
{"id":55308,"date":"2020-08-03T13:55:19","date_gmt":"2020-08-03T06:55:19","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=55308"},"modified":"2020-08-20T04:51:01","modified_gmt":"2020-08-19T21:51:01","slug":"opini-kebijaksanaan-dari-kontroversi-hagia-sophia-aya-sofya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/opini-kebijaksanaan-dari-kontroversi-hagia-sophia-aya-sofya\/","title":{"rendered":"[OPINI] Kebijaksanaan dari (Kontroversi) Hagia Sophia\/Aya Sofya"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Penulis:\u00a0Arafah Pramasto,S.Pd (Anggota Studie Club \u2018Gerak Gerik Sejarah\u2019)<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Perhatian publik tertuju pada pemberitaan internasional mengenai pencabutan status Hagia Sophia\/Aya Sofya sebagai museum dan kembali berfungsi sebagai sebuah tempat ibadah, menjadi masjid bagi kaum Muslimin, oleh Pengadilan Administrasi Utama Turki di hari ke 10 bulan Juli 2020.<\/p>\n<p>Gelaran ibadah Salat Jumat diadakan perdana pada 24 Juli\u00a02020, sebuah peristiwa yang bagi sebagian besar umat Islam di Turki maupun dunia\u00a0dianggap bersejarah.\u00a0Mengingat\u00a0tempat yang masuk di dalam daftar Warisan Dunia Badan\u00a0Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNESCO) tersebut telah menjadi\u00a0museum selama 86 tahun,\u00a0hingga akhirnya berubah kembali menjadi masjid.<\/p>\n<p>Dinamika ini tak\u00a0hanya berisi <em><i>\u2018<\/i><\/em><em><i>euforia<\/i><\/em><em><i>\u2019<\/i><\/em>\u00a0bagi sebagian golongan dalam kepercayaan tertentu, dan sudah pasti\u00a0terpaan kontroversi juga menghampiri meski Presiden Erdogan ikut menegaskan bahwa\u00a0Hagia Sophia tetap akan dibuka untuk umum.\u00a0Jika saja sebagian atau banyak dari pada kita berselisih pendapat mengenai sudah\u00a0tepatkah keputusan pemerintah Turki di bawah Recep Tayyip Erdogan dalam mengembalikan\u00a0fungsi Hagia Sophia sebagai masjid, ada yang perlu diperhatikan sebelum melangkah terlalu\u00a0jauh dalam mempertentangkan satu identitas, seumpama Islam, dengan gagasan lain\u00a0umpamanya liberalisme atau pun agama lainnya.<\/p>\n<p>Karena, justru Mufti Agung Mesir, Shawky\u00a0Allam mengatakan,\u00a0perubahan status Hagia Sophia dilarang dalam Islam. Shawky\u00a0merujuk fatwa Laith bin Saad Fakih dari Mesir yang memerintahkan agar gereja diperlakukan\u00a0sebagai bagian dari arsitektur bumi dalam Islam.<\/p>\n<p>\u201cTeks-teks Islam memberitahu kita bahwa\u00a0kita merupakan pelindung dan pembela, dan karena itu harus sangat memperhatikan warisan\u00a0budaya manusia,\u201d katanya dalam wawancara pertunjukan Al-Nathra yang ditayangkan\u00a0channel Sada Al-Balad di Mesir.<\/p>\n<p>Tentang bagaimana sebelumnya Hagia Sophia atau Aya Sofya menjadi museum, ada\u00a0seorang sosok penting yang tak lekang diingat dalam sejarah Islam ataupun pula oleh\u00a0peradaban dunia. Mustafa Kemal, seorang tokoh yang pada tahun 1923,\u00a0menyatakan Turki\u00a0sebagai sebuah negara sekuler berbentuk republik dalam artikel bertajuk <em><i>\u2018<\/i><\/em><em><i>Mustafa Kamal<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>Attaturk Tersiksa di Akhir Hayatnya<\/i><\/em><em><i>\u2019<\/i><\/em>\u00a0yang dipublikasi serta beberapa kali diposkan ulang\u00a0melalui media sosial pada 2015 lalu, mencap Kemal sebagai tokoh yang \u2018membunuh\u2019\u00a0syiar\u00a0Islam serta bertanggung jawab atas keruntuhan Khilafah Utsmaniyah.