
{"id":86664,"date":"2024-08-14T11:04:05","date_gmt":"2024-08-14T04:04:05","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=86664"},"modified":"2025-05-23T14:25:30","modified_gmt":"2025-05-23T07:25:30","slug":"86664-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/86664-2\/","title":{"rendered":"Pameran Tunggal ke-18 Godod Sutejo &#8220;Manjing&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong>JOGJA, fornews.co<\/strong> &#8212; Pelukis asal Jogja, <strong>Godod Sutejo<\/strong>, kembali berpameran. Godod sudah saatnya manjing.<\/p>\n<p>&#8220;Melalui pameran tunggal yang ke-18 kalinya, boleh dikatakan, Godod sudah waktunya Manjing,&#8221; ungkap Yaksa Agus, kurator Pameran Tunggal Godod Sutejo.<\/p>\n<p>Pelukis yang selalu mengangkat tema lingkungan dan perdamaian diri tersebut akan menampilkan 27 lukisan dalam pameran tunggalnya di Sarang Building Blok II, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan Bantul, DIJ, hari ini Rabu, 14 Agustus 2024.<\/p>\n<p>Pameran bertajuk <em><strong>&#8220;Manjing&#8221;<\/strong><\/em> yang digelar hingga 31 Agustus 2024 akan dibuka langsung oleh Drs Subroto S.M., M.hum.<\/p>\n<p><strong>Yaksa<\/strong> menyebut Godod telah menjadi manjing ajur ajer sebagai bentuk konsistensi dalam kesenian yang dipilihnya sebagai seorang pelukis.<\/p>\n<p>Secara harfiah, <em>manjing ajur ajer<\/em> dapat diartikan kemampuan untuk masuk, melebur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa harus kehilangan prinsip dan jati dirinya sendiri.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-86669\" src=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/08\/layangan.jpg\" alt=\"\" width=\"1000\" height=\"1242\" srcset=\"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/08\/layangan.jpg 1000w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/08\/layangan-242x300.jpg 242w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/08\/layangan-824x1024.jpg 824w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/08\/layangan-768x954.jpg 768w, https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/08\/layangan-750x932.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/p>\n<p>Namun, pada pameran tunggalnya kali ini bukan sebagai refleksi kehidupan yang dijalani si pelukis, tetapi tentang perenungan yang mendalam.<\/p>\n<p>&#8220;Kontemplasi ritual dilakukan untuk menemukan arti hidup dan makna hidup dalam kehidupannya. Laku spiritual dengan pengembaraan batin ini menemukan <em>\u201cati\u201d<\/em> dalam berkaryanya,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p>Diakui Yaksa, karya-karya lukisan Godod memiliki ciri khas tersendiri. Lukisannya sering menggambarkan budaya arak-arakan. Sebuah arak-arakan baik dalam upacara tradisi maupun kegiatan keseharian masyarakat.<br \/>\nGodod begitu leluasa menghadirkan alam semesta dan kesejukan, keramahan, kesunyian, nglangut, dan seolah ada rasa ingin menceritakan luasnya jagat raya tidak terbatas.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/fornews.co\/news\/gerakkan-dinamika-kebudayaan-indonesia-di-srawung-jogja\/\">Gerakkan Dinamika Kebudayaan Indonesia di \u201cSrawung Jogja\u201d<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Godod yang menghabiskan masa kecilnya sejak dilahirkan di pegunungan tandus, terjal dan berbatu, telah akrab dengan alam dan tradisi masyarakat desa.<\/p>\n<p>Godod mengerti betul terhadap akar budayanya sehingga tidak mudah dirobohkan meski bagaikan pohon yang bercabang dengan buah lebat dan daun yang rindang.<\/p>\n<p>&#8220;Makna arak-arakan dalam budaya dan tradisi Jawa tidak berubah. Masih berlangsung dan lestari meski di tengah arus globalisasi,&#8221; kata Yaksa.<\/p>\n<p>Lukisan-lukisan Godod juga banyak memuat nilai-nilai sejarah dan budaya tradisi yang masih bisa ditemui hingga hari ini.<\/p>\n<p>Bahkan, Godod mampu memadukan teknologi dalam proses kesenirupaannya. Ketika menemukan hal baru justru memperkuat akar budayanya sendiri.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/fornews.co\/news\/pameran-lukisan-peringatan-100-hari-djoko-pekik-di-bentara-budaya-yogyakarta\/\">Pameran Lukisan Peringatan 100 Hari Djoko Pekik di Bentara Budaya Yogyakarta<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Sebagai maestro, Godod, telah melewati getir, perih, bahagia, berat dan ringan. Ia tidak lagi membedakan.