
{"id":54293,"date":"2020-07-14T19:37:53","date_gmt":"2020-07-14T12:37:53","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=54293"},"modified":"2020-08-20T04:03:43","modified_gmt":"2020-08-19T21:03:43","slug":"gudeg-identitas-jawa-dari-masa-panembahan-senopati-pendiri-kasultanan-mataram-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/gudeg-identitas-jawa-dari-masa-panembahan-senopati-pendiri-kasultanan-mataram-islam\/","title":{"rendered":"Gudeg Identitas Jawa dari Masa Panembahan Senopati, Pendiri Kasultanan Mataram Islam"},"content":{"rendered":"<p><strong>YOGYAKARTA, fornews.co<\/strong>&#8211;Gudeg, berasal dari tetembung Jawa: hangudeg, yang berarti mengaduk-aduk.<\/p>\n<p>Konon, resep gudeg ditemukan ketika Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam, hendak membuka hutan belantara.<\/p>\n<p>Hutan belantara itu bernama Alas Mentaok yang kini menjadi Yogyakarta.<\/p>\n<p>Seluruh prajurit dan hulu-balang Panembahan Senopati, ternyata menemui banyak pohon nangka (Jawa: gori) dan kelapa.<\/p>\n<p>Buah dari kedua pohon yang dipilih, yakni nangka muda dan kelapa tua, diolah menjadi santapan.<\/p>\n<p>Nangka muda diracik bersama bumbu dan rempah-rempah.<\/p>\n<figure id=\"attachment_54294\" aria-describedby=\"caption-attachment-54294\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-54294 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200714_191806_resize_70.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200714_191806_resize_70.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200714_191806_resize_70-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-54294\" class=\"wp-caption-text\">GUDEG Pawon khas Jogja di Jalan Soepomo, Umbul Harjo, Yogyakarta. (foto instagram @dewiq156)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Ditambah santan dan gula merah, dimasukkan ke dalam kuali besar.<\/p>\n<p>Semua bahan dalam kuali besar itu diaduk-aduk hingga matang merata.<\/p>\n<p>Sejak momen itu, gudeg yang dimakan bersama Panembahan Senopati kakek Sultan Agung, menjadi identitas Kerajaan Mataram Islam.<\/p>\n<p>Gudeg tidak hanya disukai oleh para raja dan keluarga kraton, namun juga masyarakat umum.<\/p>\n<figure id=\"attachment_54295\" aria-describedby=\"caption-attachment-54295\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-54295 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/Gudeg-Lindu-5_resize_74.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/Gudeg-Lindu-5_resize_74.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/Gudeg-Lindu-5_resize_74-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-54295\" class=\"wp-caption-text\">SENTRA Gudeg Wijilan di Yogyakarta sudah ada sejak tahun 1970-an. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Menurut Profesor Murdijati Gardjito, dalam bukunya &#8220;Gudeg Yogyakarta&#8221;, sejarah gudeg berawal saat Kerajaan Mataram Islam dibangun di Alas Mentaok.<\/p>\n<p>Peneliti dari Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM itu juga mengungkapkan, semua makanan tradisional tidak dibuat menggunakan bahan impor.<\/p>\n<p>&#8220;Sejarah gudeg dimulai bersamaan dengan dibangunnya kerajaan Mataram Islam di alas Mentaok.&#8221;<\/p>\n<p>Dalam kuali besar terdapat berbagai campuran bumbu termasuk bawang merah dan bawang putih; lengkuas, ketumbar, kemiri, dan daun salam.<\/p>\n<p>Ada pula yang diberi daun jati, agar masakan gudeg terlihat menggoda selera, karena menjadi terlihat kemerahan.<\/p>\n<p>Rasa gudeg yang cenderung manis salah satunya berasal dari nangka muda dan gula merah.<\/p>\n<figure id=\"attachment_54298\" aria-describedby=\"caption-attachment-54298\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-54298 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200714_191539_resize_1.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200714_191539_resize_1.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200714_191539_resize_1-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-54298\" class=\"wp-caption-text\">GUDEG Jogja bersama teh panas. (foto instagram @dewiq156)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Biasanya gudeg disajikan dengan telur yang dibuat opor, pindang, atau direbus biasa.