
{"id":63630,"date":"2021-01-01T19:00:26","date_gmt":"2021-01-01T12:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=63630"},"modified":"2021-01-01T23:13:02","modified_gmt":"2021-01-01T16:13:02","slug":"sepanjang-2020-kekerasan-seksual-dominasi-kasus-yang-diadvokasi-wcc-palembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/sepanjang-2020-kekerasan-seksual-dominasi-kasus-yang-diadvokasi-wcc-palembang\/","title":{"rendered":"Sepanjang 2020, Kekerasan Seksual Dominasi Kasus yang Diadvokasi WCC Palembang"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG, fornews.co<\/strong> &#8211; Kerentanan perempuan terhadap kekerasan seksual dan kekerasan di ranah privat, baik dalam situasi sebelum pandemi maupun selama pandemi, dinilai masih cukup tinggi.<\/p>\n<p>\u201cHal ini berdasarkan pengalaman Women Crisis Centre (WCC) Palembang dalam mendampingi perempuan korban kekerasan di masa pandemi sepanjang tahun 2020,\u201d ujar Direktur Eksekutif WCC Palembang, Yeni Roslaini Izi, Kamis (31\/12).<\/p>\n<p>Sepanjang Tahun 2020, WCC Palembang telah melakukan pendampingan 113 kasus, yang terdiri dari kekerasan seksual berupa perkosaan, pelecehan seksual dan kekerasan seksual lainnya, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), serta beragam bentuk kekerasan lainnya.<\/p>\n<p>Diakui Yeni, pandemi COVID-19 sangat mempengaruhi akses layanan bagi perempuan korban dan pendamping dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan. Pihaknya terpaksa melakukan perubahan waktu dan metode pelayanan, yaitu dari layanan secara tatap muka menjadi daring.<\/p>\n<p>\u201cTentu saja hal ini berdampak pada waktu layanan menjadi lebih panjang dan terbatasnya mobilitas ke lokasi jangkauan layanan. Penanganan kasus menjadi tidak maksimal,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Yeni merinci, pada tahun 2020 ini kasus kekerasan seksual paling banyak didampingi WCC Palembang yakni sebanyak 46 kasus atau 40,71% dari 113 kasus. Bentuk kekerasan seksual ini di antaranya berupa perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, dan intimidasi atau serangan bernuansa seksual. Mereka yang mengalami kekerasan seksual, juga mengalami satu atau lebih kekerasan lainnya, terutama psikis, fisik, atau ekonomi. Kekerasan ini bermuara dari adanya ketimpangan relasi gender, terus bertahan kuat karena berlakunya penilaian moralitas yang cenderung mempersalahkan dan menstigma korban.<\/p>\n<p>\u201cOleh karena itu, tahun 2020 WCC Palembang masih terus melakukan advokasi atau kampanye untuk mendesak disahkannya UU Penghapusan Kekerasan Seksual, demi keadilan, kebenaran, pemulihan, dan jaminan tak berulang,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Selanjutnya, Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan bentuk kekerasan yang terbanyak kedua dialami perempuan di Sumsel. Perempuan terjebak dalam lingkaran KDRT, perempuan adalah korban KDRT yang beberapa di antaranya juga menjadi pelaku kekerasan terhadap anaknya sendiri. Data WCC Palembang menunjukkan bahwa korban KDRT di masa pandemi COVID-19 ini mengalami kekerasan fisik maupun psikis yang kelihatan lebih parah dibanding sebelumnya.<\/p>\n<p>WCC Palembang juga menerima pengaduan yang cukup tinggi terkait kekerasan di dunia maya (kejahatan siber) atau Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), terutama berupa eksploitasi seksual anak perempuan dan tubuh perempuan di dunia maya.<\/p>\n<p>\u201cKBGO yang didampingi WCC Palembang pada masa pandemi (tahun 2020) yaitu 28 kasus. Meningkat dibandingkan tahun 2019 dengan 8 kasus,\u201d sebutnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, penting bagi pemerintah untuk memberikan perhatian khusus pada hal ini. Pemerintah juga diharapkan dapat bersinergi dengan lembaga layanan berbasis komunitas dan pendamping korban kekerasan terhadap perempuan, guna memberikan keadilan bagi korban dapat terpenuhi. (yas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG, fornews.co &#8211; Kerentanan perempuan terhadap kekerasan seksual dan kekerasan di ranah privat, baik dalam situasi sebelum pandemi maupun selama pandemi, dinilai masih cukup tinggi. \u201cHal ini berdasarkan pengalaman Women Crisis Centre (WCC) Palembang dalam mendampingi perempuan korban kekerasan di masa pandemi sepanjang tahun 2020,\u201d ujar Direktur Eksekutif WCC Palembang, Yeni Roslaini Izi, Kamis (31\/12). [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":63631,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[16],"tags":[19559,19560],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2021\/01\/WhatsApp-Image-2020-12-31-at-20.17.28.jpeg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-gyi","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63630"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63630"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63630\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63633,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63630\/revisions\/63633"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63631"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63630"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63630"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63630"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}