<br \/>\nTetapi, karya-karya Godod lebih merujuk kepada &#8216;raos kasampurnan&#8217; yang tersembunyi dalam <em>\u201cati\u201d<\/em>-nya. Dalam hal ini Yaksa menyebut seni sebagai piwulang lan piweling untuk sesama.<\/p>\n<p>&#8220;Mengamati lukisan-lukisan Godod yang menyajikan manusia-manusia berukuran sangat kecil di tengah alam raya yang luas, sepi, dan nglangut itu menjadikan manusia bagaikan debu, kecil dan seolah tak berarti,&#8221; tulis Subroto dalam katalog &#8220;Menjing&#8221; pameran tunggal Godod Sutejo.<\/p>\n<p>Dari kacamata Subroto, lukisan Godod mempunyai pesan agar manusia sadar, rendah hati, dan jangan jumawa. Maka, jika manusia ingin bahagia mesti bisa menjaga kesatuan hidup yang harmonis dengan sesama, alam, Sang Pencipta langit, bumi, dan seisinya.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/fornews.co\/news\/lukisan-svarga-bhumi-dipajang-selama-sebulan-di-hotel-santika-gunungkidul\/\">Lukisan \u201cSvarga Bhumi\u201d Dipajang Selama Sebulan di Hotel Santika Gunungkidul<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Bertolak dari pengamatan terhadap gaya lukisan Godod Sutejo yang unik itu, Subroto, mengkritisi kebanyakan seniman yang mengabaikan gaya dalam proses seninya. Ia menyoalkan perihal sebuah gaya yang penting bagi seorang seniman.<\/p>\n<p>Sebenarnya kebanyakan seniman sering tidak mempedulikan apa pentingnya gaya. Tetapi, bagi siapa pun yang ingin mengenal dan mengapresiasi karya seni lebih mendalam, tak bisa mengelak memahami arti penting pengetahuan tentang gaya, secara khusus tentang gaya pribadi.<\/p>\n<p>&#8220;Maka saya, atau juga mungkin orang lain, punya kesan sama, yakni lukisan-lukisan Godod akan membawa penonton atau penikmatnya untuk berefleksi, merenung, atau berkontemplasi: betapa kecilnya manusia, makhluk tertinggi ini dihadapkan dengan alam raya yang demikian luas,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p><strong>Baca:\u00a0<a href=\"https:\/\/fornews.co\/news\/ganjis-pelukis-wajah-malioboro-yang-bertahan\/\">Ganjis Pelukis Wajah Malioboro yang Bertahan<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Gaya lukisan yang demikian unik tersebut, telah menjadi ciri khasnya dan menjadi kekuatan Godod dalam mengekspresikan ide-idenya di kanvas hingga hari ini.<\/p>\n<p>&#8220;Gunung Merapi dan laut adalah energi estetik yang tidak pernah habis. Keduanya adalah panorama besar dan keagungan alam yang menjadi poros pemandangan maupun simbol spirit masyarakat Yogyakarta. Energi inilah yang sering dipinjam pelukis Godod Sutejo,&#8221; kata Yaksa.<\/p>\n<p>Yaksa melihat karya-karya lukisan Godod menyimpan ritus sosial yang terkait erat dengan dunia metafisika. Melihat budaya arak-arakan yang dihadirkan Godod justru hadir bersama kesunyian dirinya.<\/p>\n<p>&#8220;Sebuah ciri khas yang menandai budaya Timur pada umumnya. Tetapi, hari ini dalam realita sosial sebuah akar budaya tradisi yang nyaris tidak dianggap menarik bagi para pelaku budaya, khususnya seni rupa,&#8221; tandasnya.<\/p>\n<h6><strong>Teks: A.S. Adam <\/strong>|<strong> Editor: A.S. Adam<\/strong><br \/>\nCopyright \u00a9 Fornews.co 2016-2025. All rights reserved.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JOGJA, fornews.co &#8212; Pelukis asal Jogja, Godod Sutejo, kembali berpameran. Godod sudah saatnya manjing. &#8220;Melalui pameran tunggal yang ke-18 kalinya, boleh dikatakan, Godod sudah waktunya Manjing,&#8221; ungkap Yaksa Agus, kurator Pameran Tunggal Godod Sutejo. Pelukis yang selalu mengangkat tema lingkungan dan perdamaian diri tersebut akan menampilkan 27 lukisan dalam pameran tunggalnya di Sarang Building Blok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":86665,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[27297,9437,28348],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2024\/08\/godod-headline.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-mxO","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86664"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86664"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86664\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":89323,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86664\/revisions\/89323"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86665"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86664"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86664"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86664"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}