
{"id":82387,"date":"2023-06-03T23:40:36","date_gmt":"2023-06-03T16:40:36","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=82387"},"modified":"2023-06-03T23:42:43","modified_gmt":"2023-06-03T16:42:43","slug":"pakualaman-akulturasi-budaya-surakarta-dan-yogyakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/pakualaman-akulturasi-budaya-surakarta-dan-yogyakarta\/","title":{"rendered":"Pakualaman Akulturasi Budaya Surakarta dan Yogyakarta"},"content":{"rendered":"<p><strong>YOGYA, fornews.co<\/strong> \u2013 Di masa Paku Alam VII bertahta Kadipaten Pura Pakualaman mengalami pergeseran budaya Surakarta dan Yogyakarta setelah mempersunting putri Paku Buwana X.<\/p>\n<p>Pergeseran itu sempat memunculkan anggapan Pakualaman adalah wakil dari Kerajaan Surakarta yang berbeda dengan Karaton Yogyakarta Hadiningrat.<\/p>\n<p>\u201cPadahal Pakualaman awalnya justru bercorak Yogyakarta karena Paku Alam I merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwana I,\u201d terang Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Projokusumo.<\/p>\n<p>Hal tersebut diungkapkan KRMT Projokusumo dalam diskusi bertajuk <em>\u201cMemayu Hayuning Bawana: Penanaman Nilai-nilai Keistimewaan pada Generasi Muda\u201d<\/em> di Pakualaman pada 2 Juni 2023.<\/p>\n<figure id=\"attachment_82388\" aria-describedby=\"caption-attachment-82388\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-82388\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-2.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"707\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-2.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-2-300x212.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-2-768x543.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-2-120x86.jpg 120w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-2-750x530.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-82388\" class=\"wp-caption-text\">GAMELAN dimainkan pada saat pelantikan putra mendiang Paku Alam VII di Kadipaten Pura Pakualaman sebelum tahun 1949. (foto fornews.co\/ KITLV)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Munculnya identitas baru di masa Paku Alam VII memengaruhi gaya busana, tari dan gending di Kadipaten Pura Pakualaman yang semula identik budaya Yogyakarta.<\/p>\n<p>Namun, identitas baru itu lebih dominan dengan budaya Surakarta sejak GBRA Retnopuwoso menjadi permaisuri Paku Alam VII.<\/p>\n<p>Hal itu justru berdampak positif karena menghilangkan fanatisme kedaerahan sehingga Pakualaman memiliki dua budaya yang berdampingan sangat harmonis.<\/p>\n<p>Kekayaan budaya yang dimiliki Pakualaman tersebut tidak lepas dari peristiwa bersejarah karena setiap Praja Kejawen memiliki ciri tersendiri.<\/p>\n<p>Ada 4 praja kejawen yaitu Karaton Surakarta, Karaton Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman.<\/p>\n<p>Masing-masing praja memiliki kekhasannya. Karaton Surakarta terkenal dengan kesenian, Karaton Yogyakarta dengan heroik kepahlawanan, Kadipaten Mangkunegaran dengan kesusastraan dan Kadipaten Pakualaman terkenal dengan pendidikannya.<\/p>\n<p>Masuknya budaya bercorak Surakarta itu berlangsung hingga Paku Alam VIII bertahta di Kadipaten Pura Pakualaman.<\/p>\n<figure id=\"attachment_82390\" aria-describedby=\"caption-attachment-82390\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-82390\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/Pakualaman-Akulturasi-Budaya-Dua-Kerajaan-Mataram3.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"707\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/Pakualaman-Akulturasi-Budaya-Dua-Kerajaan-Mataram3.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/Pakualaman-Akulturasi-Budaya-Dua-Kerajaan-Mataram3-300x212.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/Pakualaman-Akulturasi-Budaya-Dua-Kerajaan-Mataram3-768x543.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/Pakualaman-Akulturasi-Budaya-Dua-Kerajaan-Mataram3-120x86.jpg 120w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/Pakualaman-Akulturasi-Budaya-Dua-Kerajaan-Mataram3-750x530.