
{"id":53097,"date":"2020-06-20T20:36:38","date_gmt":"2020-06-20T13:36:38","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=53097"},"modified":"2020-07-14T04:21:17","modified_gmt":"2020-07-13T21:21:17","slug":"rapid-test-covid-19-menyasar-orang-berisiko-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/rapid-test-covid-19-menyasar-orang-berisiko-tinggi\/","title":{"rendered":"Rapid Test COVID-19 Menyasar Orang Berisiko Tinggi"},"content":{"rendered":"<p><b>JAKARTA, fornews.co<\/b><span> &#8211; <\/span><i><span>Rapid test<\/span><\/i><span> menggunakan antibodi yang diambil dari sampel darah merupakan langkah awal identifikasi apakah seseorang terinfeksi virus, termasuk SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro mengatakan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih menggunakan standar operasional yang diyakini oleh para ahli tenaga medis dan tidak berbahaya. Pelaksanaannya justru akan membantu seseorang, orang lain, dan Pemerintah untuk melakukan penelusuran kontak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">carrier<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau orang yang terkonfirmasi positif COVID-19.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Reisa menegaskan, menjalani <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> antibodi juga bukan berarti dikarantina. Seseorang yang menjalani <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih dapat beraktivitas dengan menjalankan protokol kesehatan, selama hasilnya negatif atau non-reaktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Menjalani <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tidak sama dengan dikarantina,&#8221; ujar Reisa pada konferensi pers di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Sabtu (20\/06).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Jangan takut untuk beraktivitas selama menjalankan protokol kesehatan, apabila hasil <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak reaktif,&#8221; imbuhnya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, prinsip <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang disebut sebagai Rapid Diagnosis Test, sebenarnya ditujukan kepada orang yang pernah melakukan kontak erat dengan pasien positif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dilakukan oleh Pemerintah tetap menargetkan orang-orang yang berisiko tinggi. Tenaga kesehatan di seluruh Indonesia melakukan pelacakan terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengan orang yang terkonfirmasi positif. Upaya ini, disebut sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">contact tracing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Reisa, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berpotensi dilakukan di tempat keramaian atau kerumunan apabila memang diperlukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Jadi, apabila lokasi tersebut diduga berkaitan dengan ditemukannya kasus positif, maka tes masif dilakukan berdasarkan penyelidikan epidemiologi,&#8221; jelasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara massal yang sering dilakukan di beberapa tempat keramaian, seperti pabrik, pasar dan perkantoran, adalah dengan tujuan menapis atau skrining awal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ini meminimalisir kalau ada orang yang membawa virus, tapi tidak sakit, dan kemudian berpergian secara bebas,&#8221; tegas Reisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">carrier<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau orang yang membawa virus akan membahayakan anggota masyarakat lainnya, terutama bagi yang rentan seperti balita, orang tua atau lansia, dan mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ini berarti, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rapid test<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membantu kita menemukan orang yang harus dirawat, agar segera sembuh, dan tidak malah menimbulkan komplikasi, dan membantu mengetahui jumlah orang yang membawa virus, tapi tetap sehat,&#8221; terangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Mereka harus melindungi orang lain, jangan sampai kalau tidak ditanggulangi, maka bisa menulari orang lain. Orang seperti ini, bisa diisolasi mandiri di rumah, atau fasilitas lain,&#8221; tukasnya. (ije)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, fornews.co &#8211; Rapid test menggunakan antibodi yang diambil dari sampel darah merupakan langkah awal identifikasi apakah seseorang terinfeksi virus, termasuk SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.\u00a0 Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro mengatakan, rapid test hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih menggunakan standar operasional yang diyakini oleh para ahli tenaga medis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":53098,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[15206],"tags":[16513,16514,14868],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/06\/5eedf944858ac664416105-scaled.jpeg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-dOp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53097"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53097"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53097\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53099,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53097\/revisions\/53099"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53097"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53097"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53097"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}