
{"id":89007,"date":"2025-05-04T16:37:53","date_gmt":"2025-05-04T09:37:53","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=89007"},"modified":"2025-05-04T16:57:16","modified_gmt":"2025-05-04T09:57:16","slug":"w-s-rendra-dibalik-lagu-kantata-takwa-paman-doblang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/w-s-rendra-dibalik-lagu-kantata-takwa-paman-doblang\/","title":{"rendered":"W.S. Rendra Dibalik Lagu Kantata Takwa: Paman Doblang"},"content":{"rendered":"<p><strong>fornews.co<\/strong> &#8212; Penyerangan saat pembacaan sajak di <strong>Taman Ismail Marzuki<\/strong> (TIM) pada 1978 adalah teror yang memalukan bangsa. W.S. Rendra ditangkap tanpa pengadilan.<\/p>\n<p>Di tahun itu, Menteri P &amp; K <strong>Daud Yusuf<\/strong>, kepada wartawan di Jakarta pernah mengatakan tidak tepat bila untuk semua aktivitas kebudayaan pemerintah yang selalu mengatakan ini boleh dilakukan dan ini tidak.<\/p>\n<p>Rendra dilempar bom amoniak saat membacakan sajak di atas panggung. Karya-karyanya yang kritis membuat penguasa tercekat dan meradang.<\/p>\n<p>Pembacaan sajak yang dihadiri langsung oleh <strong>Hatta<\/strong>, <strong>Hugeng<\/strong>, dan <strong>Ali Sadikin<\/strong>, mendadak kacau.<\/p>\n<p>Banyak orang menduga pelemparan bom di TIM dilakukan oleh aparat yang diperintahkan untuk membungkam Rendra.<\/p>\n<p>Karya-karya sajak <strong>W.S. Rendra<\/strong> dituduh menghasut dan mengancam, sehingga berpotensi terhadap gejolak dan ketegangan sosial.<\/p>\n<p><em>&#8220;Saya bertanya, apakah saudara-saudara akan mundur?!&#8221;<\/em> kata <strong>Edi Haryono<\/strong> menirukan Rendra.<\/p>\n<p><em>&#8220;Tidak&#8230;!&#8221;<\/em> jawab serentak penonton yang hadir.<\/p>\n<p><em>&#8220;Ini forum penyair. Saya berdaulat atas forum ini. Kekacauan yang baru saja terjadi adalah teror. <\/em><em>Adalah unsur yang memalukan bangsa!&#8221;<\/em> lanjut Edi menirukan kekecewaan Rendra.<\/p>\n<p>Tiga hari kemudian pada Senin, 1 Mei, Rendra ditangkap. Diseret dan dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan meninggalkan anak dan istrinya.<\/p>\n<p>Sang <strong>&#8220;Burung Merak&#8221;<\/strong> itu dijebloskan ke <strong>Penjara Guntur<\/strong> tahanan militer di Jakarta Selatan.<\/p>\n<p>Tapi, Rendra tak kenal menyerah meski banyak tekanan, kata kerabatnya saat diwawancara Rosi di <em><strong>Kompas TV<\/strong><\/em>.<\/p>\n<p>Penjara yang gelap, sempit, lembab, dan pengap, tanpa lubang cahaya itu kerap pula disebut sel tikus.<\/p>\n<p>Di dalam sel tikus, Rendra didatangi sejumlah orang berperawakan besar. Namun, tidak ada yang tahu kisah sebenarnya: apa yang terjadi di sana?<\/p>\n<p>Selama di penjara Rendra mengeluh nasinya kasar. Sayurnya bening. Sehingga tidak bisa makan.<\/p>\n<p>Edi dan orang-orang terdekat Rendra hanya mengatakan, saat keluar dari penjara Rendra tampak berjalan pincang.<\/p>\n<p>Setelah peristiwa itu hampir bisa dipastikan tidak ada yang membicarakan kenyataan sosial dan budaya.<\/p>\n<p>Peristiwa pencekalan Rendra di TIM mengingatkan pada <strong>Jose Carosta<\/strong> yang ditangkap karena mementaskan sandiwara <em>Mastodon dan Burung Kondor<\/em>.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak ada yang membicarakan kenyataan dan yang sesungguhnya,&#8221; ungkap Edi orang terdekat Rendra.<\/p>\n<p>Sejak peristiwa itu, tulis <em><strong>Tempo<\/strong><\/em> (20\/5\/1978), penangkapan Rendra menjadi penting karena sekali lagi mengingatkan masalah kreasi kesenian, kebebasan dan pembatasan.<\/p>\n<p>Tanpa disadari W.S. Rendra menjadi simbol pemberontakan terhadap kemapanan, kata <strong>Putu Fajar Arcana<\/strong> wartawan Kompas yang akrab baik dengan Ken Zuraeda istri ketiga Rendra.<\/p>\n<p>&#8220;Sastra terlibat secara sosial dan politik dalam bernegara,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Keberaniannya berkesenian merupakan bentuk ketakutannya agar generasi muda tidak menemukan masa-masa buruk.<\/p>\n<p>Komentar yang menarik setelah kejadian muncul dari salah seorang anggota dewan yang menyebut: seniman yang tidak berani melancarkan kritik dan kontrol sosial, jangan jadi seniman. Jadi pedagang saja.<\/p>\n<p>Willibrordus Surendra Broto Narendra akrab dikenal W.S. Rendra yang lahir di Solo pada 7 November 1935 justru berproses di <strong>Jogjakarta<\/strong> sebelum <strong>Bengkel Teater<\/strong> pindah ke Depok.