
{"id":91897,"date":"2026-02-09T14:51:41","date_gmt":"2026-02-09T07:51:41","guid":{"rendered":"https:\/\/fornews.co\/news\/?p=91897"},"modified":"2026-02-09T14:56:20","modified_gmt":"2026-02-09T07:56:20","slug":"surabaya-meraih-predikat-kota-layak-anak-satu-satunya-anggota-cfci-unicef-dari-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fornews.co\/news\/surabaya-meraih-predikat-kota-layak-anak-satu-satunya-anggota-cfci-unicef-dari-indonesia\/","title":{"rendered":"Surabaya Meraih Predikat Kota Layak Anak, Satu-satunya Anggota CFCI UNICEF dari Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><strong>SURABAYA, fornews.co<\/strong> &#8212; Surabaya melangkah ke panggung global dalam <strong>Tokyo Global Forum on Children (TGFC) 2026<\/strong> di Jepang, 4\u20136 Februari 2026.<\/p>\n<p>Dari puluhan kota dunia yang tergabung dalam jejaring <strong>Child Friendly Cities Initiative (CFCI) UNICEF<\/strong>, <strong>Surabaya<\/strong> tampil sebagai satu-satunya wakil Indonesia duduk sejajar dengan kota-kota rujukan seperti New York, London, Berlin, Toronto, hingga Singapura.<\/p>\n<p>Bagi banyak kota, kebijakan tentang anak berhenti di angka dan indikator. Namun bagi Surabaya, isu anak justru dijadikan pintu masuk untuk membangun wajah kota masa depan.<\/p>\n<p>Apa yang dibawa Surabaya ke Tokyo?<\/p>\n<p>Bukan cerita sukses seremonial, melainkan cara kerja kota tentang bagaimana layanan publik disusun mengikuti fase tumbuh anak, dari usia dini, sekolah, hingga remaja, serta bagaimana keluarga dan komunitas dilibatkan sebagai fondasi pengasuhan.<\/p>\n<p>Kepala Bappeda Surabaya, <strong>Irvan Wahyudrajad<\/strong>, dalam keterangan <em>siaran pers<\/em> menyebut forum ini sebagai ruang belajar dua arah. Surabaya tidak hanya berbagi, tetapi juga menguji kebijakannya di hadapan praktik global.<\/p>\n<p>\u201cForum ini membuat Surabaya berada dalam percakapan internasional tentang masa depan kebijakan anak dan remaja,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam forum, Ketua Tim Pembangunan Manusia Bappeda Surabaya, <strong>Puspita Ayuningtyas Prawesti<\/strong>, memaparkan bahwa Surabaya membangun kota ramah anak melalui layanan yang dekat dengan warga mulai dari pendidikan, kesehatan, kesehatan mental, perlindungan sosial, penguatan karakter, hingga ruang partisipasi yang tumbuh dari tingkat RW.<\/p>\n<p>Alih-alih menempatkan anak sebagai penerima manfaat, Surabaya menggeser posisi anak menjadi mitra pembangunan. Aspirasi mereka dihimpun, diuji, dan diterjemahkan ke dalam kebijakan kota.<\/p>\n<p>Pendekatan ini mendapat perhatian peserta TGFC karena banyak kota dunia kini menghadapi persoalan serupa seperti tekanan psikologis remaja, keterputusan sosial, serta ruang kota yang makin tidak bersahabat bagi anak.<\/p>\n<p>Surabaya dinilai mampu menjawabnya lewat basis komunitas, bukan semata program birokrasi. Namun, panggung global juga membuka ruang refleksi. Kota ramah anak bukan label permanen.<\/p>\n<p>Digitalisasi, urbanisasi cepat, dan kompetisi sosial bisa menciptakan bentuk kerentanan baru bagi generasi muda. Tanpa adaptasi kebijakan, keunggulan hari ini bisa kehilangan relevansinya.<\/p>\n<p>Yang membuat kehadiran Surabaya di Tokyo berbeda adalah keterlibatan langsung anak. Sebut saja <strong>Revalina Fernanda<\/strong>, siswi SMPN 1 Surabaya dan anggota Forum Anak Surabaya.<\/p>\n<p>Mereka ikut menyuarakan pengalamannya tentang ruang aman, pendidikan lingkungan, dan kesempatan anak terlibat dalam pengambilan keputusan kota.<\/p>\n<p>Keberadaan Revalina menandai pergeseran penting terhadap diplomasi kota tidak lagi hanya dilakukan pejabat, tetapi juga oleh warga termudanya.<\/p>\n<p>Rekam jejak Surabaya untuk ketujuh kalinya meraih predikat Kota Layak Anak dan menjadi satu-satunya anggota CFCI UNICEF dari Indonesia.<\/p>\n<p>Tetapi TGFC 2026 juga menjadi pengingat bahwa pengakuan global harus dibarengi keberanian lokal untuk terus memperbaiki sistem.<\/p>\n<p>Surabaya kini berada pada fase transisi dari kota yang \u201cramah anak\u201d secara administratif, menuju kota yang menempatkan anak sebagai pusat perencanaan.<\/p>\n<p>Partisipasinya di Tokyo bukan soal membawa nama Indonesia ke luar negeri, tetapi membawa pulang pertanyaan penting bagaimana memastikan setiap kebijakan kota benar-benar berpihak pada masa depan generasi muda, bukan hanya memenuhi indikator.<\/p>\n<p>Jika berhasil menjawabnya, Surabaya telat ikut membentuk arah pembangunan kota yang lebih manusiawi&#8211;tidak hanya hadir di forum dunia&#8211;tetapi dimulai dari suara anak-anaknya sendiri.<\/p>\n<h6>Ikuti Berita dan Artikel lain di <a href=\"https:\/\/news.google.com\/publications\/CAAqJAgKIh5DQklTRUFnTWFnd0tDbVp2Y201bGQzTXVZMjhvQUFQAQ?hl=id&amp;gl=ID&amp;ceid=ID%3Aid\"><strong>Google News<\/strong><\/a><\/h6>\n<h6><strong>Teks: A.S. Adam <\/strong>|<strong> Editor: A.S. Adam<\/strong><br \/>\nCopyright \u00a9 Fornews.co 2016-2026. All rights reserved.<\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA, fornews.co &#8212; Surabaya melangkah ke panggung global dalam Tokyo Global Forum on Children (TGFC) 2026 di Jepang, 4\u20136 Februari 2026. Dari puluhan kota dunia yang tergabung dalam jejaring Child Friendly Cities Initiative (CFCI) UNICEF, Surabaya tampil sebagai satu-satunya wakil Indonesia duduk sejajar dengan kota-kota rujukan seperti New York, London, Berlin, Toronto, hingga Singapura. Bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":91890,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"spay_email":""},"categories":[17],"tags":[29365,11480,24471,29367,29368,29366],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/fornews.co\/news\/inline\/2026\/02\/Surabaya-wakili-dunia.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8t7XB-nUd","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91897"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91897"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91897\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":91900,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91897\/revisions\/91900"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91890"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91897"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91897"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fornews.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91897"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}