
{"id":54667,"date":"2020-07-22T22:01:33","date_gmt":"2020-07-22T15:01:33","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=54667"},"modified":"2020-08-20T04:23:24","modified_gmt":"2020-08-19T21:23:24","slug":"begini-sejarah-dan-cara-bakteri-wolbachia-menangkal-demam-berdarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/begini-sejarah-dan-cara-bakteri-wolbachia-menangkal-demam-berdarah\/","title":{"rendered":"Sejarah Bakteri Pembunuh Virus  Demam Berdarah"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Penulis oleh A.S. Adam<\/em><\/strong><\/p>\n<p>PENELITIAN bakteri Wolbachia di Indonesia awalnya dilakukan oleh para ahli Wolbachia dari Australia dan Yogyakarta.<\/p>\n<p>Penelitian terhadap temuan-temuan bakteri Wolbachia telah dirintis sejak tahun 2004-2010 oleh Yayasan Tahija di Yogyakarta, namun sempat gagal.<\/p>\n<p>Akhir tahun 2010, Yayasan Tahija di Yogyakarta, kembali melakukan upaya pemanfaatkan bakteri Wolbachia atas usulan seorang pakar, Dr. Duane Gubler.<\/p>\n<p>Meski berulangkali sempat gagal, penelitian yang terus dilakukan itu kini dapat digunakan.<\/p>\n<p>Bakteri Wolbachia dapat menekan angka kasus demam berdarah.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"371\" class=\"aligncenter wp-image-54670 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200722_213844_resize_71.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200722_213844_resize_71.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200722_213844_resize_71-300x174.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p>Dikutip dari tulisan berjudul &#8220;Wolbachia Pipientis, Bakteri Pada Serangga&#8221;, Wolbachia adalah bakteri yang menginfeksi berbagai hewan invertebrata.<\/p>\n<p>Bakteri Wolbachia merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang yang hidup di dalam sel.<\/p>\n<p>Bakteri ini menginfeksi arthropoda dan berbagai serangga.<\/p>\n<p>Selain serangga, bakteri ini juga menginfeksi nematoda filaria, krustasea terestrial, dan tungau.<\/p>\n<p><strong>Baca: <a href=\"https:\/\/fornews.co\/news\/september-mendatang-mwp-akan-lepas-nyamuk-wolbachia-di-yogyakarta\/\">September Mendatang MWP akan Lepas Nyamuk Wolbachia di Yogyakarta<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Bakteri Wolbachia merupakan parasit paling umum di Bumi yang menginfeksi sistem reproduksi serangga.<\/p>\n<p>Ahli Parasitologi dan Entomologi, Upik Kesumawati Hadi, dalam tulisan itu mengatakan bakteri Wolbachia mampu mengubah secara genetik dari gen inang yang terinfeksi.<\/p>\n<p>Selanjutnya, inang yang terinfeksi itu diteruskan ke generasi berikutnya melalui infeksi testis dan ovarium inang mereka.<\/p>\n<p>Diperkirakan lebih dari 18% serangga termasuk nyamuk, lalat, dan laba-laba, terinfeksi bakteri Wolbachia.<\/p>\n<p>Namun, laporan lain mencatat sekira 20-75% serangga terinfeksi oleh bakteri Wolbachia.<\/p>\n<figure id=\"attachment_54671\" aria-describedby=\"caption-attachment-54671\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"480\" class=\"wp-image-54671 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200722_213742_resize_52.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200722_213742_resize_52.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200722_213742_resize_52-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-54671\" class=\"wp-caption-text\">FILARIASIS atau\u00a0Penyakit kaki gajah\u00a0yang disebabkan oleh cacing parasit nemtoda yang tergolong superfamilia Filarioidea. (foto dinnkes inhukab)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Bakteri Wolbachia pertama kali ditemukan oleh Marshall Hertig dan S. Burt Wolbach pada tahun 1924.<\/p>\n<p>Wolbachia ditemukan pada nyamuk Culex pipiens, yang kemudian dinamakan Wolbachia pipientis oleh Hertig pada tahun 1936.<\/p>\n<p>Namun penemuan Marshall Hertig dan S. Burt Wolbach justru diabaikan.<\/p>\n<p>Pada tahun 1971, Janice Yen dan A. Ralph Barr dari University of California, Los Angeles, menemukan telur nyamuk Culex mati akibat reaksi cytoplasmic incompatibility.<\/p>\n<p>Reaksi itu bekerja ketika sperma jantan yang terinfeksi Wolbachia membuahi telur-telur yang tidak terinfeksi.<\/p>\n<p>Penemuan Marshall Hertig dan S. Burt Wolbach, lantas direspon para ilmuwan dengan berbagai penelitian.