
{"id":85423,"date":"2024-04-29T14:11:38","date_gmt":"2024-04-29T07:11:38","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=85423"},"modified":"2024-04-29T14:11:38","modified_gmt":"2024-04-29T07:11:38","slug":"kundha-kabudayan-jogja-lestarikan-bahasa-dan-sastra-jawa-melalui-pawiyatan-pranatacara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/kundha-kabudayan-jogja-lestarikan-bahasa-dan-sastra-jawa-melalui-pawiyatan-pranatacara\/","title":{"rendered":"Kundha Kabudayan Jogja Lestarikan Bahasa dan Sastra Jawa melalui Pawiyatan Pranatacara"},"content":{"rendered":"<p><strong>JOGJA, fornews.co<\/strong> &#8212; Sastra Jawa menjadi salah satu cara melestarikan Bahasa Jawa. Namun, kekhawatiran terhadap Bahasa Jawa akan musnah jika masyarakat sendiri malu terhadap bahasanya.<\/p>\n<p>Mengamati gejolak buruk tersebut Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogjakarta melalui Seksi Bahasa Sastra menggelar Pawiyatan Panatacara untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan bahasa dan sastra Jawa.<\/p>\n<p>Dengan menggelar Pawiyatan Panatacara masyarakat dapat memahami pentingnya Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Ini sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk terus peduli terhadap Bahasa Jawa (bahasa ibu) sekaligus memperkaya khasanah budaya Indonesia melalui seni panatacara.<\/p>\n<p>Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogjakarta, Yetti Martanti, S.Sos., M.M pada Rabu lalu, 24 April 2024.<\/p>\n<p>Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Jogja itu dilaksanakan secara intensif setiap Rabu malam selama 16 kali pertemuan.<\/p>\n<p>Pawiyatan Panatacara digelar tanggal 24 April hingga 7 Agustus 2024 di Taman Budaya Embung Giwangan, Kota Jogja.<\/p>\n<p>&#8220;Ini salah satu wujud nyata pemerintah dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan lokal khususnya Bahasa dan Sastra Jawa,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Pawiyatan Panatacara yang digelar setiap tahun itu kali ini memberikan kesempatan bagi warga ber-KTP Kota Jogja laki-laki dan perempuan dengan usia maksimal 45 tahun dan berkomitmen mengikuti program hingga selesai yang disertai surat pernyataan.<\/p>\n<p>Penyelenggara meloloskan 20 peserta dari ratusan pendaftar yang diseleksi memenuhi kriteria sudah ditentukan.<\/p>\n<p>Sebagian peserta bahkan memiliki latar belakang sebagai praktisi panatacara atau pambagyaharja pemula yang sudah terbiasa menjadi pembawa acara di<br \/>\nkampungnya.<\/p>\n<p>Menyemangati para peserta pihak penyelenggara turut menghadirkan pranatacara terkemuka di Jogja seperti Faizal Noor Singgih dari Paguyuban Panatacara DIY dan Tri Handoko Putro dari Paguyuban Panatacara Jogja sebagai narasumber.<\/p>\n<p>Selama pertemuan tiap pekan para peserta juga mempraktikan pranatacara dengan metode berceramah atau berpidato dalam berbahasa Jawa.<\/p>\n<p>Peserta akan dibekali<br \/>\nmateri seputar sangune panatacara, dasar panatacara, busana, panatacara umum dan pambagyaharja, bab lamaran, bab manten, boyong manten, lelayu atau sripah.<\/p>\n<p>Harapannya, peserta dapat mengambil manfaat sebanyak mungkin dari program ini yang kemudian diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n<p>Selain itu, kemampuan berbicara di depan umum, mengatur acara<br \/>\ndengan baik, dan membangun interaksi positif dengan siapapun menjadi keterampilan yang sangat berharga dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Selain mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa Jawa, terang Yetti, menjadi seorang panatacara atau MC juga memiliki nilai penting dalam konteks sosial kemasyarakatan.<\/p>\n<p>\u201cMenjadi seorang panatacara juga dapat membuka peluang kerja yang luas, baik sebagai MC acara formal maupun informal, sehingga memberikan kontribusi yang nyata bagi kemajuan karier dan penghidupan,\u201d pungkas Yetti. (<strong>adam<\/strong>)<\/p>\n<p>Copyright \u00a9 Fornews.co 2023. All rights reserved.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JOGJA, fornews.co &#8212; Sastra Jawa menjadi salah satu cara melestarikan Bahasa Jawa. Namun, kekhawatiran terhadap Bahasa Jawa akan musnah jika masyarakat sendiri malu terhadap bahasanya. Mengamati gejolak buruk tersebut Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogjakarta melalui Seksi Bahasa Sastra menggelar Pawiyatan Panatacara untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan bahasa dan sastra Jawa. Dengan menggelar Pawiyatan Panatacara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":85424,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[9437,26670,26671,26669],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/04\/2024-04-29-13.59.07.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-mdN","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85423"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85423"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85423\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85425,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85423\/revisions\/85425"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85424"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85423"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85423"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85423"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}