
{"id":60347,"date":"2020-11-03T09:15:47","date_gmt":"2020-11-03T02:15:47","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=60347"},"modified":"2020-11-07T23:33:17","modified_gmt":"2020-11-07T16:33:17","slug":"bisa-dimulai-dari-dapur-dan-meja-makan-lho-yuk-kurangi-emisi-karbon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/bisa-dimulai-dari-dapur-dan-meja-makan-lho-yuk-kurangi-emisi-karbon\/","title":{"rendered":"Bisa Dimulai dari Dapur dan Meja Makan Lho! Yuk Kurangi Emisi Karbon"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, fornews.co<\/strong> &#8211; Air, energi, dan pangan merupakan tiga unsur penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Dibutuhkan sinkronisasi antar pihak sebagai landasan yang kuat untuk melakukan aksi bersama.<\/p>\n<p>Semua itu berawal dari peran tiap individu yang dapat berkontribusi terhadap perubahan iklim. Tak perlu susah mengawalinya yakni dimulai dari dapur masing-masing.<\/p>\n<p>Memasak makanan rendah karbon dan memilih bahan makanan lokal dan berkelanjutan akan membantu mengurangi jejak karbon pemicu pemanasan global.<\/p>\n<p>Amanda Katili Niode, Manager Climate Reality Indonesia mengatakan, menahan laju perubahan iklim bisa dimulai dari dapur dan meja makan yakni dengan <em>climate smart eating<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cKita harus menyadari jejak karbon pada makanan kita. Kemudian memikirkan dari mana asal bahan yang kita gunakan dan sumber daya untuk memproduksinya,\u201d ujarnya dalam webinar Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa, akhir pekan lalu.<\/p>\n<p>Menurut dia, penting juga mempelajari dan menerapkan praktik regeneratif langsung di dapur dan di meja makan. Mengkonsumsi makanan berbasis nabati dan mengurangi makan daging menjadi upaya sustainable diet.<\/p>\n<p>\u201cUpaya tersebut dapat mengurangi 97 persen biaya kesehatan dan 41 hingga 47 persen biaya sosial terkait emisi karbon pada tahun 2030,\u201d ungkap Amanda.<\/p>\n<p>Senada, Mei Batubara dari Nusa Gastronomi mengatakan, dengan menyadari dari mana makanan berasal terutama makanan lokal, kita akan lebih mencintai lingkungan.<\/p>\n<p>\u201cKita harus tahu kita telah kehilangan banyak bahan-bahan masakan akibat dari kerusakan alam, sehingga mengancam hilangnya kuliner Indonesia,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Diperlukan penanaman kesadaran kepada masyarakat utamanya kepada anak-anak dan generasi muda bahwa alam merupakan penyedia bahan makanan yang paling penting. Kerusakan alam bisa mengakibatkan hilangnya sumberdaya di dalamnya dan berakibat hilangnya kekayaan kuliner nusantara.<\/p>\n<p>Sementara itu Suzy Hutomo, Executive Chairwoman of The Body Shop Indonesia mengatakan salah satu kunci mengatasi perubahan iklim yakni dengan mengubah gaya hidup menjadi rendah karbon.<\/p>\n<p>Yang telah diterapkannya yakni dengan konsep green house di kediaman maupun kantornya, memasang solar panel untuk tenaga listrik, menggunakan kendaraan hybrid yang minim emisi karbon, pengelolaan sampah rumah tangga dan juga menanam sendiri bahan-bahan makanan yang akan dikonsumsi, seperti sayur-sayuran dan juga buah-buahan.<\/p>\n<p>\u201cKita lebih banyak mengkonsumsi makanan dari kebun sendiri, hasil dari komposting sendiri,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Selain <em>talkshow<\/em> juga digelar Kontes \u201cResep Inovatif Ramah Iklim\u201d yang bertujuan untuk menginspirasi pegiat kuliner dan masyarakat Indonesia untuk berinovasi menciptakan resep masakan baru yang ramah iklim. Dengan penggunaan bahan baku emisi rendah seperti pangan yang berbasis sayur dan buah, tersedia secara lokal, dan organik lebih diutamakan. (yas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, fornews.co &#8211; Air, energi, dan pangan merupakan tiga unsur penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Dibutuhkan sinkronisasi antar pihak sebagai landasan yang kuat untuk melakukan aksi bersama. Semua itu berawal dari peran tiap individu yang dapat berkontribusi terhadap perubahan iklim. Tak perlu susah mengawalinya yakni dimulai dari dapur masing-masing. Memasak makanan rendah karbon dan memilih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":60348,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[15206],"tags":[18667,8920],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/11\/IMG-20201103-WA0032-scaled.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-fHl","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60347"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60347"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60347\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":60627,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60347\/revisions\/60627"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60348"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60347"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60347"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60347"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}