<\/p>\n<p>Penelitian mulai berkembang setelah tahun 1990, Richard Stouthamer dari University of California di Riverside, menemukan serangga jantan tidak berdaya terhadap spesies lain karena bakteri Wolbachia.<\/p>\n<p>Para ilmuwan tergerak melakukan penelitian terhadap potensi infeksi dan biologi Wolbachia untuk mengendalikan hama serta vektor penyakit.<\/p>\n<p>Salah satu vektor yang dikendalikan menggunakan Wolbachia adalah nyamuk Aedes aegypti, vektor demam berdarah dengue.<\/p>\n<p>Wolbachia terbukti mampu menghambat perkembangan virus demam berdarah dengue (DBD).<\/p>\n<p>Diketahui, virus DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.<\/p>\n<p>Maka, jelas Upik, jika nyamuk Aedes aegypti diinfeksi menggunakan bakteri Wolbachia, virus DBD tidak dapat ditularkan ke manusia.<\/p>\n<p>Untuk itu para peneliti berupaya memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk dengan menyuntikkan embrio dari patogen tersebut.<\/p>\n<p>Bakteri ini berhasil bertahan di dalam tubuh nyamuk dari induk hingga keturunannya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_54672\" aria-describedby=\"caption-attachment-54672\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" width=\"640\" height=\"491\" class=\"wp-image-54672 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/House_Dust_Mite_resize_15.jpg\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/House_Dust_Mite_resize_15.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/House_Dust_Mite_resize_15-300x230.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-54672\" class=\"wp-caption-text\">TUNGAU debu rumah. Tungau adalah hewan kecil bertungkai delapan anggota superordo Acarina. Tungau bukanlah kutu dalam pengertian ilmu hewan walaupun sama-sama berukuran kecil.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Para ahli menunjukkan bahwa bakteri ini terbukti dapat menyebar melalui nyamuk betina yang terinfeksi.<\/p>\n<p>Selain itu, bakteri Wolbachia juga dapat memperpendek umur nyamuk sekaligus telur-telurnya (embrio).<\/p>\n<p>Telur nyamuk dapat mati karena ketidaknormalan reproduksi nyamuk, yakni ketika nyamuk betina yang tidak terinfeksi bakteri Wolbachia berpasangan dengan nyamuk jantan yang terinfeksi bakteri yang sama. Begitu juga sebaliknya.<\/p>\n<p>Jadi, terang Upik, telur nyamuk yang menetas tetap terinfeksi bakteri Wolbachia.<\/p>\n<p>Akibatnya bakteri Wolbachia akan ada dalam setiap generasi nyamuk Aedes aegypti.<\/p>\n<p>Selain menyebabkan kerusakan pada reproduksi nyamuk, bakteri Wolbachia juga mampu menghentikan duplikasi virus dengue di dalam nyamuk.<\/p>\n<p>Kegagalan duplikasi virus dengue menyebabkan demam berdarah dapat dicegah.<\/p>\n<p>Upik berharap, dari hasil penelitian itu tidak hanya dapat diterapkan di Indonesia, namun juga sebagai pencegahan penyakit demam berdarah di dunia. (adam)<\/p>\n<h5><em>Artikel ini sebelumnya berjudul &#8220;Sejarah dan Cara Bakteri Wolbachia Menangkal Demam Berdarah&#8221;<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis oleh A.S. Adam PENELITIAN bakteri Wolbachia di Indonesia awalnya dilakukan oleh para ahli Wolbachia dari Australia dan Yogyakarta. Penelitian terhadap temuan-temuan bakteri Wolbachia telah dirintis sejak tahun 2004-2010 oleh Yayasan Tahija di Yogyakarta, namun sempat gagal. Akhir tahun 2010, Yayasan Tahija di Yogyakarta, kembali melakukan upaya pemanfaatkan bakteri Wolbachia atas usulan seorang pakar, Dr. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":54674,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[15206],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/07\/20200722_215634_resize_85.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-edJ","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54667"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54667"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54667\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56438,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54667\/revisions\/56438"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/54674"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54667"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54667"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54667"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}