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-82390\" class=\"wp-caption-text\">DISKUSI bertajuk \u201cMemayu Hayuning Bawana: Penanaman Nilai-nilai Keistimewaan pada Generasi Muda\u201d di Pakualaman pada 2 Juni 2023. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Setelah tahta berganti kepada Sri Paduka KGPAA Paku Alam IX budaya Pakualaman dikembalikan ke masa awal\u2014sebelum Paku Alam V bertahta.<\/p>\n<p>Perubahan itu karena sebagian wilayah Yogyakarta juga merupakan milik Kadipaten Pakualaman sementara Pakualaman sendiri berada di wilayah Yogyakarta.<\/p>\n<p>Selain itu, sambung KMRT, rakyat Kadipaten Pakualaman juga merupakan masyarakat Yogyakarta yang sebagian di antaranya berada di Adikarta.<\/p>\n<p>Di masa Adipati BPH Suryodilogo yang kemudian bergelar KGPAA Paku Alam V inilah Pakualaman mulai terkenal dengan gerakan pendidikan hingga melahirkan tokoh seperti Ki Hajar Dewantara.<\/p>\n<p>Hingga munculnya Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara cucu dari Sri Paduka KGPAA Paku Alam III Kadipaten mengalami perubahan dalam hal pendidikan.<\/p>\n<p>Sejak saat itulah Kadipaten Pura Pakualaman semakin terkenal dengan pendidikannya yang melahirkan tokoh-tokoh besar di Indonesia hingga ke mancanegara.<\/p>\n<figure id=\"attachment_82391\" aria-describedby=\"caption-attachment-82391\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-82391\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/tari-PA.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"707\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/tari-PA.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/tari-PA-300x212.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/tari-PA-768x543.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/tari-PA-120x86.jpg 120w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/tari-PA-750x530.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-82391\" class=\"wp-caption-text\">BEDHAYA Wasita Ngrangsemu. (foto fornews.co\/pakualaman)<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Pengaruh Tari Gaya Surakarta<\/strong><\/p>\n<p>Seni dan budaya Pakualaman memiliki kekhasan tersendiri meski melekat gaya Surakarta dimulai Paku Alam VI bertahta.<\/p>\n<p>Budaya Surakarta itu sekaligus memengaruhi seni tari dan gending di Pakualaman.<\/p>\n<p>Bendara Raden Ayu Indrokusumo tidak memungkiri adanya budaya Surakarta di Pakualaman sehingga terjadi pergeseran gaya tari dan gamelan.<\/p>\n<p>\u201cSudah diketahui bahwa putri Paku Buwana X adalah permaisuri Paku Alam VII tentu saja budaya Solo dibawa ke Pakualaman,\u201d ujarnya, Sabtu, 3 Juni 2023.<\/p>\n<p>Paku Buwono X yang sering mengunjungi putrinya juga kerap mengajarkan seni tari di Pakualaman.<\/p>\n<figure id=\"attachment_82392\" aria-describedby=\"caption-attachment-82392\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-82392\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/BRAy-Indrokusumo.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"707\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/BRAy-Indrokusumo.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/BRAy-Indrokusumo-300x212.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/BRAy-Indrokusumo-768x543.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/BRAy-Indrokusumo-120x86.jpg 120w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/BRAy-Indrokusumo-750x530.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-82392\" class=\"wp-caption-text\">BRAY Indrokusumo duduk mengenakan jilbab hijau bersebelahan dengan Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Paku Alam X atau lebih dikenal dengan Gusti Putri di Pakualaman. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Keterangan BRAy Indrokusumo kepada <strong>fornews.co<\/strong>, saat Paku Buwono X mengunjungi putrinya tidak hanya sehari atau dua hari bahkan bisa selama 6 bulan tinggal di Pakualaman.