
{"id":85734,"date":"2024-06-01T03:33:54","date_gmt":"2024-05-31T20:33:54","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=85734"},"modified":"2024-06-01T11:58:05","modified_gmt":"2024-06-01T04:58:05","slug":"pertempuran-sengit-di-sumberagung-delapan-warga-moyudan-gugur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/pertempuran-sengit-di-sumberagung-delapan-warga-moyudan-gugur\/","title":{"rendered":"Pertempuran Sengit di Sumberagung Delapan Warga Moyudan Gugur"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\"><b>fornews.co<\/b> \u2013 Agresi Militer II di Jogjakarta, Belanda membombardir Sumberagung, Moyudan, Sleman\u2014tak luput bandara Adisutjipto, Maguwo\u2014diratakan.<\/span><\/span><\/p>\n<p>\u201c<span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Waktu itu saya masih kecil. Kami mengira ada tontonan. Tak tahunya itu serangan Belanda dari pesawat,\u201d kata Endie Soesenin mengenang peristiwa 19 Desember 1948.<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/fornews.co\/news\/peristiwa-heroik-pejuang-pemuda-rejodani\/\">Peristiwa Heroik Pejuang Pemuda Rejodani<\/a><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Kala itu usia Senin belum genap 10 tahun. Tapi, masih ingat betul langit yang cerah berubah mendung setelah pesawat-pesawat Belanda membombardir desanya di Moyudan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Belasan pesawat tempur Belanda menderu-deru bagaikan capung raksasa memuntahkan tembakannya ke berbagai objek.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Belanda yang mengetahui adanya pasukan gerilya di Moyudan mengira Sumberagung dijadikan markas.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Sejumlah bangunan yang diduga menjadi gudang persenjataan milik pasukan gerilya hancur dimortir.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Pasukan gerilya di bawah komando Letnan Soeharto atas perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman itu kemudian bertempur sengit.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Mata-mata Belanda membocorkan adanya rombongan pasukan gerilya dari Siliwangi yang berjalan kaki dari arah Purworejo menuju Jogjakarta.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Tentara Siliwangi yang secara berkala datang dari arah Barat diketahui Belanda sehingga Sumberagung menjadi daerah operasi militer.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Tetapi, warga Moyudan hafal betul kapan serdadu Belanda berpatroli di daerahnya. Maka, lintasan jalur patroli Belanda dihancurkan oleh warga.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Lintasan jalan yang sering dilalui patroli serdadu Belanda itu kemudian dirusak. Dibuat lubang-lubang curam sehingag kendaraan berat terperosok dan terjebak.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Lubang-lubang besar yang dibuat warga itu cukup membuat serdadu Belanda kerepotan. Dengan mudah serdadu Belanda yang berpatroli digempur dari berbagai sisi.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Merasa kecolongan karena selalu diserang saat berpatroli, Belanda kemudian mengirimkan belasan pesawat tempur jenis bomber, jager dan fighter menghujani Sumberagung dengan mortir.<\/span><\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_85736\" aria-describedby=\"caption-attachment-85736\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-85736\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-3.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"707\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-3.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-3-300x212.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-3-768x543.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-3-120x86.jpg 120w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-3-750x530.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-85736\" class=\"wp-caption-text\">SEORANG pesepeda melintas Jalan Ngapak &#8211; Kentheng melewati Kantor Kelurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, DIY. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Peristiwa pertempuran di Sumberagung itu menewaskan 8 warga Moyudan yang kemudian diabadikan pada monumen pahlawan di halaman Kantor Kelurahan Sumberagung.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Kedelapan pahlawan yang gugur dalam pertempuran di Sumberargung tersebut yaitu Temuharjono, Basiran, Kasandikromo, Kasandinomo, Topawiro, Buang, Giyo, dan Sandiman.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Monumen pahlawan yang dibangun sekira tahun 1970-an tersebut dijadikan <i>tetenger <\/i>atau<i> <\/i>penanda bagian dari perang Agresi Militer Belanda II di Moyudan.<\/span><\/span><\/p>\n<p>\u201c<span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Dulunya sejumlah bangunan tua di sini ditempati oleh tentara Belanda,\u201d kata Aris warga Sumberagung yang rumahnya pernah menjadi langganan tempat istirahat bagi pasukan Siliwangi.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Pada 19 Desember 1948, ketika Agresi Militer II meletus, Belanda mendirikan pos pertahanan di Klangon dan Padon beberapa kilometer di Barat Godean.