
{"id":67242,"date":"2021-03-09T14:48:07","date_gmt":"2021-03-09T07:48:07","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=67242"},"modified":"2021-03-09T14:51:13","modified_gmt":"2021-03-09T07:51:13","slug":"reklamasi-makassar-new-port-rusak-mata-pencaharian-nelayan-kodingareng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/reklamasi-makassar-new-port-rusak-mata-pencaharian-nelayan-kodingareng\/","title":{"rendered":"Reklamasi Makassar New Port Rusak Mata Pencaharian Nelayan Kodingareng"},"content":{"rendered":"<p><strong>MAKASSAR, Fornews.co<\/strong> &#8211;\u00a0Proyek reklamasi pelabuhan Makassar New Port (MNP) dinilai telah mengganggu aktivitas nelayan Pulau Kodingareng sekaligus merusak ekosistem laut di perairan Spermonde.<\/p>\n<p>Sejak kapal PT Royal Boskalis yakni Queen of the Netherlands beroperasi menambang pasir di kepulauan Spermonde pada Februari-Agustus 2020, dampaknya perekonomian masyarakat nelayan Kodingareng saat ini mengalami kelumpuhan.<\/p>\n<p>Hasil penelusuran Koalisi Save Spermonde mengidentifikasi kerusakan yang ditimbulkan oleh tambang pasir PT Boskalis berdampak langsung pada hasil tangkapan nelayan Kodingareng yang menurun drastis. Hal ini dipengaruhi oleh keruhnya air laut akibat sebaran sedimen hasil kerukan pasir yang berdampak pada terumbu karang sebagai habitat berbagai organisme laut, rusaknya terumbu karang dapat melumpuhkan ekosistem perairan Spermonde.<\/p>\n<p>\u201cSejak Agustus hingga Desember 2020, kami melakukan riset di Pulau Kodingareng, dimana hasilnya menunjukan bahwa kegiatan penambangan pasir laut telah merusak ekosistem laut yang berakibat pada menurunnya hasil tangkapan nelayan. Bahkan hingga saat ini nelayan dan keluarganya mengalami krisis keuangan tidak mampu membeli kebutuhan pokok,\u201d ulas Muhammad Al Amin, Direktur WALHI Sulawesi Selatan dalam siaran pers, Selasa (9\/3\/21).<\/p>\n<p>Tambang pasir laut di perairan Spermonde telah menyebabkan perubahan yang signifikan di dasar laut sehingga pola arus dan gelombang menjadi lebih besar. Hal ini mendorong terjadinya abrasi di daerah pantai nelayan, selain itu peningkatan sedimen tersuspensi telah merusak ekosistem terumbu karang sehingga menurunkan populasi ikan di sekitar perairan Spermonde<\/p>\n<p>\u201cSaat penambangan beroperasi, bahkan hingga saat ini, populasi ikan di perairan Spermonde terutama di wilayah Copong telah menurun drastis. Padahal wilayah tersebut merupakan zona tangkap utama bagi ribuan nelayan, tidak hanya yang di Pulau Kodingareng, tetapi juga nelayan di pulau-pulau kecil lainnya\u201d, kata Amin.<\/p>\n<p>Kini, meski aktivitas penambangan pasir laut telah berhenti namun nelayan masih kesulitan melaut. Selain itu, hasil tangkapan para nelayan juga belum kembali normal seperti sebelum adanya penambangan.\u00a0Penyebabnya, peningkatan gelombang air laut yang semakin tinggi serta kekeruhan air laut yang masih terjadi dan terus menyebar ke wilayah lain dan mengendap di karang.<\/p>\n<p>Copong, wilayah tangkap utama bagi ribuan nelayan di Perairan Spermonde kini telah berubah sejak kapal pengeruk pasir beroperasi. \u201cDaerah tangkapan ikan sekitar Copong selalu keruh seperti air cucian beras. Para nelayan pun sangat sulit mendapatkan hasil tangkapan seperti dulu,\u201d ungkap Aswin, Nelayan Pulau Kodingareng.<\/p>\n<p>Penurunan pendapatan nelayan akibat turunnya hasil tangkapan nelayan setiap harinya terutama di masa pandemi Covid-19 telah memukul ekonomi masyarakat di Pulau Kodingareng, terutama bagi para perempuan. Akibatnya sejumlah anak-anak harus putus sekolah, utang meningkat 10 kali lipat dan yang paling memprihatinkan adalah sulitnya keluarga nelayan membeli kebutuhan pokok.<\/p>\n<p>Selama kurang lebih 257 hari sejak Kapal Queen of the Netherlands milik PT Royal Boskalis beraktivitas di perairan Spermonde dan melakukan penambangan pasir laut, kami mencatat total kerugian 1043 Nelayan Kodingareng yang terdiri dari nelayan bagang, pancing, jaring dan panah mencapai 80,4 miliar rupiah.<\/p>\n<p>\u201cDari diskusi yang kami lakukan bersama dengan para nelayan di Pulau Kodingareng, kami mencatat bahwa selama penambangan pasir laut beroperasi di wilayah tangkap nelayan di perairan Spermonde, rata-rata kerugian nelayan pancing mencapai Rp200.000\/hari,\u00a0nelayan panah Rp350.000\/hari, nelayan jaring Rp1.400.000\/hari,\u00a0dan nelayan bagan Rp2.000.000\/hari,\u201d\u00a0jelas Amin.<\/p>\n<p>Koalisi Save Spermonde mendukung sepenuhnya perjuangan masyarakat nelayan Kodingareng yang mendesak pemerintah untuk menghentikan aktivitas penambangan pasir secara permanen di wilayah Kepulauan Spermonde.<\/p>\n<p>Pemerintah harus melindungi hak asasi masyarakat pesisir dan ekosistem laut serta melakukan penegakan hukum terhadap perusak lingkungan. Pemerintah juga harus bertanggung jawab terhadap segala kerugian sosial, lingkungan dan ekonomi yang telah dialami oleh masyarakat setempat akibat kegiatan tambang pasir laut dan reklamasi proyek Makassar New Port.\u00a0(yas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MAKASSAR, Fornews.co &#8211;\u00a0Proyek reklamasi pelabuhan Makassar New Port (MNP) dinilai telah mengganggu aktivitas nelayan Pulau Kodingareng sekaligus merusak ekosistem laut di perairan Spermonde. Sejak kapal PT Royal Boskalis yakni Queen of the Netherlands beroperasi menambang pasir di kepulauan Spermonde pada Februari-Agustus 2020, dampaknya perekonomian masyarakat nelayan Kodingareng saat ini mengalami kelumpuhan. Hasil penelusuran Koalisi Save [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":67243,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"spay_email":""},"categories":[3304],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2021\/03\/save-spermonde.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-huy","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67242"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=67242"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67242\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":67245,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/67242\/revisions\/67245"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67243"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=67242"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=67242"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=67242"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}