
{"id":84825,"date":"2024-03-02T12:35:36","date_gmt":"2024-03-02T05:35:36","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=84825"},"modified":"2024-03-02T18:36:01","modified_gmt":"2024-03-02T11:36:01","slug":"lsi-denny-ja-ungkap-analisa-soal-mengapa-anies-baswedan-kalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/lsi-denny-ja-ungkap-analisa-soal-mengapa-anies-baswedan-kalah\/","title":{"rendered":"LSI Denny JA Ungkap Analisa Soal Mengapa Anies Baswedan Kalah?"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA, fornews.co &#8211;<\/strong> Kesalahan fatal dari tim calon presiden (capres) nomor urut 01, Anies Baswedan, pada Pilpres 2024 ini dinilai karena mereka merancang strategi politik yang mustahil untuk menang.<\/p>\n<p>Menurut pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, bahwa tim dari capres 01 tersebut sudah salah sejak langkah pertama. Namun, tentu saja ini tidak dilakukan secara sadar.<\/p>\n<p>\u201cSemua yang terlibat dalam pilpres pasti ingin menang. Tapi mereka kurang memberi perhatian yang sungguh &#8211; sungguh soal apa yang bisa membuat menang dan kalah,\u201d ujar dia.<\/p>\n<p>Denny mengatakan, dari sudut pandang politik elektoral, keseluruhan kampanye Anies memang mampu memberikan pendidikan politik bagi warga negara (civic education). Memang strategi tersebut bisa meramaikan percakapan publik.<\/p>\n<p>Tapi pasti pula, sambung dia, strategi yang dipilih Tim Anies Baswedan hanya akan membawa kekalahan dalam pilpres 2024. Denny memulai dengan Bobby Fisher, ahli catur Grand Master yang dianggap salah satu dari pemain catur terbesar sepanjang masa. Fisher sangat ahli dalam merancang strategi. Ini kutipan dari Bobby Fisher:<\/p>\n<p>\u201cJangan melangkah sebelum yakin, itulah langkah terbaik. Jika salah langkah, itu akan membawamu pada kekalahan,\u201d kata dia meniru kutipan Bobby Fisher tersebut.<\/p>\n<p>Denny mengungkapkan, kutipan tersebut tidak hanya berlaku dalam permainan catur. Tetapi, kutipan itu juga sangat relevan untuk pertarungan politik praktis.<\/p>\n<p>\u201cDalam catur ataupun politik praktis, memang ada banyak langkah di sana. Mulai dari langkah pertama, langkah kedua, hingga langkah ketiga. Tapi sebenarnya, semua langkah ini ada dalam sebuah kerangka strategi makro. Itu yang paling penting. Sebelum bertarung, kita harus merumuskan strategi makro yang akan menjadi landasan dalam memenangkan hati dan pikiran rakyat,\u201d ungkap dia.<\/p>\n<p>Denny menjelaskan, bahwa langkah demi langkah, isu, dan program itu hanyalah konsekuensi dari kerangka besar strategi yang harus dirumuskan dengan benar. Strategi makro ini sangat menentukan apakah kita akan menang atau kalah dalam pemilihan presiden.<\/p>\n<p>\u201cMaka, sila pertama yang harus kita baca adalah opini publik terhadap presiden yang sedang memerintah. Apakah sang presiden (dalam konteks pilpres 2024 adalah Jokowi) masih populer atau tidak?\u201d jelas dia.<\/p>\n<p>Mengapa kondisi opini publik terhadap presiden penting? Karena, terang Denny, inilah cara yang paling sederhana, cara yang paling mudah, untuk mengetahui suasana hati publik saat pilpres. Perlu indikator terukur untuk membaca sentimen menyeluruh publik luas yang akan menjadi hakim tertinggi.<\/p>\n<p>\u201cIni datanya. Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Jokowi, <em>approval rating<\/em> Jokowi, yang dinilai dari berbagai lembaga survei (Maret-November 2023), sangat tinggi. Mengesankan tingginya nilai Jokowi, berada di angka 75 persen sampai 82 persen. Sebagai perbandingan, <em>approval rating<\/em> untuk Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Januari 2024, hanya 40 persen,\u201d Terang dia.<\/p>\n<p>Fakta ini, urai Denny, harus menjadi dasar pertama untuk menyusun strategi makro. Bila presiden yang sedang berkuasa sangat populer, maka strategi makro yang harus disusun agar calon presiden kita terasosiasi sangat kuat dengan Presiden tersebut.<\/p>\n<p>Sebaliknya, jika presiden Jokowi tidak populer, terpuruk, atau tidak disukai oleh publik luas, strategi makro calon presiden yang akan bertarung justru harus menarik jarak sejauh mungkin dari Jokowi. Calon presiden harus menjadi anti-tesa Jokowi.<\/p>\n<p>Maka disusunlah strategi calon presiden dengan mengambil isu \u2018Melanjutkan\u2019 atau \u2018Meneruskan\u2019 jika Jokowi masih populer. Sebaliknya, jika presiden sekarang tidak populer, maka yang kita angkat adalah isu \u2018Perubahan\u2019 atau \u2018Penyegaran\u2019, \u2018Anti-tesa\u2019.<\/p>\n<p>\u201cDi sinilah kesalahan fatal dari tim Anies Baswedan, jika dilihat dari sisi probabilitas menang dan kalah dalam pilpres. Meski sang capres Anies Baswedan bekerja begitu keras, begitu hebat orasinya, dan programnya, tapi jika kerangka strategi makronya ditancapkan pada desain yang salah, maka ujung dari pilpres hanyalah kekalahan,\u201d urai dia.<\/p>\n<p>Ini yang terjadi pada tim Anies Baswedan. Mereka mengibarkan isu perubahan ketika presiden sekarang begitu populer. Ibarat pondasi rumah, meskipun tim Anies sangat efektif menghias interiornya, sebaik mungkin dan detail mengecat rumah, dengan aksesori yang artistik, tapi karena fondasi rumahnya ada pada tanah yang salah, yang rapuh, maka rumah itu roboh juga. (aha)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, fornews.co &#8211; Kesalahan fatal dari tim calon presiden (capres) nomor urut 01, Anies Baswedan, pada Pilpres 2024 ini dinilai karena mereka merancang strategi politik yang mustahil untuk menang. Menurut pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, bahwa tim dari capres 01 tersebut sudah salah sejak langkah pertama. Namun, tentu saja ini tidak dilakukan secara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":84826,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[1,6],"tags":[10721,26415,26209,26210,22727],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/03\/gambar-Anies-Baswedan.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-m49","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84825"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84825"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84825\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84827,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84825\/revisions\/84827"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84825"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84825"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84825"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}