<\/p>\n<p>Penutupan Aya Sofya sebagai tempat ibadah pada 1934 ialah bagian dari rangkaian\u00a0\u2018Reformasi Agama\u2019\u00a0yang digagas Kemal, seorang yang menganggap bahwa Islam adalah\u00a0agama rasional yang hendaknya bersesuaian dengan bumi Turki. Sejumlah rencana dimulai\u00a0dengan pembentukan komite dalam Fakultas Teologi Universitas Istanbul untuk sebuah\u00a0\u2018Modernisasi Islam\u2019,\u00a0seperti mengganti bentuk dan suasana masjid-masjid seperti gereja-gereja di barat yang penekanannya ialah kebersihan, bangku-bangku, tempat menyimpan\u00a0mantel, mewajibkan jemaat masuk dengan sepatu yang bersih, mengganti bahasa Arab\u00a0dengan Turki, penyediaan alat musik untuk memperindah bentuk Shalat, dan mengubah teks-teks khutbah yang ada dengan konten berisi pemikiran agama sesuai filsafat Barat.<\/p>\n<p>Pada tahun 1932,\u00a0pemerintah mengeluarkan kebijakan lafal Adzan ke bahasa Turki yang amat\u00a0ditentang masyarakat Muslim setempat. Upaya-upaya komite Fakultas Teologi itu dapat\u00a0digagalkan kaum ulama.\u00a0Klaim bahwa Kemal yang menjadi \u2018tersangka\u2019\u00a0atas keruntuhan Utsmani tentu amat\u00a0tergesa-gesa serta lemah. Meski tak dapat dipungkiri bahwa ia merupakan figur yang\u00a0terlalu berani dengan lompatan gagasan yang begitu jauh dalam hal sekularisasi; yang\u00a0seharusnya memisahkan unsur agama dalam tataran <em><i>de jure<\/i><\/em>\u00a0bernegara, malah menjadi\u00a0kelewat mencampurinya.<\/p>\n<p>Namun,\u00a0Kemal yang sejatinya merupakan tokoh yang hadir di zaman\u00a0Khilafah Utsmaniyah,\u00a0memang tengah mengalami kemerosotan cukup jauh. Ia lalu\u00a0mendapatkan penghargaan gelar sebagai \u2018Bapak Bangsa Turki\u2019\u00a0atau Attaturk. Tanggal 10\u00a0November 1938 sang diktator itu wafat akibat sakit lever. Rakyat Turki dengan sedikit lega\u00a0mulai melihat sekeliling wajah bangsanya yang baru. Attaturk berbuat lebih baik dari diktator\u00a0lain selama hidupnya, tulis Jules Archer.\u00a0Ia\u00a0memerdekakan bangsanya dari jajahan asing dan\u00a0mengeluarkannya dari abad kegelapan. Wajar saja, Kemal-lah yang berperan dalam\u00a0menghalau kolonisasi Barat di bawah Yunani pasca Utsmaniyah kalah Perang Dunia I; ia\u00a0juga yang membidani negara Turki modern.<\/p>\n<p>Beranjak dari sebab-musabab perubahan Aya Sofya dari masjid ke museum dan\u00a0kembali lagi pada status terdahulu, kita perlu membaca sejarah bangunan ini langsung ke\u00a0akarnya. Buku-buku sejarah mencatatkan nama awalnya adalah \u2018Hagia Sophia\u2019\u00a0yakni sebuah\u00a0gereja yang didirikan oleh Kaisar Romawi Timur\/Byzantium, oleh salah seorang yang\u00a0termasyhur yakni Justinian I (527-565 M). Ia merupakan kaisar yang berhasil merebut\u00a0kembali Afrika Utara dari bangsa Vandal dan sebagian Italia dari bangsa Goth, bahkan\u00a0memperoleh kembali Spanyol bagian selatan.<\/p>\n<p>Byzantium merupakan kekaisaran Kristiani\u00a0yang mengadopsi ritus Kekristenan Timur dengan liturgi Yunani (berbeda dengan ritus Barat\u00a0yang Latin-Katholik).