
{"id":81267,"date":"2023-02-21T08:27:36","date_gmt":"2023-02-21T01:27:36","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=81267"},"modified":"2023-02-21T20:09:23","modified_gmt":"2023-02-21T13:09:23","slug":"sestradi-ajaran-paku-alam-i-terhadap-perilaku-dan-perbuatan-yang-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/sestradi-ajaran-paku-alam-i-terhadap-perilaku-dan-perbuatan-yang-baik\/","title":{"rendered":"Sestradi Ajaran Paku Alam I terhadap Perilaku dan Perbuatan yang Baik"},"content":{"rendered":"<p><strong>YOGYA , fornews.co<\/strong> \u2013 <em>Sestradi<\/em> sebuah ajaran yang ditanamkan oleh Paku Alam I agar memiliki karakter, sifat mulia, dan berguna bagi orang lain, meski ada dua puluh satu perbuatan yang tidak boleh dilakukan .<\/p>\n<p>\u201c<em>Sestradi<\/em> merupakan dua puluh satu tata nilai yang harus menjadi dasar utama seseorang dalam menjalani kehidupannya,\u201d kata Profesor Dr Sutrisna Wibawa, dalam diskusi \u201c<em>Sangkan Paraning Dumad<\/em>i\u201d empat hari lalu, <em>Jum\u2019at<\/em> malam, di Kagungan Ndalem Bangsal Kepatiahan Kadipaten Pakualaman.<\/p>\n<p>Ajaran itu lebih ditanamkan kepada keluarga Kadipaten Pakualaman sebagai ajaran yang menjadi bagian dari tata nilai kehidupan.<\/p>\n<p>Namun, sambung profesor, hal itu tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang sebelum memegang kunci <em>Engeta Angga Pribadi<\/em> dan <em>Guna Titi Purun<\/em> yang menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan.<\/p>\n<p>Dalam filsafat Jawa, <em>Sestradi<\/em>, memiliki nilai-nilai dasar selain <em>ngelmu kasampurnan<\/em> dan <em>ngelmu sangkan paraning dumadi.<\/em><\/p>\n<p>Maka, jelas profesor, filsafat Jawa mengandung pengetahuan yang senantiasa merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan hidup.<\/p>\n<p>\u201cBerfilsafat dalam kebudayaan Jawa berarti <em>ngudi kasampurnan<\/em> yang menuntun manusia mencurahkan seluruh eksistensinya baik rohani maupun jasmani untuk mencapai tujuan hidup yakni kesempurnaan hidup,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dalam filosofi Jawa, <em>Sangkan Paraning Dumadi<\/em> merupakan kosmologi yang dimanifestasikan dalam tata ruang Karaton Yogyakarta yang menempatkan manusia menjadi aspek penting dalam cara hidup dan cara berfikir orang Jawa.<\/p>\n<p>Konsep kosmologi tersebut oleh Raja Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono I, diwujudkan dalam berbagai bentuk warisan budaya arsitektur, tata ruang kota, gelar, dan lanskap Kota Yogyakarta.<\/p>\n<p>Konsep kosmologi yang lebih dikenal dengan Sumbu Filosofi itu dilambangkan dalam <em>Sangkaning Dumadi<\/em> dan <em>Paraning Dumadi<\/em> yang berarti proses perjalanan atau pertumbuhan manusia<\/p>\n<p><em>Sangkaning Dumadi<\/em> secara simbolik digambarkan oleh keberadaan bangunan Panggung Krapyak, Alun-alun Kidul dan Karaton.<\/p>\n<p>Panggung Krapyak merupakan titik awal sumbu filsosofis <em>Sangkan Paraning Dumadi<\/em> yang merupakan perwujudan awal dari proses kelahiran manusia.<\/p>\n<p>Panggung Krapyak adalah lambang \u201cYoni\u201d yang merepresentasikan gender perempuan. Perjalanan hidup manusia sejak lahir dari rahim ibunya.<\/p>\n<p>Dari Panggung Krapyak hingga Plengkung Gading, di sepanjang kanan-kiri jalan ditanami dua jenis pohon: asam jawa dan tanjung.<\/p>\n<p>Maka bayi yang lahir akan menyenangkan hati, dalam Bahasa Jawa <em>nyengsemake<\/em>, yang dilambangkan dengan pohon asam jawa dan penuh sanjungan yang dilambangkan dengan pohon tanjung.<\/p>\n<p>Setelah remaja, akil baligh dan berani, si anak akan meraih masa depannya akan melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.<\/p>\n<p>Maka pohon pakel menjadi lambang bahwa si anak sudah mencapai akil baligh. Sedangkan pohon kweni sebagai lambang munculnya keberanian pada si anak setelah menginjak remaja.<\/p>\n<p>Lesatan anak panah yang lepas dari busurnya itu dilambangkan dengan dua pohon beringin yang berada di Alun-alun Kidul (Alkid) yang dikelilingi pagar berbentuk busur.<\/p>\n<p>\u201cTugu sebagai \u201cLingga\u201d, Panggung Krapyak sebagai \u201cYoni\u201d dan Karaton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya,\u201d ujar profesor.<\/p>\n<p>Kemudian <em>Paraning Dumadi<\/em>, yakni perjalanan hidup yang penuh godaan duniawi seperti pangkat, derajat, jabatan, harta dan wanita. Godaan tersebut dilambangkan dalam wujud bangunan Kepatihan dan Beringharjo.<\/p>\n<p>Perjalanan ini dimulai dari Tugu sebagai simbol Lingga atau laki-laki secara filsosofis merupakan langkah awal menuju ke alam keabadian.<\/p>\n<p>Secara simbolik Tugu memberikan kesadaran kepada manusia agar bersatu dalam kebersamaan menuju Sang Khaliq yang dalam Bahasa Jawa disebut <em>Manunggaling Kawula Kalawan Gusti<\/em>.<\/p>\n<p>\u201c<em>Sangkan Paraning Dumadi<\/em> merupakan inti dari filosofi Jawa,\u201c terang profesor.<\/p>\n<p>Ajaran <em>Sangkan Paraning Dumadi<\/em> itu dapat dilihat dalam Serat Centhini ketika Syeich Amangraga memberikan nasihat tentang asal-usul manusia di dunia.<\/p>\n<p>Maka dalam <em>Sestradi<\/em>, lanjut profesor, Paku Alam I lebih menekankan tentang wujud perilaku kehidupan yang baik atau kasempurnan, dan ini menjadi inti dalam filsafat Jawa.<\/p>\n<p>\u201cKalau hidupnya sempurna, maka, \u201c<em>paran<\/em>\u201d ke mana akan menuju itu akan mengikuti karena di dalam kesempurnaan hidup itu diajarkan perilaku-perilaku yang baik dan mengindari perilaku yang tidak baik,\u201d pungkasnya. (<strong>adam<\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYA , fornews.co \u2013 Sestradi sebuah ajaran yang ditanamkan oleh Paku Alam I agar memiliki karakter, sifat mulia, dan berguna bagi orang lain, meski ada dua puluh satu perbuatan yang tidak boleh dilakukan . \u201cSestradi merupakan dua puluh satu tata nilai yang harus menjadi dasar utama seseorang dalam menjalani kehidupannya,\u201d kata Profesor Dr Sutrisna Wibawa, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":81268,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/02\/Diskusi-Sangkan-Paraning-Dumadi-3.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-l8L","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81267"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=81267"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81267\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":81274,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/81267\/revisions\/81274"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81268"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=81267"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=81267"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=81267"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}