
{"id":83184,"date":"2023-09-19T14:00:52","date_gmt":"2023-09-19T07:00:52","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=83184"},"modified":"2023-09-19T15:12:41","modified_gmt":"2023-09-19T08:12:41","slug":"musikalisasi-puisi-kolaborasi-kiai-kanjeng-dan-lkms-memukau-masyarakat-di-yogya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/musikalisasi-puisi-kolaborasi-kiai-kanjeng-dan-lkms-memukau-masyarakat-di-yogya\/","title":{"rendered":"Musikalisasi Puisi, Kolaborasi Kiai Kanjeng dan LKMS Memukau Masyarakat di Yogya"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>YOGYA, fornews.co<\/strong> &#8212; Mocopat Syafaat pada 17 September lalu tampak berbeda dari sebelumnya. Kolaborasi Kiai Kanjeng dan LKMS memukau jamaah maiyah yang hadir di TKIT Alhamdulillah Tamantirto, Kasihan, Yogyakarta.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Mocopat Syafaaf kali ini menjadi paling ditunggu oleh jamaah maiyah di Yogyakarta yang menggandrungi sastra. Pasalnya, salah satu budayawan sekaligus tokoh sastra di Yogya tampil membacakan karya sajaknya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tokoh sastra, Mustofa W Hasyim, tidak saja menghibur jamaah maiyah pada Mocopat Syafaat dengan kekhasan jenakanya, namun, juga mengkritik pemimpin yang lupa diri.<\/p>\n<figure id=\"attachment_83186\" aria-describedby=\"caption-attachment-83186\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-83186\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134156.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"700\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134156.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134156-300x210.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134156-768x538.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134156-750x525.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-83186\" class=\"wp-caption-text\">MUSTOFA W HASYIM (foto fornees.co\/caknun.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p dir=\"ltr\">Diiringi Kiai Kanjeng, Mustofa, membacakan dua sajak berjudul &#8220;Cu Lucu, Lucu Cu&#8221; dan &#8220;Jenang Jagung, Jagung Jenang&#8221;.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kedua sajak itu menyindir pemimpin yang lupa diri dan dzalim kepada rakyat dengan kata-kata satire.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Agar kita tidak bingung menyikapi keadaan yang berkembang di sekitar kita. Bagi banyak yang lucu,&#8221; terang Mustofa W Hasyim kepada fornews.co, Selasa (19\/9\/2023).<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kiai Kanjeng yang memainkan &#8220;Gundul-gundul Pacul&#8221; dengan warna jazz yang rancak menjadi pengantar edisi musikalisasi puisi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Salah satu personil Kiai Kanjeng sekaligus mantan personil Esnanas dan Seventeen, Doni, sebagai moderator pada sesi kedua menanyakan makna &#8220;Gundul-gundul Pacul&#8221; kepada Mustofa salah seorang sesepuh Maiyah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Gundul-gundul Pacul&#8221; dimaknai seorang pemimpin harus menjaga amanat rakyat untuk kesejahteraan rakyat dan tidak serampangan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Maka, dia harus berhati-hati memimpin tidak boleh cengengesan (tidak serius),&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Mustofa menyebut, seorang pemimpin tidak boleh merasa paling kuat seperti dalam peribahasa Jawa &#8220;<em>Asu gedhe menang kerahe&#8221;<\/em>.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;<em>Asu gedhe menang kerahe<\/em>&#8221; Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah orang yang merasa besar dan kuat, merasa menang dan suaranya harus didengarkan oleh yang lemah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menurut Mustofa, jika demikian sangatlah berbahaya pemimpin yang dzalim kepada rakyat karena menyalahgunakan kekuasaan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_83187\" aria-describedby=\"caption-attachment-83187\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-83187\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134325.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"700\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134325.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134325-300x210.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134325-768x538.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134325-750x525.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-83187\" class=\"wp-caption-text\">KELIMA perempuan LKMS itu yakni Arsi dari Mercu Buana asal Kendari, Hajar dari Amikom asa kendari, Rani dari UIN asal Samarinda, Anka asal Yogyakarta dan Gielsa dari Unper asal Tasikmalaya. Mereka juga mengcover karya Letto dalam puisi. (foto fornews.co\/caknun.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p dir=\"ltr\">Kolaborasi musikalisasi puisi pada Mocopat Syafaat itu menjadi sajian menarik karena menghadirkan Lingkar Keluarga Mocopat Syafaat (LKMS).<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kolaborasi Kiai Kanjeng dan LKMS menjadi warna baru Mocopat Syafaat. Penampilan lima perempuan maiyah yang bertemu di Yogya itu menjadi kekhasan sastra tersendiri.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kelima perempuan LKMS itu yakni Arsi dari Mercu Buana asal Kendari, Hajar dari Amikom asa kendari, Rani dari UIN asal Samarinda, Anka asal Yogyakarta dan Gielsa dari Unper asal Tasikmalaya. Mereka juga meng<em>cover<\/em> karya Letto dalam puisi. (<strong>adam<\/strong>)<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Berikut karya Mustofa W Hasyim yang dibacakan pada edisi musikalisasi puisi di Mocopat Syafaat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>CU LUCU LUCU CU<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Cu lucu, lucu cu<br \/>\nCu lucu, lucu cu<br \/>\nCe lece, lece ce<br \/>\nCa laca, laca ca<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Cu lucu, lucu cu<br \/>\nCu lucu, lucu cu<br \/>\nCi lici, lici ci<br \/>\nCo loco, loco co<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Apanya yang lucu?