
{"id":79635,"date":"2022-07-20T16:15:31","date_gmt":"2022-07-20T09:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=79635"},"modified":"2022-07-20T21:16:02","modified_gmt":"2022-07-20T14:16:02","slug":"desak-w20-lindungi-hak-perempuan-adat-aktivis-perempuan-desa-toba-lawan-deforestasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/desak-w20-lindungi-hak-perempuan-adat-aktivis-perempuan-desa-toba-lawan-deforestasi\/","title":{"rendered":"Desak W20 Lindungi Hak Perempuan Adat, Aktivis Perempuan Desa Toba \u2018Lawan Deforestasi\u2019"},"content":{"rendered":"<p><strong>PARAPAT, fornews.co \u2013<\/strong> Sejumlah aktivis serta para perempuan Desa Toba membentangkan banner raksasa di Danau Toba dengan tulisan \u2018Perempuan Sumatera Utara Lawan Deforestasi\u2019.<\/p>\n<p>Banner besar yang dibentangkan aktivis dan perempuan Desa Toba itu tak lain ingin menyampaikan pesan kepada partisipan W20 Summit di Parapat, terkait pentingnya menjaga hutan dan hak-hak masyarakat adat, khususnya perempuan adat dari ancaman deforestasi dan eksploitasi lahan.<\/p>\n<p>Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia menyatakan, aksi ini bentuk penyampaian aspirasi mereka bahwa pertemuan W20 Summit yang mengedepankan isu kesetaraan dan diskriminasi gender, ekonomi inklusif, perempuan marjinal dan kesehatan, seharusnya juga berkaca pada apa yang terjadi di hutan Sumatera Utara dan sekitarnya.<\/p>\n<p>\u201cBanyak masyarakat adat, khususnya perempuan adat dan pedesaan terpaksa kehilangan ruang hidupnya akibat perampasan tanah dan hutan yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar, demi meraup keuntungan semata\u201d, kata dia.<\/p>\n<p>Sekar mengungkapkan, perempuan adat di tanah Sumatera Utara dan hampir seluruh wilayah Indonesia telah lama menjadi korban, akibat ketimpangan struktural dan pembangunan eksploitatif yang tidak memperhatikan aspek gender.<\/p>\n<p>\u201cBerbagai program pembangunan telah menimbulkan konflik sosial, serta kehancuran lingkungan hidup yang kemudian mengesampingkan dan bahkan melanggar hak-hak perempuan,\u201d ujar dia.<\/p>\n<p>Kelompok perempuan ini, sambung dia, merupakan kelompok yang paling rentan kehilangan sumber penghidupan akibat kasus penghancuran hutan dan perampasan lahan, serta seringkali juga mengalami kekerasan di wilayah-wilayah konflik agraria.<\/p>\n<p>Sementara, Rocky Pasaribu dari Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) menjelaskan, meski Presiden Jokowi telah menyerahkan 4 SK Hutan Adat di Danau Toba pada awal Februari 2022, namun belum menjawab persoalan masyarakat adat di Danau Toba.<\/p>\n<p>Rocky menilai, masih banyak konflik agraria yang belum diselesaikan dengan serius. Atas nama pembangunan perampasan tanah terus terjadi. Selain perampasan tanah adat, kerusakan hutan dan lingkungan juga tidak serius ditangani.<\/p>\n<p>\u201cPerampasan tanah yang dilakukan akibat kehadiran PT TPL merupakan pemiskinan struktural yang telah terjadi lebih dari tiga dekade, dan berkontribusi besar memperburuk kualitas hidup perempuan\u201d jelas dia.<\/p>\n<p>Rocky memaparkan, kehadiran dua perusahaan besar seperti PT Toba Pulp Lestari (TPL) dan PT Dairi Prima Mineral (DPM) telah lama merenggut hak-hak perempuan pedesaan di wilayah Toba, dan menghancurkan hutan kemenyan. Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi menyebabkan krisis iklim yang menyulitkan para petani untuk menentukan musim tanam.<\/p>\n<p>\u201cSeringkali para petani mengalami gagal panen akibat buruknya cuaca yang tidak dapat diprediksi. Pada pertengahan 2020, datang ancaman baru seiring lahirnya proyek pangan skala besar atau Food Estate,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Ricky menerangkan, proyek yang digadang-gadang sebagai program ketahanan pangan untuk menangani krisis pangan masa depan itu, nyatanya malah menghilangkan budaya, pengalaman, dan pengetahuan perempuan dalam corak pertanian lokal. Mereka harus berpatokan pada sistem pasar yang ditentukan oleh pemerintah dan korporasi besar.<\/p>\n<p>\u201cProyek ini sama dengan proyek pertanian sebelumnya, hanya akan melahirkan konflik baru, industrialisasi pangan yang mengenyampingkan masyarakat, serta monopolisasi lahan-lahan pertanian dengan skema yang tampak baik di permukaan saja,\u201d terang dia.<\/p>\n<p>Negara anggota G20 yang merupakan forum ekonomi utama dunia dimana secara kolektif mewakili dua per tiga atau sekitar 65 persen penduduk dunia, 79 persen perdagangan global, dan setidaknya 85 persen perekonomian dunia memiliki posisi strategis bagi keberlanjutan lingkungan hidup dan penanganan krisis iklim.<\/p>\n<p>Indonesia sebagai pemegang Presidency G20 harus memastikan bahwa ada kesepakatan yang lebih ambisius yang harus dicapai untuk mengedepankan model pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, dengan beralih ke energi terbarukan yang berkeadilan, dan menghentikan kebijakan ekonomi dan pembangunan yang berbasis lahan yang mendorong deforestasi, merampas hak- hak masyarakat adat dan petani, serta hanya menguntungkan segelintir elit.<\/p>\n<p>Organisasi yang terlibat dalam aksi ini yakni, KSPPM, Greenpeace, KPA, AKSI, RAN, AMAN, BAKUMSU, BITRA, PDPK, Petrasa, YAK, dan Yapidi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PARAPAT, fornews.co \u2013 Sejumlah aktivis serta para perempuan Desa Toba membentangkan banner raksasa di Danau Toba dengan tulisan \u2018Perempuan Sumatera Utara Lawan Deforestasi\u2019. Banner besar yang dibentangkan aktivis dan perempuan Desa Toba itu tak lain ingin menyampaikan pesan kepada partisipan W20 Summit di Parapat, terkait pentingnya menjaga hutan dan hak-hak masyarakat adat, khususnya perempuan adat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":79636,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[1],"tags":[23878,23876,23877,23875,22989,23874],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2022\/07\/gambar-aksi-aktivis-peremuan-Toba.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-kIr","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79635"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79635"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79635\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":79637,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79635\/revisions\/79637"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79636"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}