh tim epidemiologi mengenai kondisi Pemprov Sumsel di tengah pandemi di Pemprov Sumsel, Selasa (09\/06).<\/p>\n<p>Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi (PAEI) Cabang Sumsel, dr Hibsah Ridwan mengatakan, untuk menerapkan New Normal atau Normal Baru itu memiliki persyaratan di antaranya yakni tingkat penularan (Rt) di bawah 1 dan menetap selama dua minggu. Selain itu, kontak diketahui 85 persen sehingga dapat diinvestigasi.<\/p>\n<p>Melihat dari kondisi Sumsel saat ini, ia mengaku belum dapat untuk menerapkan Normal Baru. Namun, tentunya semua itu perlu persiapan. Karena itu, pihaknya pun memberikan empat rekomendasi kepada Pemprov Sumsel sebagai persiapan menuju Normal Baru.<\/p>\n<p>&#8220;Rekomendasi ini dapat diberlakukan di seluruh daerah di Sumsel, hanya saja harus disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Keempat rekomendasi tersebut yakni pengetatan protokol kesehatan, <em>tracing<\/em> kontak harus terus dilakukan sehingga penanganan dan penyembuhan dapat cepat dilakukan. Peningkatan pengetahuan masyarakat karena saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengerti bahaya dari COVID-19 dan terakhir pelibatan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. Karena menurutnya, masyarakat harus terlibat langsung dalam protokol kesehatan.<\/p>\n<p>Berdasarkan data yang diambil dari tiga sumber di antaranya survei. Pihaknya mendapati hasil yang bagus untuk kondisi di Sumsel. Seperti angka penularan sebelum dilakukan PSBB dan setelah dilakukan PSBB mengalami penurunan hingga 6,16 persen.<\/p>\n<p>Kemudian, angka kesembuhan mengalami peningkatan sedangkan angka kematian mengalami penurunan. Hanya saja saat ini yang membuat khawatir yakni kontak penularan semakin tinggi terutama di Pasar Tradisional. Menurutnya, Pasar Tradisional ini lebih rentan dibandingkan mall. Karena, protokol kesehatan di mall sudah lebih baik.<\/p>\n<p>&#8220;Karena ini mobilitas sehari-hari, maka kami imbau agar masyarakat lebih waspada dan menerapkan protokol kesehatan saat ke pasar tradisional,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemprov Sumsel, Akhmad Najib mengatakan nantinya rekomendasi yang telah diberikan ini akan menjadi arahan kebijakan kedepannya bagi Pemprov Sumsel.<\/p>\n<p>Ia mengakui saat ini tingkat kematian COVID-19 mengalami penurunan sedangkan untuk kasus sembuh mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan peran laboratorium yang sudah berjalan maksimal saat ini.<\/p>\n<p>&#8220;Ini merupakan revitalisasi menuju Normal Baru. Jadi proses dalam pengambilan keputusan harus melibatkan masyarakat berbasis fakta dan lapangan,&#8221; singkatnya.\u00a0 (lim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, fornews.co &#8211; Pemerintah Provinsi Sumsel dinilai masih harus berbenah sebelum menerapkan Normal Baru di wilayah Sumsel. Hal ini dikarenakan effective reproduction number (Rt) atau tingkat penularan masih di atas angka 1. Hal ini diketahui dalam konferensi pers oleh tim epidemiologi mengenai kondisi Pemprov Sumsel di tengah pandemi di Pemprov Sumsel, Selasa (09\/06). Ketua Perhimpunan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":49602,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[15206],"tags":[16292,16004,97,15144,59],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/04\/apd-scaled.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-dDt","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52419"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52419"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52419\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":52422,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52419\/revisions\/52422"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49602"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52419"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52419"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52419"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}