<\/p>\n<p>Rendra merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada (<strong>UGM<\/strong>).<\/p>\n<p>Di Jogja itulah, pada tahun 60-an ketika muncul <strong>Sastrawan Malioboro<\/strong>, W.S. Rendra dijuluki sebagai &#8220;Burung Merak&#8221;.<\/p>\n<p>Meski lebih sering berbicara tentang kegelisahannya terhadap generasi muda, peristiwa di TIM melahirkan sajak berjudul <em>&#8220;Paman Doblang&#8221;<\/em> yang di kemudian waktu menginspirasi <strong>Kantata Takwa<\/strong>.<\/p>\n<p>Selain Rendra, di Kantata Takwa terdapat tujuh personil bernama besar, sebut saja, <strong>Setiawan Djodi<\/strong>, <strong>Iwan Fals<\/strong>, <strong>Sawung Jabo<\/strong>, <strong>Yockie Suryoprayogo<\/strong>, <strong>Totok Tewel<\/strong>, <strong>Innisisri<\/strong>, dan <strong>Donny Fatah<\/strong>.<\/p>\n<p>Karya W.S. Rendra berjudul Paman Doblang tentang kritik sosial dan ketidakadilan menceritakan kegetirannya saat di penjara dan setelahnya.<\/p>\n<p>Berikut sajak &#8220;<em><strong>Paman Doblang&#8221;<\/strong><\/em> karya W.S. Rendra.<\/p>\n<p><em>Paman Doblang! Paman Doblang!<\/em><br \/>\n<em>Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.<\/em><br \/>\n<em>Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.<\/em><br \/>\n<em>Ada hawa. Tak ada angkasa.<\/em><br \/>\n<em>Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.<\/em><br \/>\n<em>Terkunci. Tak tahu kapan pintu akan terbuka.<\/em><br \/>\n<em>Kamu tak tahu di mana berada.<\/em><\/p>\n<p><em>Paman Doblang! Paman Doblang!<\/em><br \/>\n<em>Apa katamu?<\/em><br \/>\n<em>Ketika haus aku minum dari kaleng karatan.<\/em><br \/>\n<em>Sambil bersila aku mengarungi waktu lepas dari jam, hari dan bulan.<\/em><br \/>\n<em>Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk tidak berupa, tidak bernama.<\/em><br \/>\n<em>Aku istirah di sini.<\/em><br \/>\n<em>Tenaga gaib memupuk jiwaku.<\/em><\/p>\n<p><em>Paman Doblang! Paman Doblang!<\/em><br \/>\n<em>Di setiap jalan menghadang mastodon dan serigala.<\/em><br \/>\n<em>Kamu terkurung dalam lingkaran.<\/em><br \/>\n<em>Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana.<\/em><br \/>\n<em>Kaki kamu dirantai ke batang karang.<\/em><br \/>\n<em>Kamu dikutuk dan disalahkan.<\/em><br \/>\n<em>Tanpa pengadilan.<\/em><\/p>\n<p><em>Paman Doblang! Paman Doblang!<\/em><br \/>\n<em>Bubur di piring timah didorong dengan kaki ke depanmu.<\/em><br \/>\n<em>Paman Doblang, apa katamu?<\/em><br \/>\n<em>Kesadaran adalah matahari.<\/em><br \/>\n<em>Kesabaran adalah bumi.<\/em><br \/>\n<em>Keberanian menjadi cakrawala.<\/em><br \/>\n<em>Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.<\/em><\/p>\n<h6><strong>Teks: <\/strong><strong>A.S. Adam <\/strong>| <strong>Editor: A.S. Adam<\/strong><\/h6>\n<h6>Copyright \u00a9 Fornews.co 2016-2025. All rights reserved.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>fornews.co &#8212; Penyerangan saat pembacaan sajak di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1978 adalah teror yang memalukan bangsa. W.S. Rendra ditangkap tanpa pengadilan. Di tahun itu, Menteri P &amp; K Daud Yusuf, kepada wartawan di Jakarta pernah mengatakan tidak tepat bila untuk semua aktivitas kebudayaan pemerintah yang selalu mengatakan ini boleh dilakukan dan ini tidak. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":89008,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[10913],"tags":[28253,28251,28252,28250],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2025\/05\/01-Kantata-Takwa-W-S-Rendra-Sajak-12-Mei-1998-Live-at-Trisakti.mp4_snapshot_03.44.918.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-n9B","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89007"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89007"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89007\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":89014,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89007\/revisions\/89014"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89008"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89007"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89007"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89007"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}