\u00a0Sembari para jenderalnya meluaskan wilayah kekaisaran, Justinian dikenal karena\u00a0perhatiannya pada pendirian bangunan-bangunan publik yang berguna, selain juga untuk\u00a0menghiasi kota, termasuk sejumlah pabrik di Konstantinopel, ibukota Byzantium. Ia\u00a0termasuk yang pertama kali membawa ulat sutra ke Eropa.<\/p>\n<p>Bangunan yang paling\u00a0mengagumkan di antaranya adalah Katedral Hagia Sophia, yang dalam kurun waktu\u00a0yang panjang menjadi bagunan gereja terbesar di dunia. Namanya kian abadi setelah\u00a0mempekerjakan Trinbonian, seorang pengacara ternama, untuk mengumpulkan dan\u00a0menyederhanakan teks-teks hukum yang beredar. Kumpulan\/kompilasi yang berhasil\u00a0dikerjakan lalu dikenal dengan nama Code of Justinian, salah satu model bagi sumber hukum\u00a0kebanyakan negara-negara Eropa.\u00a0Kaisar pekerja keras, bahkan sering kali ia belajar\u00a0sepanjang hari tanpa makan atau tidur itu wafat di usia 83 tahun.<\/p>\n<p>Kita perlu mengulas sedikit\u00a0sosok Justinian, karena ternyata reputasinya itu bisa saja mengaburkan fakta sejarah yang\u00a0tertua.\u00a0Lebih awal dari Justinian, kaisar Konstantin Agung merupakan pendiri dari sebuah\u00a0kota yang ia sebut Nova Roma (Roma Baru), diresmikan sebagai ibukota Byzantium pada 2\u00a0April 330 M. Sebagai penguasa pertamanya, ia tidak benar-benar mengganti namanya demi\u00a0Romawi,\u00a0melainkan demi dirinya sehingga kota itu pun dikenal sebagai Konstantinopel\u00a0selama kurang lebih seribu tahun berikutnya.<\/p>\n<p>Ia juga membangun sejumlah gereja di\u00a0ibukotanya yang baru,\u00a0terutama Aya Sofya, Aya Irini, dan Rasul Suci. Tetapi,\u00a0menurut John\u00a0Freely dalam buku Istanbul Kota Kekaisaran, mengutip sejarawan abad ke-5 M bernama\u00a0Socrates, menyebut Konstantin hanya membangun Gereja Rasul Suci dan sekadar memugar\u00a0Aya Irini,\u00a0sedangkan Aya Sofya diselesaikan Konstantin setelah meneruskan ayahnya\u00a0(bernama Konstansius Khlorus-Pen) sebagai kaisar.<\/p>\n<p>Artinya, Hagia Sophia bisa saja didirikan\u00a0jauh lebih awal, bahkan sebelum Byzantium berdiri dan bahkan lebih dahulu dari peresmian\u00a0Kekristenan Ortodoks menjadi agama resmi kekaisaran itu \u2013 Konstantin dicatat sebagai\u00a0kaisar Kristen Byzantium pertama, meski ia memeluknya saat mendekati ajal.<\/p>\n<p>Sebagaimana Aya Irini didedikasikan pada \u2018Kedamaian Ilahi\u2019\u00a0(dalam bahasa Yunani,\u00a0\u2018Eirene\u2019), maka Aya Sofya diabdikan untuk \u2018Kebijaksanaan Ilahi\u2019\u00a0(dalam bahasa Yunani,\u00a0\u2018Sophia\u2019). Terdapat versi lain mengenai arti dari nama bangunan ini, Aya Sofya atau Hagia\u00a0Sophia dalam bahasa Yunani mempunyai sebuah arti sebagai \u2018Kearifan Kudus\u2019. Bangunan\u00a0gereja yang asli pada masa Konstanin akhirnya terhapus dalam sejarah,\u00a0setelah peristiwa\u00a0Pemberontakan Nika di bawah Hypatius pada tahun 532 M. Pasca kondisi pulih, Justinian I\u00a0membangun kembali Hagia Sophia sebagaimana yang dapat dilihati sekarang.<\/p>\n<p>Tak hanya\u00a0mempertahankan nama indahnya, Justinian membangun gereja itu dengan begitu megah.