
{"id":90651,"date":"2025-10-17T13:05:39","date_gmt":"2025-10-17T06:05:39","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=90651"},"modified":"2025-10-17T13:11:31","modified_gmt":"2025-10-17T06:11:31","slug":"orasi-hari-kebudayaan-nasional-fadli-zon-bukanlah-akhir-dari-perjalanan-panjang-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/orasi-hari-kebudayaan-nasional-fadli-zon-bukanlah-akhir-dari-perjalanan-panjang-bangsa\/","title":{"rendered":"Orasi Hari Kebudayaan Nasional, Fadli Zon: Bukanlah Akhir dari Perjalanan Panjang Bangsa"},"content":{"rendered":"<p><strong>JOGJA, fornews.co<\/strong> &#8212; Di tengah gempuran globalisasi dan derasnya arus budaya populer, Indonesia mengambil langkah berani menjadikan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional (HKN).<\/p>\n<p>17 Oktober bukan sekadar penanda baru dalam kalender kenegaraan, namun, refleksi mendalam atas jati diri bangsa menjadi sebuah ajakan untuk kembali meneguhkan makna \u201cBhinneka Tunggal Ika\u201d di era yang serba terfragmentasi.<\/p>\n<p>Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Kebudayaan <strong>Fadli Zon<\/strong> pada pertengahan Juli 2025 lalu.<\/p>\n<p>Dalam orasinya, Fadli menegaskan bahwa penetapan HKN tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi, tetapi juga menempatkan kebudayaan sebagai strategi pembangunan nasional.<\/p>\n<p>\u201cBhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, tetapi filosofi hidup bangsa yang mencerminkan kekayaan budaya, toleransi, dan persatuan dalam keberagaman,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Banyak yang tidak mengetahui gagasan ini justru berawal dari Jogjakarta, tanah yang sejak lama dikenal sebagai pusat denyut kebudayaan.<\/p>\n<p>Pada Januari 2025, sekelompok seniman, budayawan, dan akademisi membentuk Tim 9 Garuda Plus antara lain <strong>Rahadi Saptoto Abro<\/strong>, <strong>Yati Pesek<\/strong>, <strong>Achmad Charis Zubair<\/strong>, <strong>Esti Wuryani<\/strong>, dan <strong>Nano Asmorondono<\/strong>.<\/p>\n<p>Mereka mengusulkan agar tanggal 17 Oktober dijadikan Hari Kebudayaan Nasional, karena bertepatan dengan pengesahan Lambang Negara Garuda <strong>Pancasila<\/strong> melalui Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951.<\/p>\n<p>Usulan tersebut kemudian disampaikan ke Kementerian Kebudayaan dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk Komite III DPD RI Jogjakarta.<\/p>\n<p>Setelah serangkaian diskusi dan kajian, pemerintah menyetujuinya secara resmi.<\/p>\n<p>\u201cPenetapan ini adalah hasil gotong royong antara pemerintah dan masyarakat budaya. Kini, tugas kita adalah menjadikannya gerakan nasional yang hidup, bukan hanya seremoni tahunan,\u201d kata Fadli Zon.<\/p>\n<p>Menteri Kebudayaan itu mengatakan bahwa makna 17 Oktober bukan hanya historis, tetapi juga filosofis.<\/p>\n<p>&#8220;Pada tanggal itulah, Presiden Soekarno menandatangani PP No. 66 Tahun 1951 yang menetapkan Garuda Pancasila dan semboyan \u201cBhinneka Tunggal Ika\u201d sebagai lambang negara,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Semboyan yang berasal dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular \u201cTan hana dharma mangrwa\u201d tidak ada kebenaran mendua yang menjadi simbol penyatuan bangsa di tengah keragaman budaya, suku, dan agama.<\/p>\n<p>Kini, setelah 74 tahun, semangat itu dihidupkan kembali. Hari Kebudayaan Nasional dimaksudkan sebagai pengingat bahwa kebudayaan adalah perekat utama bangsa, bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan panduan moral untuk masa depan.<\/p>\n<p>Ada tiga pilar yang melandasi penetapan <strong>Hari Kebudayaan Nasional<\/strong>.<\/p>\n<p>Pertama, penguatan identitas nasional yang mengingatkan rakyat Indonesia bahwa kebudayaan adalah fondasi kesatuan bangsa.<\/p>\n<p>Kedua, pelestarian dan pemanfaatan budaya yang menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan diplomasi budaya.<\/p>\n<p>Kemudian yang ketiga, pendidikan dan inspirasi generasi muda untuk menanamkan kesadaran budaya sejak dini agar generasi muda tumbuh berakar kuat dalam nilai-nilai kebangsaan.<\/p>\n<p>\u201cIni bukan hanya tentang sejarah, tapi tentang masa depan Indonesia yang beradab, berkarakter, dan bermartabat,\u201d tegas Fadli.<\/p>\n<p>Langkah ini juga menandai pergeseran besar dalam paradigma kebijakan budaya nasional&#8211;dari yang bersifat simbolik menjadi strategik.<\/p>\n<p>Kini budaya ditempatkan sejajar dengan politik dan ekonomi sebagai pilar pembangunan.<\/p>\n<p>Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, budaya berfungsi sebagai jangkar bangsa untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan.<\/p>\n<p>Maka, ujar Menbud Fadli, Pemerintah berharap Hari Kebudayaan Nasional dapat menjadi momentum untuk mengarusutamakan nilai-nilai budaya di berbagai sektor mulai dari pendidikan, tata kelola publik, pariwisata, hingga ekonomi kreatif.<\/p>\n<p>\u201cBudaya adalah penuntun moral bangsa. Ia mengajarkan kita bagaimana hidup bersama dalam perbedaan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Hari Kebudayaan Nasional bukanlah akhir dari perjalanan panjang bangsa, melainkan awal dari kesadaran baru bahwa kemajuan sejati tidak bisa dilepaskan dari akar budayanya sendiri.<\/p>\n<p>Sebagaimana Garuda yang membentangkan sayapnya di atas semboyan Bhinneka Tunggal Ika, peringatan ini menjadi ajakan untuk menatap masa depan dengan kebanggaan pada warisan leluhur.<\/p>\n<p>&#8220;Karena sejatinya, masa depan Indonesia hanya akan sekuat kemampuannya menjaga budayanya,&#8221; pungkas Menbud Fadli Zon.<\/p>\n<h6>Ikuti Berita dan Artikel lain di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\"><strong>Google News<\/strong><\/a><\/h6>\n<h6><strong>Reporter: A.S. Adam<\/strong> | <strong>Editor: A.S. Adam<\/strong><br \/>\nCopyright \u00a9 Fornews.co 2016-2025. All rights reserved.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JOGJA, fornews.co &#8212; Di tengah gempuran globalisasi dan derasnya arus budaya populer, Indonesia mengambil langkah berani menjadikan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional (HKN). 17 Oktober bukan sekadar penanda baru dalam kalender kenegaraan, namun, refleksi mendalam atas jati diri bangsa menjadi sebuah ajakan untuk kembali meneguhkan makna \u201cBhinneka Tunggal Ika\u201d di era yang serba terfragmentasi. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":90652,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[17463,28870,28871,28356,28872],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2025\/10\/Peringatan-Hari-Kebudayaan-2025-4.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-nA7","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90651"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90651"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90651\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":90654,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90651\/revisions\/90654"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/90652"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90651"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90651"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90651"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}