<br \/>\nYang lucu, ya yang lucu<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Apa yang lucu lucu?<br \/>\nYang lucu lucu, ya yang jelas lucu lucu<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Benar kan?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Memang,<br \/>\nYang lucu itu, kadang ada di dalam laci<br \/>\nTapi boleh juga, yang lucu muncul di luar laci<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Nggak apa-apa kan?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lucu &#8216;kan hukumnya mubah<br \/>\nBoleh sembunyi di dalam laci<br \/>\nBoleh pamer lucu, di luar laci<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tidak ada satu undang-undang, atau peraturan daerah yang melarangnya<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sebab,<br \/>\nKalau melarang lucu sembunyi di dalam laci<br \/>\nAtau, melarang lucu pamer di luar laci<br \/>\nItu kurang gawean namanya<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Padahal,<br \/>\nYang namanya gawean sekarang banyak sekali<br \/>\nMisalnya, meluruskan yang bengkok<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Bagi orang iseng,<br \/>\nMembengkokkan yang lurus juga merupakan pekerjaan yang menghasilkan keringat dan kritikan<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Cu lucu, lucu cu<br \/>\nCu lucu, lucu cu<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ce lece, lece ce<br \/>\nCa laca, laca ca<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ci lici, lici ci<br \/>\nCo loco, loco co<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Aku bilang, &#8220;cu&#8221;<br \/>\nKau bilang, &#8220;ca&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Aku bilang, &#8220;cu&#8221;<br \/>\nKau malah bilang, &#8220;ci&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Caci dan cuci, apa bedanya?<br \/>\nBedanya, caci bukan cuci<br \/>\nDan cuci bukan caci<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kalau cucu dan mecucu, apa bedanya?<br \/>\nCucu itu biasa<br \/>\nTapi mecucu itu lucu<br \/>\nApalagi dicampur mrengut<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Syahdan,<br \/>\nKini sampailah di sebuah negeri menderita badai dan gempa kelucuan yang sangat dahsyat<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Saking dahsyatnya,<br \/>\nOrang-orang tidak sempat tertawa<br \/>\nMalah beradu marah<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lha piye iki jal?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Piye piye piye<br \/>\nMbuh, ra weruh<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Piye piye piye<br \/>\nPura-pura ora weruh<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sesungguhnya,<br \/>\nKelucuan negeri ini perlu diselesaikan<br \/>\nDengan cara lucu, atau<br \/>\nDengan cara tidak lucu?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Saya tidak tahu<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Cu lucu, lucu cu<br \/>\nCu lucu, lucu cu<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><em>Mustofa W Hasyim, 2023<\/em><\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>JENANG JAGUNG<\/strong><br \/>\n<strong>JAGUNG JENANG<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jenang jagung<br \/>\nJagung jenang<br \/>\nJenang jagung<br \/>\nJagung jenang<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jenang jagung<br \/>\nJagung jenang<br \/>\nJangan bingung<br \/>\nApike tenang<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jenang jagung<br \/>\nJenang gempol<br \/>\nJangan bingung<br \/>\nApalagi mendongkol<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jenang jagung<br \/>\nJenang tela<br \/>\nJangan bingung<br \/>\nApike isa rumangsa<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jenang jagung<br \/>\nJenang gandum<br \/>\nJangan bingung<br \/>\nApike diokehi senyum<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jenang jagung<br \/>\nJenang monte<br \/>\nJangan bingung<br \/>\nApalagi leda lede<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jenang jagung<br \/>\nJenang dodol<br \/>\nJangan bingung<br \/>\nApike mrojol<br \/>\n(Selane garu)<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jenang jagung<br \/>\nJagung jenang<br \/>\nJangan bingung<br \/>\nApike tenang<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><em>Mustofa W Hasyim, 2023<\/em><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Copyright \u00a9 2023\u00a0fornews.co. All rights reserved.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YOGYA, fornews.co &#8212; Mocopat Syafaat pada 17 September lalu tampak berbeda dari sebelumnya. Kolaborasi Kiai Kanjeng dan LKMS memukau jamaah maiyah yang hadir di TKIT Alhamdulillah Tamantirto, Kasihan, Yogyakarta. Mocopat Syafaaf kali ini menjadi paling ditunggu oleh jamaah maiyah di Yogyakarta yang menggandrungi sastra. Pasalnya, salah satu budayawan sekaligus tokoh sastra di Yogya tampil membacakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":83185,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2023\/09\/IMG_20230919_134431.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-lDG","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83184"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=83184"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83184\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":83192,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/83184\/revisions\/83192"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83185"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=83184"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=83184"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=83184"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}