\u00a0Rancang bangun gereja itu berbentuk persegi empat, dengan lebar sekitar 70 meter\u00a0dan panjang 75 meter. Di tengah-tengah tembok timur terdapat sebuah apse yang menonjol\u00a0keluar, setengah lingkaran di bagian dalam dan berbentuk tiga sisi di bagian luar; di sebelah\u00a0barat, terlihat serambi luar dan serambi dalam, masing-masing memiliki sembilan ruangan\u00a0kecil berkubah. Di atas tengah-tengah daerah persegi empat dari bagian tengah gereja tampak\u00a0sebuah kubah raksasa dengan kubah-kubah lebih kecil di timur dan barat serta kubah\u00a0setengah lingkaran yang menaungi apse dan empat sudutnya.<\/p>\n<p>Kubah tersebut,\u00a0seperti yang ditulis\u00a0oleh sejarawan abad ke-6 Byzantium asal Palestina bernama Procopius, seolah tidak\u00a0bertengger di atas dasar yang keras,\u00a0melainkan menaungi ruang di bawahnya seperti\u00a0digantung langsung dari surga. Sesungguhnya penopang utama kubah itu adalah empat pilar\u00a0berbentuk tidak beraturan yang berdiri di atas daerah berbentuk bujur sangkar berukuran 31\u00a0meter di keempat sisinya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_55313\" aria-describedby=\"caption-attachment-55313\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-55313 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/08\/Hagia-Sophia-scaled.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"427\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/08\/Hagia-Sophia-scaled.jpg 640w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/08\/Hagia-Sophia-300x200.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/08\/Hagia-Sophia-750x500.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-55313\" class=\"wp-caption-text\">Potret Hagia Sophia\/Aya Sofya dalam wujud rekonstruksi modern sebagai gereja. (fornews.co\/foto:ist\/net)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Nasib Hagia Sophia berganti sesudah ia menjulang tegak sebagai bangunan\u00a0peribadatan umat Kristiani selama hampir satu milenium. Saat senja menjelang malam pada\u00a0hari penaklukan Konstantinopel, selasa 29 Mei 1453, Sultan Mehmet II melewati gerbang\u00a0Adrianopolis sembari dielukan sebagai \u2018Fetih\u2019\u00a0atau \u2018Sang Penakluk\u2019. Orang Turki sudah\u00a0mengenal kota yang mereka panggil Konstantiniye,\u00a0meski setelah penaklukan disebut dalam\u00a0bahasa Turki menjadi \u2018Istanbul\u2019, plesetan dari bahasa Yunani \u2018Eis tin Polin\u2019\u00a0yang berarti \u2018di\u00a0dalam kota\u2019\u00a0atau \u2018menuju kota\u2019.<\/p>\n<p>Mehmet memerintahkan agar bangunan ini segera dirubah\u00a0menjadi tempat ibadah umat Muslim dengan nama Aya Sofya Camii Kabir, Masjid Besar Aya\u00a0Sofya. Hal ini menandakan perlunya pendirian sebuah menara untuk para muazin, termasuk\u00a0sebuah panggung kecil atau mimbar bagi imam yang memimpin salat serta mihrab atau\u00a0ceruk yang menunjukkan arah kiblat ke Mekkah. Setelah semua pembangunan itu kelar,\u00a0Mehmet Fetih melaksanakan salat Jumat di masjid itu pada 1 Juni 1453 ditemani dua imam\u00a0kepalanya, Aksemsettin dan Karasemsettin.<\/p>\n<p>Tulisan singkat ini memang tidak ditujukan untuk menguatkan klaim mengenai pantas\u00a0atau tidaknya keputusan pemerintah Turki mengalih-fungsikan Aya Sofya kembali sebagai\u00a0masjid. Kajian sederhana ini pun mungkin belum memenuhi kriteria komprehensif seperti\u00a0ditulis oleh mereka yang sanggup menguak romantisme Aya Sofya,\u00a0sebagai bagian dari alur\u00a0sejarah Islam \u2013 bahkan di antaranya ada yang tak jarang menyisipkan harapan agar model\u00a0pemerintahan era Utsmaniyah \/ Ottoman kembali berdiri.