
{"id":91893,"date":"2026-02-09T14:33:31","date_gmt":"2026-02-09T07:33:31","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=91893"},"modified":"2026-02-09T14:33:31","modified_gmt":"2026-02-09T07:33:31","slug":"kampung-miliran-merawat-identitas-jawa-lewat-ngampem-bareng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/kampung-miliran-merawat-identitas-jawa-lewat-ngampem-bareng\/","title":{"rendered":"Kampung Miliran Merawat Identitas Jawa lewat \u201cNgampem Bareng\u201d"},"content":{"rendered":"<p><strong>JOGJA, fornews.co<\/strong> &#8212; Di Kampung Miliran, Muja Muju, Umbulharjo, ruwahan tidak hanya dimaknai sebagai penanda datangnya Ramadan. Namun, sebagai bahasa kebudayaan tentang cara orang Jawa membaca waktu, merawat hubungan, dan menata harmoni sosial.<\/p>\n<p>Tradisi ruwahan dalam kebudayaan Jawa berakar pada nilai <em>eling lan waspada<\/em> yakni mengingat asal-usul, membersihkan batin, serta menyiapkan diri menyongsong fase baru kehidupan.<\/p>\n<p>Di Miliran, nilai itu tidak dibiarkan menjadi ritual pasif, melainkan dipresentasikan ulang melalui kirab, gunungan apem, busana adat, dan doa lintas iman.<\/p>\n<p>Gunungan apem, kirab budaya ruwahan bertajuk <em>\u201cNgampem Bareng\u201d<\/em> yang digelar warga di kawasan Lahan Laudatosi pada <em>Ahad<\/em>, 8 Februari, menjadi pusat simbol.<\/p>\n<p>Dalam kosmologi Jawa, apem berasal dari kata afwan atau ampunan, yang menandai upaya manusia membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci.<\/p>\n<p>Ketika apem disusun menjadi gunungan dan diarak bersama, tidak hanya menjadi makanan, tetapi metafora kebudayaan tentang kerendahan hati dan keseimbangan hidup.<\/p>\n<p>Kirab dikawal Bregada Wira Praja Manggala serta barisan warga yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah Nusantara.<\/p>\n<p>Kehadiran busana lintas etnis itu menegaskan karakter budaya Jawa yang inklusif terbuka menyerap unsur luar tanpa kehilangan jati diri.<\/p>\n<p>Prosesi doa lintas agama sebelum pembagian gunungan memperlihatkan bagaimana kebudayaan bekerja sebagai ruang temu.<\/p>\n<p>Dalam perspektif budaya, toleransi menjadi sikap moral, atau praktik sosial yang diwujudkan melalui simbol, gestur, dan ritus bersama.<\/p>\n<p>Ketua Panitia, <strong>Herry Santoso Wibowo<\/strong>, menyebut <em>\u201cNgampem Bareng\u201d<\/em> sebagai upaya nguri-uri kabudayan di tengah masyarakat yang terus berubah.<\/p>\n<p>Menurutnya, ruwahan bukan hanya peristiwa kalender, tetapi sarana membangun kesadaran kolektif.<\/p>\n<p>\u201cBudaya Jawa mengajarkan kebersamaan dan rasa syukur. Kami mencoba merawat itu lewat kirab agar tidak hilang di tengah modernisasi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kata Herry, kirab sudah berlangsung tiga kali dan terus berkembang menjadi ruang ekspresi budaya warga.<\/p>\n<p>Anak-anak, orang tua, tokoh agama, hingga komunitas seni terlibat dalam satu panggung sosial, jelasnya. Di sinilah kebudayaan bekerja menghubungkan generasi, memori, dan identitas lokal.<\/p>\n<p>Wakil Wali Kota Jogja, <strong>Wawan Harmawan<\/strong>, yang hadir, melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan kota.<\/p>\n<p>Ia menyebut pelestarian tidak cukup hanya menyimpan tradisi, tetapi menghidupkannya dalam praktik sehari-hari.<\/p>\n<p>\u201cBudaya harus dipelajari, dijalani, dan diwariskan. Kirab seperti ini membuat nilai Jawa tidak hanya dipamerkan, tapi dialami bersama,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Wawan menilai Kampung Miliran telah menjadikan kebudayaan sebagai modal sosial, bukan sekadar tontonan. Ketika masyarakat terlibat langsung, budaya berubah dari artefak menjadi perilaku.<\/p>\n<p>Di tengah arus globalisasi yang sering mereduksi tradisi menjadi sekadar festival, Miliran memilih jalan lain dengan menjadikan ruwahan sebagai ruang refleksi kultural. Dari apem, kirab, hingga doa lintas iman, warga menyusun ulang pesan lama dengan cara baru.<\/p>\n<p>Dengan demikian, \u201cNgampem Bareng\u201d tidak hanya menjadi acara tahunan, namun juga proses kebudayaan terhadap tempat nilai Jawa tentang harmoni, kesederhanaan, dan kebersamaan terus dinegosiasikan agar tetap relevan di kehidupan kota yang kian modern.<\/p>\n<h6>Ikuti Berita dan Artikel lain di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\"><strong>Google News<\/strong><\/a><\/h6>\n<h6><strong>Teks: A.S. Adam <\/strong>|<strong> Editor: A.S. Adam<\/strong><br \/>\nCopyright \u00a9 Fornews.co 2016-2026. All rights reserved.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JOGJA, fornews.co &#8212; Di Kampung Miliran, Muja Muju, Umbulharjo, ruwahan tidak hanya dimaknai sebagai penanda datangnya Ramadan. Namun, sebagai bahasa kebudayaan tentang cara orang Jawa membaca waktu, merawat hubungan, dan menata harmoni sosial. Tradisi ruwahan dalam kebudayaan Jawa berakar pada nilai eling lan waspada yakni mengingat asal-usul, membersihkan batin, serta menyiapkan diri menyongsong fase baru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":91887,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[641],"tags":[27963,29363,10604,27998],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/02\/Apeman-Miliran.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-nU9","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91893"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91893"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91893\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":91894,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91893\/revisions\/91894"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91893"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91893"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91893"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}