<\/p>\n<p>Menurut cerita yang berkembang, kata BRAy Indrokusumo, konon kabarnya GBRA Retnopuwoso merupakan putri kesayangan Paku Buwono X.<\/p>\n<p>Hal tersebut tidak hanya memengaruhi gaya tari Pakualaman, namun, juga termasuk busana dan gamelan.<\/p>\n<p>\u201cPerlu diketahui masa Paku Alam VII hingga VIII lebih lama bertahta dibanding Paku Alam I hingga VI ,\u201d paparnya.<\/p>\n<p>Artinya, sambungnya, Kadipaten Pura Pakualaman di masa bertahtanya Paku Alam I hingga Paku Alam VI masih lekat dengan budaya Yogyakarta.<\/p>\n<p>BRAy Indrokusumo kembali menjelaskan meski setelah masa Paku Alam VIII budaya Yogyakarta lebih dominan bukan berarti Pakualaman meninggalkan gaya Surakarta.<\/p>\n<p>Pakualaman justru lebih mendalam melakukan pengkajian dan penelitian terhadap budaya Surakarta dan Yogyakarta sehingga dua budaya kerajaan dapat terus lestari.<\/p>\n<figure id=\"attachment_82393\" aria-describedby=\"caption-attachment-82393\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"wp-image-82393 size-full\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"707\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-300x212.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-768x543.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-120x86.jpg 120w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII-2-750x530.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-82393\" class=\"wp-caption-text\">SAMPEYAN Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VII dan permaisuri GKBRAy Retna Puwasa putri Paku Buwana X. foto fornews.co\/ KITLV)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Menariknya para pengerawit dari Kadipaten Pura Pakualaman justru terkenal memainkan gending Surakarta dan Yogyakarta.<\/p>\n<p>\u201cJadi kedua-duanya bisa dan tidak dimiliki oleh Karaton Surakarta maupun Yogyakarta,\u201d selorohnya.<\/p>\n<p>Satu lagi, bahkan ada dua gending dari Surakarta dan Yogyakarta yang dijadikan satu untuk sebuah tarian gaya Pakualaman.<\/p>\n<p>Sebagai pengasuh tari di Pakualaman, BRAy Indrokusumo mengaku masih melakukan penelusuran sejarah tari yang pernah ada di Pakualaman.<\/p>\n<p>Ia membuat katalog dan catatan-catatan tentang tari yang nantinya akan dibuat dokumentasi dalam bentuk visual.<\/p>\n<p>Katalog dan catatan tari itu meliputi gerakan, kostum, gending, syair dan pola lantai yang digunakan untuk pertunjukan tari.<\/p>\n<p>Demikian BRAy Indrokusumo, pihaknya terus melakukan pelestarian seni dan budaya Pakualaman di antaranya seni tari dengan berbagai penelitian jejak sejarah tari di Pakualaman.<\/p>\n<p>\u201cLebih dari 75 persen sudah terdeteksi,\u201d pungkasnya. (<strong>adam<\/strong>)<\/p>\n<p>Copyright \u00a9 2023 <strong>fornews.co<\/strong>. All rights reserved.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYA, fornews.co \u2013 Di masa Paku Alam VII bertahta Kadipaten Pura Pakualaman mengalami pergeseran budaya Surakarta dan Yogyakarta setelah mempersunting putri Paku Buwana X. Pergeseran itu sempat memunculkan anggapan Pakualaman adalah wakil dari Kerajaan Surakarta yang berbeda dengan Karaton Yogyakarta Hadiningrat. \u201cPadahal Pakualaman awalnya justru bercorak Yogyakarta karena Paku Alam I merupakan putra dari Sri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":82389,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/06\/PA-VII.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-lqP","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82387"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=82387"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82387\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82394,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/82387\/revisions\/82394"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/82389"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=82387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=82387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=82387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}