<\/p>\n<p>Tapi,\u00a0di masa merebaknya\u00a0\u2018pageblug\u2019\u00a0Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)\u00a0sekarang, yang bahkan turut mewajibkan kita berhati-hati di tempat\u00a0ibadah, perlu pemaknaan lebih dalam atas pemberitaan seputar Hagia Sophia atau Aya Sofya.<\/p>\n<p>Aya Sofya yang berarti \u2018Kebijaksanaan Ilahi\u2019\u00a0memang meminta kita semua berusaha\u00a0bijak dalam memandang situs bersejarah. Sejak awal pembangunannya, tak ada yang dapat\u00a0dengan tegas menyebut siapa pendirinya : ia dikenal sebagai warisan Justinian I abad ke-6, tapi telah menjadi salah satu ikon kota yang didirikan oleh Konstantin tiga abad sebelumnya,\u00a0meski begitu Konstantin tak diyakini sebagai peletak batu pertamanya namun hanya\u00a0merampungkannya.<\/p>\n<p>Jika sekonyong-konyong kita lantang menyebut kembalinya Aya Sofya\u00a0sebagai masjid sebagai \u2018Kemenangan Islam Melawan Sekularisme\u2019, justru Mustafa Kemal\u00a0Attaturk yang bertanggung jawab atas perubahannya menjadi museum adalah Bapak Bangsa\u00a0yang menyelamatkan Turki dari kolonisasi pasca kalah Perang Dunia I. Mehmet II\u00a0mengubahnya menjadi masjid dengan tidak merobohkannya terlebih dahulu, artinya sisa\u00a0peradaban Romawi-Kristen pun juga sangat perlu dihargai.<\/p>\n<p>Menyoal protes pemerintah Yunani atas keputusan Erdogan, di dalamnya bisa saja\u00a0memuat tendensi keagamaan,\u00a0karena Hagia Sophia awalnya adalah tempat ibadah Kristen dari\u00a0Ritus Timur Yunani selama sekitar 1000 tahun, belum lagi Yunani dahulu pernah dijajah\u00a0Ottoman,\u00a0meski kemudian dapat merdeka. Yunani lalu sempat mengancam kedaulatan Turki\u00a0pasca 1918 walau akhirnya gagal juga.<\/p>\n<p>Berbagai perspektif, segi, dan dimensi dapat kita\u00a0jumpai dalam menanggapi satu bangunan, bahkan di kalangan Muslim sendiri ada yang tidak\u00a0menyetujui kembalinya fungsi bangunan sebagai masjid seperti dalam pendapat Shawky\u00a0Allam.<\/p>\n<p>Sebagai penutup,\u00a0sewajarnya kita resapi tulisan Akbar S. Ahmed, seorang antropolog\u00a0modern, saat ia merenung dalam kunjungannya ke situs sejarah Cordoba (Spanyol) :<\/p>\n<p><em><i>\u201c&#8230;.saya merenungkan nasib dua rumah Tuhan terbesar di dua ujung Eropa yang<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>berlawanan. Masjid Cordoba di barat dan gereja di Konstantinopel di timur. Masjid<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>itu diubah menjadi gereja oleh kaum Kristen, gereja tersebut dirubah menjadi mesjid<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>oleh umat Muslim. Perubahan dengan paksa seperti itu menyedihkan saya, dan saya<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>teringat teladan dari kebijaksanaan dan kemuliaan Umar (bin Khattab) di Jerusalem<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>(saat Umar menolak tawaran Patriark Sophronius untuk shalat di dalam Gereja<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>Makam Suci, karena takut jika kelak Umat Islam menuntut tempat suci itu diubah<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>menjadi masjid-Pen)&#8230;\u201d<\/i><\/em><\/p>\n<p><strong>Sumber :<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><em>Ahmed, Akbar S., Rekonstruksi Sejarah Islam : Di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban,\u00a0Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2002.