
{"id":84709,"date":"2024-02-17T19:17:06","date_gmt":"2024-02-17T12:17:06","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=84709"},"modified":"2024-02-17T19:46:57","modified_gmt":"2024-02-17T12:46:57","slug":"ganjis-pelukis-wajah-malioboro-yang-bertahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/ganjis-pelukis-wajah-malioboro-yang-bertahan\/","title":{"rendered":"Ganjis Pelukis Wajah Malioboro yang Bertahan"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>fornews.co<\/strong>&#8211;Ganjis, pelukis wajah Malioboro yang bertahan meski seni rupa di Indonesia pernah ambruk dihantam pandemi mewabah di dunia.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pandemi menghancurkan perekonomian dan tatanan hidup manusia&#8211;tak terkecuali&#8211;pelukis wajah Malioboro yang tersekap kemiskinan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jum&#8217;at malam, 16 Februari 2024, Ganjis masih kerja lembur merampungkan lukisan wajah dari wisatawan yang berkunjung di Malioboro. Tangannya luwes memainkan kuas dan pensil konte.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dengan hati-hati dan teliti, Ganjis, menggoreskan dan menyapu alat lukisnya di wajah yang mulai terlihat sempurna.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Wisatawan Malioboro mengaku takpuas pulang tanpa lukisan wajah. Membawa oleh-oleh panganan atau pakaian sudah biasa. Tapi, bisa membawa lukisan wajah dari Kota Seni adalah kebanggaan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Berapa harga lukisan wajah?&#8221; tanya wisatawan di Malioboro.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ajuan pertanyaan itu hampir setiap jam mampir dari wisatawan yang menikmati malam di Malioboro.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Malioboro identik dengan lukisan wajah. Selain kebanggaan, bisa membawa pulang lukisan wajah dari Malioboro menjadi prestis. Atau, bukti diri pernah ke Jogja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Seantero dunia mengakui Malioboro i<em>s awesome<\/em> terlebih di waktu malam. Suasana begitu beda dan menggoda. Siapa tak tertarik datang ke Jogja? Wisatawan mancanegara pun terkesima.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Belakangan, setelah Malioboro bersolek yang memaksa Unesco jatuh cinta, pelukis wajah di Malioboro ikut terseret-seret ke pinggiran seperti nasib ratusan PKL menunggu disingkirkan pelan-pelan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Saya pernah didatangi Sat Pol PP. Diusir. Katanya seperti PKL. Saya tetap bertahan karena ini menjadi bagian Malioboro. Menjadi identitas Malioboro,&#8221; ujar Ganjis.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Harus diakui, seniman di Jogja banyak berjasa terhadap Malioboro yang mendunia melalui karya-karyanya. Bahkan oleh budayawan, sastrawan, musisi, penulis dan wartawan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ada banyak yang terlibat di Malioboro. Sebut saja WS Rendra, Adjib Hamzah, Montinggo Busje, Kirjomulyo, Umbu Landu, Untung Basuki, Iwan Fals, Setiawan Jodi, Sawung Jabo, Cak Nun, Mustofa W Hasyim, hingga catatan-catatan kaki para penyair.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ada pula berbagai kelompok, komunitas dan civitas akademika yang menjadikan Malioboro sebagai ibu kandung renda-renda kesenian seperti PSK, Sanggarbambu, KPJM, Sanggarsuwung termasuk mahasiswa seni rupa, teater serta mahasiswa pertunjukan, hingga komunitas Malioboro berisi pelaku seni, budaya dan pariwisata dengan berbagai latar belakang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Keterlibatan mereka terhadap Malioboro tidak bisa dinisbikan atau dilupakan begitu saja. Disadari atau tidak, Jogja telah menyatakan diri sebagai kota seni, budaya dan pendidikan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Masyarakat menilai pernyataan tersebut telah menguntungkan sektor pariwisata di Jogjakarta.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Dulu, kesenian di Malioboro setiap malam hidup. Wisatawan merasa nyaman dan terhibur. Suasana Jogja begitu kental,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sambil menyelesaikan pekerjaannya, Ganjis berpendapat tentang Malioboro yang telah banyak berubah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kepada reporter <em><strong>fornews.co<\/strong><\/em>, beberapa wisatawan mengungkapkan Jogjakarta memang Kota Seniman setelah menemui sejumlah pelukis wajah di Malioboro.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Layaknya menikmati lukisan di ruang pameran karya-karya Ganjis ditawar tinggi meski dirinya menolak dibeli karena setiap lukisan wajah sudah ada pemiliknya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Setiap satu wajah dibandrol Rp 150 ribu untuk bahan kertas dan Rp 750 ribu untuk lukis wajah kanvas.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tapi, tidak semua lukisan wajah diselesaikan di tempat. Sebagian yang belum rampung diselesaikan di rumah. Tergantung kondisi staminanya. Jika kondisi menurun atau sedang tidak enak badan pekerjaan dibawa pulang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Biasanya, kata Ganjis, jika tidak selesai dalam hitungan jam pesanan lukis wajah akan dikirimkan melalui jasa pengiriman seperti Indah Cargo atau JNE.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Tapi, mereka lebih puas jika bisa membawa lukisan wajah dari Jogja,&#8221; ucapnya. &#8220;Pernah ada menangis terharu.&#8221;<\/p>\n<h3><strong>Didatangi Orang Kaya Asal Belanda<\/strong><\/h3>\n<p dir=\"ltr\">TAHUN 1997, sekira 27 tahun lalu, Ganjis mulai melukis wajah di kawasan Taman Pintar (eks. Pasar Shoping) di Jalan Senopati.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Keputusan itu diambil untuk menghidupi keluarganya meski sempat kikuk melukis wajah di ruang terbuka yang menjadi pemandangan tidak biasa bagi kebanyakan wisatawan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Waktu itu di Jalan Senopati masih banyak lapak-lapak gerobak penyedia pigura. Sederetan dengan lapak batu akik,&#8221; kenangnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Di kawasan Jalan Senopati itu, kali pertama Ganjis melukis wajah di ruang terbuka, sempat didatangi bule asal Belanda ditawari kemewahan hidup asalkan bersedia pindah ke negeri kincir angin.