
{"id":60898,"date":"2020-11-12T18:45:16","date_gmt":"2020-11-12T11:45:16","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=60898"},"modified":"2020-11-12T19:29:11","modified_gmt":"2020-11-12T12:29:11","slug":"3m-dan-3t-tak-terpisahkan-untuk-putus-penularan-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/3m-dan-3t-tak-terpisahkan-untuk-putus-penularan-covid-19\/","title":{"rendered":"3M dan 3T Tak Terpisahkan untuk Putus Penularan COVID-19"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, fornews.co<\/strong> \u2013 Penerapan 3T (<em>tracing, testing, treatment<\/em>) tidak kalah pentingnya dengan perilaku 3M (menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan) yang selama ini gencar dikampanyekan. Kedua hal itu sama-sama bermanfaat dan bertujuan memutus mata rantai penularan COVID-19.<\/p>\n<p>\u201c3M banyak membicarakan kita sebagai individu. Sementara 3T berbicara tentang bagaimana kita memberikan notifikasi atau pemberitahuan pada orang di sekitar kita untuk waspada. Jadi memang ada satu proses yang tidak hanya melibatkan individu tapi juga orang yang lebih banyak,\u201d ujar Penasihat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menkomarinvest), Monica Nirmala dalam Dialog Produktif bertema Optimisme Masyarakat terhadap 3T (Tracing, Testing, Treatment) yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis (12\/11).<\/p>\n<p>Monica menyampaikan, pemeriksaan dini menjadi penting agar bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Tak hanya itu, dengan mengetahui lebih cepat, seseorang bisa menghindari potensi penularan ke orang lain. Lalu, pelacakan dilakukan pada kontak-kontak terdekat pasien positif COVID-19. Setelah diidentifikasi oleh petugas kesehatan, kontak erat pasien harus melakukan isolasi atau mendapatkan perawatan lebih lanjut.<\/p>\n<p>\u201cSeandainya ketika dilacak si kontak erat menunjukkan gejala, maka perlu dilakukan tes, kembali ke praktik pertama (<em>testing<\/em>),\u201d kata Monica.<\/p>\n<p>Kemudian, perawatan akan dilakukan apabila seseorang positif COVID-19. Jika ditemukan tidak ada gejala, maka orang tersebut harus melakukan isolasi mandiri di fasilitas yang sudah ditunjuk pemerintah. Sebaliknya, jika orang tersebut menunjukkan gejala, maka para petugas kesehatan akan memberikan perawatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah. Hingga saat ini, Monica mencatat ada tiga indikator yang menjadi standarisasi pemeriksaan COVID-19 yakni, jumlah spesimen, kecepatan hasil pemeriksaan, dan rasio positif.<\/p>\n<p>\u201cDi Indonesia angka <em>testing<\/em> rata-rata mencapai 24.000-34.000 orang per hari,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Dari segi kapasitas laboratorium yang dimiliki Indonesia sangat memadai untuk melakukan pemeriksaan sesuai standar WHO. Kapasitas tes di laboratorium hampir 80.000. Kendalanya justru pada individu, ketika seseorang menunjukkan gejala COVID-19, kontak eratnya takut untuk memeriksakan diri (<em>testing<\/em>).<\/p>\n<p>\u201cSetiap orang harus mengambil peranan untuk memutus rantai dengan berpartisipasi kooperatif menerapkan 3M dan 3T,\u201d ujar Monica.<\/p>\n<p>Sementara itu, Managing Director IPSOS Indonesia, Soeprapto Tan mengemukakan masih ada 29% masyarakat yang tidak paham mengenai 3T. Sebaliknya, 99% masyarakat mengaku paham terhadap 3M. Artinya, masih ada masyarakat yang menganggap perilaku 3M dan 3T adalah dua hal yang terpisah, padahal kenyataannya justru kedua hal tersebut diakuinya merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.<\/p>\n<p>\u201cKampanye 3M di awal-awal sangat kencang sekali dan terus berjalan sampai sekarang. Jika 3M tidak berjalan, maka 3T pasti akan lebih parah. Sekarang 3M sudah berjalan, saatnya kita mulai membicarakan 3T,\u201d jelas Soeprapto.<\/p>\n<p>Soeprapto mengatakan, salah satu faktor yang menghambat kampanye 3T adalah ketakutan atas stigma masyarakat. Pemerintah perlu mengimbau masyarakat agar tidak mengucilkan pasien positif COVID-19, namun memberikan dukungan dan keprihatinan agar stigma negatif di mata publik bisa menghilang.<\/p>\n<p>Soeprapto menjelaskan, ada beberapa strategi yang dilaksanakan pemerintah untuk memperkuat upaya perubahan perilaku di masyarakat yakni, kampanye 3M, sedangkan 3T dengan melakukan deteksi awal penyebaran COVID-19 dengan <em>testing<\/em> dan <em>tracing<\/em> yang tepat sasaran, sementara untuk <em>treatment<\/em> pemerintah memperkuat manajemen perawatan pada pasien COVID-19. Meskipun vaksin COVID-19 nantinya sudah ditemukan dan bisa didistribusikan, perilaku 3M dan 3T harus tetap dijalankan.<\/p>\n<p>\u201cKalau misalkan mendapatkan vaksin Mei atau Juni (2021), kebiasan terhadap 3M dan 3T harus tetap kita jalankan sampai pemerintah benar-benar memberikan informasi bahwa COVID-19 sudah tidak ada,\u201d kata Soeprapto.<\/p>\n<p>\u201cJadi 3M dan 3T sama pentingnya dan satu kesatuan, kita berupaya memutus mata rantai penularan COVID-19 dengan kita melindungi diri dan melindungi sesama,\u201d tambah Monica.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini 3M masih satu-satunya \u201cvaksin\u201d paling ampuh. Jadi kita harus konsisten dan jangan lengah untuk melakukan 3M. Bersamaan dengan itu kita semua serta masyarakat harus mendukung pelaksanaan 3T, terutama dalam hal <em>testing<\/em>. Karena apabila masyarakat tidak mau melakukan <em>testing<\/em>, maka <em>tracing<\/em> tidak akan terjadi,\u201d tukas Soeprapto. (ads\/ije)<\/p>\n<p><strong>#satgascovid19 #ingatpesanibu #ingatpesanibupakaimasker #ingatpesanibujagajarak #ingatpesanibucucitangan #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, fornews.co \u2013 Penerapan 3T (tracing, testing, treatment) tidak kalah pentingnya dengan perilaku 3M (menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan) yang selama ini gencar dikampanyekan. Kedua hal itu sama-sama bermanfaat dan bertujuan memutus mata rantai penularan COVID-19. \u201c3M banyak membicarakan kita sebagai individu. Sementara 3T berbicara tentang bagaimana kita memberikan notifikasi atau pemberitahuan pada orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":60899,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[18043],"tags":[18677,18678,18670,18673,18672,18671,18675,18676,18674,18669,18865],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2020\/11\/Talkshow-KCP-PEN-12-November-2020-scaled.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-fQe","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60898"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=60898"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":60900,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/60898\/revisions\/60900"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/60899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=60898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=60898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=60898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}