<\/em><\/li>\n<li><em>Archer, Jules, Kisah Para Diktator : Biografi Politik Para Penguasa Fasis, Komunis,\u00a0Despotis, dan Tiran , Yogyakarta : Narasi, 2014.<\/em><\/li>\n<li><em>Crowley, Roger, 1453 : Detik-detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim, Jakarta :\u00a0Pustaka Alvabet, 2011.<\/em><\/li>\n<li><em>Freely, John, Istanbul Kota Kekaisaran, Jakarta : Pustaka Alvabet, 2012.<\/em><\/li>\n<li><em>Freely, John, Sultan Mehmet II Sang Penakluk, Jakarta : Pustaka Alvabet, 2012.<\/em><\/li>\n<li><em>Gombrich, Ernst H., Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda, Tangerang Selatan : CV. Marjin\u00a0Kiri, 2015.<\/em><\/li>\n<li><em>Haaren, John H., Tokoh-tokoh Termasyhur Abad Pertengahan : dari Alaric si Visigoth\u00a0sampai Warwick Sang Kingmaker, Jakarta : Penerbit Almeta, 2005.<\/em><\/li>\n<li><em>Isputaminingsih, \u201cSejarah Islam : Kasus Sekularisme Turki\u201d, Jurnal Criksetra Vol. 3 No. 5.<\/em><\/li>\n<li><em>Mufti Agung Mesir : Hagia Sophia Jadi Masjid Dilarang dalam Islam, dalam tempo.co\u00a0diakses 24 Juli pukul 19.23 WIB.<\/em><\/li>\n<li><em>Mustafa Kamal Attaturk Tersiksa di Akhir Hayatnya, dalam dakta.com diakses 18 Juli 2020\u00a0pukul 06.07 WIB.<\/em><\/li>\n<li><em>Netizen Sambut Masjid Hagia Sophia Gelar Salat Jumat Perdana, dalam cnnindonesia.com\u00a0diakses 24 Juli 2020 pukul 14.53 WIB.<\/em><\/li>\n<li><em>Sejarah Hagia Sophia, Perjalanan Kembali Menjadi Masjid, dalam kompas.com diakses 17\u00a0Juli 2020 pukul 13.04 WIB.<\/em><\/li>\n<li><em>Wells, H.G., Sejarah Dunia Singkat, Yogyakarta : Penerbit Indoliterasi, 2013.<\/em><\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis:\u00a0Arafah Pramasto,S.Pd (Anggota Studie Club \u2018Gerak Gerik Sejarah\u2019) Perhatian publik tertuju pada pemberitaan internasional mengenai pencabutan status Hagia Sophia\/Aya Sofya sebagai museum dan kembali berfungsi sebagai sebuah tempat ibadah, menjadi masjid bagi kaum Muslimin, oleh Pengadilan Administrasi Utama Turki di hari ke 10 bulan Juli 2020. Gelaran ibadah Salat Jumat diadakan perdana pada 24 Juli\u00a02020, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":55311,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[19],"tags":[17198,17201,17200,17199],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/08\/Aya-Shofia.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-eo4","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55308"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55308"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55308\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56420,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55308\/revisions\/56420"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55311"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55308"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55308"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55308"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}