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Sebelum peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949, pasukan Siliwangi berdatangan ke Jogja membantu para pejuang yang terlebih dahulu berada di Ibu Kota Negara.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Jogja yang pada waktu itu berstatus Ibu Kota Negara diduduki Belanda agar PBB percaya bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak ada.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Namun, faktanya Tentara Nasional Indonesia masih ada meski PBB pada waktu lebih percaya kepada Belanda. <\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Baca :\u00a0<a href=\"https:\/\/fornews.co\/news\/asal-usul-dibuat-monumen-medan-laga-rejodani-tp-be-17\/\">Asal-usul Dibuat Monumen Medan Laga Rejodani TP BE-17<\/a>\u00a0<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Tetapi belum diketahui pasti sejumlah bangunan Belanda di Sumberagung itu digunakan sebagai kantor atau barak tentara.<\/span><\/span><\/p>\n<p>\u201c<span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Setahu saya, bangunan tua yang ada di Sumberagung beberapa di antaranya digunakan untuk barak tentara Belanda,\u201d kata Senin.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Senin yang saat ini masih aktif di Pepabri Moyudan adalah mantan prajurit yang pernah ditugaskan mempertahankan NKRI bagian Timur di bawah pimpinan Yos Sudarso.<\/span><\/span><\/p>\n<p>\u201c<span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Jadi kami tidak menyangka pesawat-pesawat Belanda membombardir Sumberagung secara tiba-tiba,\u201d kata Senin mengenang masa kecilnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Meski masih ingat, namun, hanya sebagian peristiwa yang diceritakan. Tidak semua kejadian terekam olehnya. Senin berlompat-lompat dalam bercerita.<\/span><\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_85737\" aria-describedby=\"caption-attachment-85737\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-85737\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-2.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"707\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-2.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-2-300x212.jpg 300w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-2-768x543.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-2-120x86.jpg 120w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung-2-750x530.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-85737\" class=\"wp-caption-text\">ENDIE Soesenin mengenang peristiwa 19 Desember 1948 di desanya Sumberagung. (foto fornews.co\/adam)<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Tiger Berigade Belanda yang masuk ke Sumberagung dari arah Selatan kemungkinan setelah berpatroli di Sedayu, Bantul.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Pada Agresi Militer II, Belanda melakukan kejahatan perang yang tidak pernah diadili oleh PBB. Belanda justru hanya diminta angkat kaki dari Jogjakarta. Padahal, kata Senin, Belanda sudah kalah.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Serangan Umum 1 Maret 1949 mutlak mengalahkan Belanda tanpa syarat. Namun, kerajaan Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1945.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Dari kekalahan Belanda pada 1 Maret 1949 kemudian muncul ungkapan Jogja Kembali yang berarti Ibu Kota Negara telah kembali di pangkuan ibu pertiwi. (<b>adam<\/b>)<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: Arial, sans-serif\"><span style=\"font-size: large\">Copyright \u00a9 Fornews.co 2023. All rights reserved. <\/span><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>fornews.co \u2013 Agresi Militer II di Jogjakarta, Belanda membombardir Sumberagung, Moyudan, Sleman\u2014tak luput bandara Adisutjipto, Maguwo\u2014diratakan. \u201cWaktu itu saya masih kecil. Kami mengira ada tontonan. Tak tahunya itu serangan Belanda dari pesawat,\u201d kata Endie Soesenin mengenang peristiwa 19 Desember 1948. Baca:\u00a0Peristiwa Heroik Pejuang Pemuda Rejodani Kala itu usia Senin belum genap 10 tahun. Tapi, masih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":85735,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"spay_email":""},"categories":[10913],"tags":[26838,26836,26837,26835],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/06\/sumberagung.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-miO","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85734"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85734"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85734\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85744,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85734\/revisions\/85744"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85735"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85734"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85734"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85734"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}