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Di usia 25 tahun Ganjis masih banyak pertimbangan memikirkan istri dan anaknya. Ia merasa belum mampu mengambil keputusan dalam waktu singkat. Tawaran yang hanya datang sekali itu ditolak halus.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Padahal, kata Ganjis, ia dijanjikan mobil mahal, rumah mewah, galeri pribadi, dan dikabulkan semua kebutuhannya asal tinggal dan menetap di Belanda.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Namun, tetap tinggal di Jogja sempat membuatnya sukses. Ganjis sempat menikmati hasil dari kerja kerasnya membuka lukisan wajah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Waktu itu sebelum covid bisa terjual 5-7 lukisan dengan harga 3.5 juta hingga 20-an juta rupiah,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lahir dari pasangan Herdono dan Sarjiyem, keluarganya yang hampir semuanya pelaku seni menitis dari ayahnya seorang dalang asal Gunung Kidul yang turut melestarikan kesenian tradisional.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ganjis tidak hanya ahli sebagai pelukis wajah, melainkan seorang seniman yang karya-karyanya dipajang dan dikoleksi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_84714\" aria-describedby=\"caption-attachment-84714\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-84714\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/02\/IMG_20240217_194214.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"700\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/02\/IMG_20240217_194214.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/02\/IMG_20240217_194214-300x210.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/02\/IMG_20240217_194214-768x538.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/02\/IMG_20240217_194214-750x525.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-84714\" class=\"wp-caption-text\">SEJUMLAH karya Ganjis yang dipakai untuk swafoto oleh wisatawan yang berkunjung di Batu Raden dengan membayar Rp 20.000. (foto fornews.co\/dokumen pribadi ganjis)<\/figcaption><\/figure>\n<p dir=\"ltr\">Di Batu Raden, misalnya. Sejumlah karya patung tokoh wayang menjadi tempat berswafoto bagi pengunjung tempat wisata.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Patung tanpa kepala di tempat wisata itu berbahan fiber dan resin. Orang tidak perlu berganti busana cukup memasang diri di belakang patung berpakaian tradisional.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Patung tanpa kepala tokoh dalam pewayangan itu adalah kepeduliannya terhadap kesenian dan budaya tradisional.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Setiap pengunjung di tempat wisata itu dapat berswafoto dengan membayar Rp 20.000 per orang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Atau, patung ikan gurami yang dipasang di salah satu restoran ternama di Jogja. Patung ikan gurami itu terlihat lebih hidup saat malam hari dengan penataan cahaya yang menarik.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Beberapa tahun lalu karya-karya lukisan Ganjis juga pernah dipamerkan bersama perupa Jogja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Saat ini ia sedang mempersiapkan model patung untuk tempat wisata Watu Amben, Pathuk, Gunung Kidul.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sebagai pelukis wajah, Ganjis berharap Malioboro yang lekat dengan pelukis wajah tidak hilang begitu saja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Harapan itu menjadi sinyal bagi pemerintah setempat bahwa pelukis wajah di Malioboro telah menjadi bagian dari pariwisata. Seniman dan pekerja seni adalah penyokong kemajuan pariwisata di Jogja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Perlu diketahui, dari pantauan reporter <em><strong>fornews.co,<\/strong> <\/em>ada banyak pengunjung Malioboro yang rela berlama-lama di Jogja (long stay) agar bisa membawa pulang lukisan wajah sebagai oleh-oleh dari Jogja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Bagi mereka, membawa oleh-oleh lukisan wajah terasa sangat berbeda dengan panganan, pakaian atau souvenir lainnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Ada perasaan senang dan bangga bisa membawa pulang lukisan wajah setelah menunggu tiga hari di Jogja. Padahal, sebelumnya sudah empat hari di Jogja,&#8221; jawab wisatawan asal Jakarta sembari tersenyum lebar. (<strong>adam<\/strong>)<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Copyright \u00a9 Fornews.co 2023. All rights reserved.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>fornews.co&#8211;Ganjis, pelukis wajah Malioboro yang bertahan meski seni rupa di Indonesia pernah ambruk dihantam pandemi mewabah di dunia. Pandemi menghancurkan perekonomian dan tatanan hidup manusia&#8211;tak terkecuali&#8211;pelukis wajah Malioboro yang tersekap kemiskinan. Jum&#8217;at malam, 16 Februari 2024, Ganjis masih kerja lembur merampungkan lukisan wajah dari wisatawan yang berkunjung di Malioboro. Tangannya luwes memainkan kuas dan pensil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":84710,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[10913],"tags":[26360,26361],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/02\/IMG_20240217_131243.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-m2h","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84709"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84709"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84709\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84715,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84709\/revisions\/84715"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84710"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84709"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84709"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84709"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}