
{"id":60615,"date":"2020-11-07T19:15:58","date_gmt":"2020-11-07T12:15:58","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=60615"},"modified":"2020-11-07T19:45:46","modified_gmt":"2020-11-07T12:45:46","slug":"mendagri-tito-karnavian-kekerasan-untuk-membina-karakter-omong-kosong-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/mendagri-tito-karnavian-kekerasan-untuk-membina-karakter-omong-kosong-itu\/","title":{"rendered":"Mendagri Tito Karnavian: Kekerasan untuk Membina Karakter, Omong Kosong Itu"},"content":{"rendered":"<p><strong>SUMEDANG, fornews.co<\/strong> \u2013 Tak boleh lagi ada kekerasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Jika masih ada praja melakukan kekerasan, sanksinya tegas dan jelas, pemecatan dan dituntut tindak pidana.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian saat memberi kuliah umum bagi Praja IPDN di Lapangan Parade Abdi Praja IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (07\/11). Menurut Mendagri, muda praja yang baru dilantik kemarin, akan dibentuk menjadi manusia yang mendekati paripurna. Sebab tidak mungkin menjadi sempurna. Artinya memiliki kemampuan intelektual yang baik dengan ilmu-ilmu dasar, termasuk <em>core business<\/em>-nya adalah ilmu pemerintahan.<\/p>\n<p>\u201cKemudian diperkuat dengan jasmani dan kesehatan yang baik dan yang ketiga dilengkapi dengan moralitas dan mentalitas yang baik,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Jadi kata Mendagri, pintar saja tanpa diikuti dengan moralitas yang baik, meskipun kesehatan jasmani baik, akan <em>out<\/em> dari IPDN. Begitu juga, otak pintar, mental bagus, tapi sakit-sakitan, itu juga bakal <em>out<\/em>. Kemudian, moral baik, jasmani baik tapi nilainya D semua, itu juga akan <em>out<\/em> dari IPDN.<\/p>\n<p>\u201c<em>We are creating the best among the best<\/em>, lembaga ini berusaha membentuk adik-adik menjadi orang yang terbaik dari orang yang terbaik. Nah, kemudian terkait dengan tiga aspek ini, jangan lupa bahwa adik-adik akan menjadi aparatur sipil negara, maka jangan salah arah pada saat proses pembentukan, baik oleh para siswa yang dididik maupun oleh para pendidik,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Pembentukan karakter, kata, Mendagri mesti diarahkan kepada karakter sipil. Tapi sipil yang memiliki kedisiplinan.<\/p>\n<p>Mendagri menambahkan, ia pernah jadi taruna di Akpol. Jadi paham betul soal itu karena pernah mengalami kehidupan sebagai taruna yang keras dan sangat disiplin. Yang pasti kata dia, kekerasan yang dilakukan di mana-mana tujuannya cuma satu saja hanya untuk membalas dendam. Jadi, kata Mendagri, kalau ada yang mengatakan bahwa kekerasan itu dalam rangka untuk membina supaya lebih disiplin, baginya itu omong kosong. Mendagri melihat kekerasan di lembaga pendidikan tidak banyak manfaatnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya sudah sekolah di mana-mana, sekolah di Inggris, Amerika, Australia, New Zealand saya juga melihat sekolah Hometown Academy Singapura, tidak ada pukul-pukulan tetapi mereka bisa bekerja profesional,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Karena itu, dirinya sangat menentang keras kekerasan di lembaga pendidikan. Mendagri pun bercerita, saat dirinya jadi Kapolri, pada saat terjadi kekerasan, ia tak segan mencopot pelakunya dan diproses pidana. Karena itu ia mengingatkan jangan sampai ada praktik kekerasan di IPDN.<\/p>\n<p>Dengan tegas pula Mendagri memerintahkan untuk memecat praja pelaku kekerasan. Tito tak akan pandang bulu dalam menindak praja pelaku kekerasan dan akan ditindak tegas bila melakukan kekerasan di sekolah penghasil pamong praja tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSanggup untuk tidak ada kekerasan? Terutama yang senior, sanggup tidak? Anda harus memberi contoh, yang tingkat 4, sudah cukup kekerasan jangan dilanjutkan, jangan meninggalkan <em>legacy<\/em> atau warisan yang buruk kepada junior-junior. Kalau kedengaran (kekerasan) itu, saya akan perintahkan kepada pak Rektor untuk pecat, laporkan ke polisi dan pidanakan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Menurut Tito, kalau memang ada praja yang salah, hukuman fisik masih dibolehkan, seperti <em>push up<\/em> atau <em>squad jump<\/em>. Tapi jangan sampai menghukum dengan tindakan fisik seperti memukul dan menendang.<\/p>\n<p>\u201cKalau ada yang salah tindak fisik saja tidak apa-apa, <em>squad jump <\/em>atau <em>push up<\/em> yang bisa membuat sehat, juga capek, tapi tidak merusak. Tapi kalau pemukulan, betapa banyak yang menjadi korban, ada yang patah rusuknya, ada yang kakinya cacat. Orang tua yang mengirim anaknya untuk sekolah di sini bukan mengharapkan anaknya untuk dipukul, digebuki. Tolong dipahami betul itu,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Semua elemen di IPDN, lanjut Mendagri, harus memutus\u00a0 mata rantai kekerasan. Budaya kekerasan\u00a0 tidak ada gunanya. Hanya melahirkan dendam berkepanjangan.<\/p>\n<p>\u201cJadi kalau ada junior- junior yang melihat ada senior mengatakan ini untuk membentuk itu (karakter), <em>bullshit<\/em> itu. Dendam tidak boleh diturunkan,\u201d ucap Tito. (ije)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SUMEDANG, fornews.co \u2013 Tak boleh lagi ada kekerasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Jika masih ada praja melakukan kekerasan, sanksinya tegas dan jelas, pemecatan dan dituntut tindak pidana. Hal itu disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian saat memberi kuliah umum bagi Praja IPDN di Lapangan Parade Abdi Praja IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":60617,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[4],"tags":[18764,18763,18756],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/11\/Tito-Karnavian_1-scaled.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-fLF","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60615"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60615"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60615\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":60618,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60615\/revisions\/60618"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60617"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60615"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60615"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60615"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}