<\/p>\n<p>Selain itu, umumnya gudeg juga terdapat daging ayam opor dan goreng, bahkan ayam yang dibacam.<\/p>\n<p>Bagi yang kurang selera dengan suiran daging ayam, bisa memilih tempe atau tahu.<\/p>\n<p>Gudeg terasa kurang lengkap jika tidak disertai sambal krecek yang terbuat dari kulit sapi.<\/p>\n<p>Di Sumatra Krecek disebut Jangek. Rasanya gurih dan renyah.<\/p>\n<p>Ada dua jenis gudeg, yakni gudeg basah dan gudeg kering.<\/p>\n<p>Disebut gudeg basah karena takaran santannya lebih banyak dibanding gudeg kering.<\/p>\n<figure id=\"attachment_54299\" aria-describedby=\"caption-attachment-54299\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-54299 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/Gudeg-Lindu-6_resize_93.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/Gudeg-Lindu-6_resize_93.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/Gudeg-Lindu-6_resize_93-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-54299\" class=\"wp-caption-text\">SENTRA Gudeg Barek di Sleman, di Utara Kawasan UGM, menjadi sentra gudeg sejak tahun 1940. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Gudeg sendiri sebenarnya dapat ditemui di seantero Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n<p>Di Surakarta, gudeg solo cenderung berwarna putih karena tidak dicampur daun jati dan banyak santan.<\/p>\n<p>Sementara di Jawa Timur, gudeg terasa lebih pedas ketimbang gudeg jogja atau gudeg solo.<\/p>\n<p>Murdijati, dalam bukunya menulis proses memasak gudeg butuh waktu cukup lama.<\/p>\n<p>Proses pembuatan gudeg itulah yang membuat gudeg menjadi Istimewa.<\/p>\n<p>Orang jaman dulu membuat gudeg hanya pada saat-saat tertentu.<\/p>\n<p>&#8220;Seperti jika anak sedang sakit, akan diajak makan gudeg jika nanti telah sembuh,&#8221; tulis Murdijati.<\/p>\n<p>Namun, gudeg di Yogyakarta tidak melulu berbahan gori.<\/p>\n<p>Di Kabupaten Bantul, misalnya, gudeg terbuat dari manggar dan rebung.<\/p>\n<p>Manggar adalah Bunga kelapa, sedangkan rebung adalah bambu muda.<\/p>\n<p>Kedua jenis gudeg ini jarang dijual karena bahan bakunya yang sulit didapat.<\/p>\n<p>Di Yogya, gudeg mudah ditemui di setiap sudut Kota.<\/p>\n<p>Di Wijilan, Pakualaman, Kotagede, Wirobrajan, Ngasem, Jalan Suronatan, Soswijayan, dan hampir di semua kampung di Yogyakarta dapat ditemui penjual gudeg.<\/p>\n<p>Nasi gudeg dan bubur sambal krecek, menjadi menu sarapan setiap pagi.<\/p>\n<p>Di masa Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, gudeg digemari mahasiswa setelah UGM yang semula di lingkungan Kraton dipindah di Jalan Kaliurang.<\/p>\n<p>Hingga saat ini gudeg masih lestari menjadi bagian dari identitas Jawa. (adam)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYAKARTA, fornews.co&#8211;Gudeg, berasal dari tetembung Jawa: hangudeg, yang berarti mengaduk-aduk. Konon, resep gudeg ditemukan ketika Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam, hendak membuka hutan belantara. Hutan belantara itu bernama Alas Mentaok yang kini menjadi Yogyakarta. Seluruh prajurit dan hulu-balang Panembahan Senopati, ternyata menemui banyak pohon nangka (Jawa: gori) dan kelapa. Buah dari kedua pohon yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":54294,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200714_191806_resize_70.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-e7H","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54293"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54293"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54293\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56450,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54293\/revisions\/56450"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54294"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54293"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54293"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54293"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}