
{"id":52981,"date":"2020-06-18T17:36:55","date_gmt":"2020-06-18T10:36:55","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=52981"},"modified":"2020-07-14T04:17:35","modified_gmt":"2020-07-13T21:17:35","slug":"ondo-budho-jalur-suci-peninggalan-hindu-kuno-di-dataran-tinggi-dieng-wonosobo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/ondo-budho-jalur-suci-peninggalan-hindu-kuno-di-dataran-tinggi-dieng-wonosobo\/","title":{"rendered":"Ondo Budho, Jalur Suci Peninggalan Hindu Kuno di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo"},"content":{"rendered":"<p><strong>YOGYAKARTA, fornews.co<\/strong>&#8211;Situs Ondo Budho jejak sejarah kuno di kawasan Dieng, Jawa Tengah, masih menjadi misteri.<\/p>\n<p>Meski ada yang mengklaim terhadap asal-usul nama dan situs ini, namun hingga sekarang masih diperdebatkan.<\/p>\n<p>Ondo Budho secara etimologi berarti tangga kesucian. Orang-orang Dieng mempercayainya sebagai peninggalan Hindu.<\/p>\n<p>Anak tangga kuno tersebut kini masih bisa ditemui di Dusun Siterus, Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n<p>Anak tangga itu terbuat dari batu. Belum tahu pasti apa jenis batu-batunya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_52983\" aria-describedby=\"caption-attachment-52983\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-52983 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/20200618_145130_resize_17.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/20200618_145130_resize_17.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/20200618_145130_resize_17-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-52983\" class=\"wp-caption-text\">NURYANTO berjalan kaki menuruni anak tangga Ondo Budho. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>&#8220;Keberadaannya tidak seutuh dulu,&#8221; kata Wadiono (38), warga RT 14 RW 01, Dusun Siterus, Kelurahan Sekunang, Kecamatan Kejajar, Kamis, 18 Juni 2020.<\/p>\n<p>Wadiono adalah petani kentang. Anaknya dua. Sekarang sudah SMP. Ia harus bekerja keras agar hasil panennya bisa berkualitas.<\/p>\n<p>Kata Madiono, kentang berkualitas harganya cukup mahal. Bisa mencapai Rp.40 ribu per kilogram.<\/p>\n<p>Sedangkan kentang biasa, per kilogram hanya dibeli Rp. 20 ribu.<\/p>\n<p>&#8220;Sekarang kentang sudah mahal,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Mahalnya kentang di Dieng dipicu oleh harga bibit yang juga tidak murah.<\/p>\n<p>Sejak dulu, ondo budho dalam posisi tidak berubah hingga sekarang, sejak Madiono masih anak-anak.<\/p>\n<figure id=\"attachment_52990\" aria-describedby=\"caption-attachment-52990\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-52990 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1934_resize_28.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1934_resize_28.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1934_resize_28-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-52990\" class=\"wp-caption-text\">SEBAGIAN anak tangga Ondo Budho di Desa Sikunang. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Panjang anak tangga kuno tersebut lebih dari puluhan kilometer. Cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki.<\/p>\n<p>Banyak orang luar negeri yang datang ke Dieng ingin merasakan jalur anak tangga kuno itu.<\/p>\n<p>&#8220;Biasanya wisatawan asing yang menapaki ondo budho,&#8221; ucap Madiono. &#8220;Mereka penasaran.&#8221;<\/p>\n<p>Di masa pandemi seperti ini, kata Madiono, tidak ada wisatawan asing yang datang. Tapi, sambungnya, Dieng tetap ramai meski masih ditutup.<\/p>\n<figure id=\"attachment_52985\" aria-describedby=\"caption-attachment-52985\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"479\" class=\"wp-image-52985 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/20200618_145614_resize_31.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/20200618_145614_resize_31.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/20200618_145614_resize_31-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-52985\" class=\"wp-caption-text\">SEBUAH portal penutup jalan menuju Puncak Sikunir yang dipasang oleh warga setempat. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Dari sejumlah narasumber kepada fornews.co mengatakan, Ondo Budho dulunya digunakan oleh masyarakat hindu kuno sebagai jalur penghubung.<\/p>\n<p>Anak tangga kuno itu menghubungkan dataran tinggi dan dataran rendah di Dieng.<\/p>\n<p>Dari Desa Sembung ke beberapa candi di Dieng, misalnya. Masyarakat hindu kuno dulu melewati Ondo Budho menuju tempat sembahyang.<\/p>\n<p>Desa Sembung merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa.<\/p>\n<figure id=\"attachment_52984\" aria-describedby=\"caption-attachment-52984\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-52984 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1911_resize_43.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1911_resize_43.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1911_resize_43-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-52984\" class=\"wp-caption-text\">SEBUAH reklame berukuran lebar sekira satu meter bertuliskan Desa Sembung tertinggi di Pulau Jawa. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Minimnya bukti-bukti sejarah anak tangga kuno tersebut membuat masyarakat Dieng sendiri kesulitan mendapatkan asal-usulnya.<\/p>\n<p>&#8220;Kami sendiri tidak tahu cerita asal mulanya ondo budho,&#8221; ujar Nuryanto, penduduk Dieng.<\/p>\n<p>Sama seperti Madiono, Nuryanto hanya tahu bahwa batu yang tersusun berundak sudah ada sejak ia belum lahir.<\/p>\n<p><em>Fornews.co<\/em> sempat menelusuri orang paling tua di dataran tinggi Dieng. Ia diduga adalah orang yang paling tahu adanya ondo budho. Namun sejumlah narasumber mengatakan sudah meninggal.<\/p>\n<figure id=\"attachment_52994\" aria-describedby=\"caption-attachment-52994\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-52994 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1918_resize_99.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1918_resize_99.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/DSC_1918_resize_99-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-52994\" class=\"wp-caption-text\">WADIONO usai menyiram kebun kentang di sekitar Ondo Budho. (foto Fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, dalam bukunya berjudul &#8220;Peninggalan Arkeologi di Pereng Wukir Susundara-Sumving&#8221; diceritakan ondo budho bermula dari Sr\u012b Mah\u0101r\u0101ja Rakai Watukura Dyah Balitung \u015ar\u012b \u015aDharmmodaya Mah\u0101sambhu.<\/p>\n<p>Sr\u012b Mah\u0101r\u0101ja Rakai Watukura diberikan kepercayaan untuk menjaga jalan di kawasan Gunung Sumbing dan Sindoro. Ia lantas dianugerahi Sima, yakni Patih yang berbakti kepada raja.<\/p>\n<p>Penganugerahan Sima sendiri dilakukan oleh rajanya setelah ia menetapkan desa Mantyasih sebagai sima.<\/p>\n<p>Selain situs Ondo Budho juga terdapat situs Watu Kelir dan situs Watu Ambal, yang bisa dijumpai di Temanggung dan Wonosobo. (adam)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYAKARTA, fornews.co&#8211;Situs Ondo Budho jejak sejarah kuno di kawasan Dieng, Jawa Tengah, masih menjadi misteri. Meski ada yang mengklaim terhadap asal-usul nama dan situs ini, namun hingga sekarang masih diperdebatkan. Ondo Budho secara etimologi berarti tangga kesucian. Orang-orang Dieng mempercayainya sebagai peninggalan Hindu. Anak tangga kuno tersebut kini masih bisa ditemui di Dusun Siterus, Desa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":52982,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/20200618_145933_resize_90.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-dMx","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52981"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=52981"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52981\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53251,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/52981\/revisions\/53251"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/52982"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=52981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=52981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=52981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}